Bagaimana prosedur yang penuh untuk IVF? Apa bedanya "bayi tabung" dengan surrogacy? Apakah keduanya itu sama?

Dilihat 23,8 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

     


Memiliki keturunan merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri. Kehamilan yang normal, sehat, anak yang lucu – merupakan momentum yang paling dinanti-nantikan. Namun, tak dapat dipungkiri, terkadang kenyataan tidak seindah harapan. Banyak pasangan yang telah menikah dalam kurun waktu tertentu, belum juga dikaruniai seorang anak.


Apapun faktor-faktor penyebab kehamilan yang dinanti belum kunjung tiba, satu hal yang pasti dokter akan memberikan solusi yang tepat untuk mengurai masalah tersebut. Salah satu opsi yang mungkin ditawarkan adalah mengikuti program bayi tabung. Bayi tabung atau yang dikenal dengan Fertilisasi In Vitro merupakan metode pembuahan yang dilakukan di luar tubuh wanita. Kemudian hasil pembuahan tersebut akan dikembalikan lagi ke dalam rahim, baik itu ke dalam rahim istri atau rahim pengganti (titipan). 


Rahim titipan? Ya, rahim titipan! Mungkin sebagian dari Anda banyak yang belum memahami istilah Surogasi ya ;). 


Lalu apa hubungan Surogasi dengan rahim titipan? Apa sih Surogasi itu? Nah, bagi Anda yang penasaran, wajib menyimak artikel ini sampai habis. Yuk kita ikuti!




Proses Fertilisasi



Sebelum dilakukan pembahasan lebih jauh, ada baiknya kita pahami dulu bagaimana proses fertilisasi terjadi, karena hal ini juga penting untuk diketahui oleh pasangan yang ingin memiliki keturunan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai fertilisasi.






Fertilisasi adalah proses terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma dan ditandai dengan bergabungnya inti kedua sel kelamin untuk membentuk zigot. Proses fertilisasi berlangsung di dalam oviduk (Tuba Falopii).  


Sebelum terjadi fertilisasi, terlebih dahulu terjadi proses percampuran antara suami dengan istri. Sperma masuk ke dalam saluran reproduksi wanita (vagina). Sebagai informasi, sperma yang dikeluarkan bisa mencapai 40-150 juta sel sperma yang siap membuahi, namun hanya satu yang berhasil masuk menembus sel telur, yang lainnya akan hancur oleh lendir yang terdapat di dalam uterus dan tuba falopii. 


Kemudian sperma melalui pergerakan ekornya akan bergerak cepat menuju uterus hingga oviduk (tuba fallopi). Di bagian atas oviduklah fertilisasi terjadi. Agar sel telur dapat dibuahi oleh sperma, maka sperma mengeluarkan enzim sehingga sel telur dapat ditembus oleh sperma. Proses penembusan tersebut memerlukan waktu tertentu. Setelah terjadi pembuahan, sel telur mengeluarkan senyawa yang berfungsi untuk mencegah sel sperma lain masuk.




Fertilisasi In Vitro




Lalu, bagaimana dengan Fertilisasi In Vitro (In Vitro Fertilisation)? Berbeda dengan proses fertilisasi yang telah dijelaskan diatas, dimana pembuahan sel telur oleh sel sperma berlangsung di dalam tuba falopii, maka dalam IVF, pembuahan berlangsung di luar tuba falopii. IVF atau  bayi tabung merupakan metode pembuahan sel telur dan sperma yang terjadi di luar rahim ibu. 

Sperma dan sel telur diletakan di dalam cawan petri/tabung yang dikondisikan sedemikian rupa agar mirip dengan rahim. Setelah sel telur dibuahi dan membentuk embrio, maka embrio tersebut akan ditanam kembali ke dalam rahim agar terjadi kehamilan.


Prosedur bayi tabung sendiri diawali dengan konsultasi dan seleksi pasien, dimana baik suami dan istri akan diperiksa sampai dokter menemukan bahwa terdapat indikasi yang memang layak dan patut bagi pasangan tersebut untuk mengikuti program bayi tabung. Program ini akan disarankan oleh dokter jika pasangan suami istri telah mengikuti metode lain seperti operasi, inseminasi buatan, penggunaan obat-obat kesuburan, namun tidak berjalan dengan baik. 


Bayi tabung akan menjadi pilihan berikutnya ketika dokter menemukan pasangan suami istri memiliki masalah, misalnya pihak istri bermasalah dengan rahim/tuba falopii atau pihak suami masalah dengan kualitas dan jumlah sperma. Dengan kata lain, program bayi tabung bukanlah rekomendasi pertama dan utama dari dokter, akan ada serangkaian tes terlebih dahulu sebelum benar-benar diputuskan bahwa pasangan tersebut layak mengikutinya .

Secara garis besar, bayi tabung merupakan proses stimulasi atau perangsangan ovarium agar menghasilkan sel telur sebanyak mungkin. Secara alami sel telur memang hanya ada satu, namun dalam program bayi tabung, diperlukan lebih dari satu sel telur untuk memperoleh embrio. Kemudian sel telur tersebut diambil agar dapat dibuahi oleh sperma. 


Langkah selanjutnya adalah melakukan pembuahan atau fertilisasi di dalam cawan petri sehingga menghasilkan embrio. Setelah embrio terbentuk, akan dilakukan proses transfer embrio kembali ke dalam rahim ibu agar terjadi kehamilan. Jika ada sisa embrio lebih, maka akan disimpan dan dibekukan untuk proses kehamilan berikutnya. Untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan, dokter biasanya akan memberikan obat atau progesterone.




Surrogacy





Bagaimana hubungan antara Surogasi dengan pembuahan In Vitro? 


Berikutnya saya akan memberikan penjelasan singkat mengenai hubungan keduanya. Satu hal yang sangat penting untuk diketahui adalah bahwa praktek Surogasi dilarang dilakukan di Indonesia karena bertentangan dengan ajaran agama.


Surogasi adalah perjanjian yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan seorang wanita, dimana didalam perjanjian dinyatakan bahwa wanita tersebut bersedia mengandung benih dari pasangan suami istri itu dengan atau tanpa imbalan tertentu. Umumnya surogasi dilakukan ketika sang istri mempunyai masalah dengan rahim, sehingga tidak bisa menjalani kehamilan.


Wanita yang bertugas untuk “dititipkan” bayi di di dalam rahimnya dan mengandung janin atau menjalani kehamilan bagi pasangan suami istri itu disebut dengan Surrogate Mother (Ibu pengganti). Secara singkat dapat dikatakan Surogasi merupakan persetujuan dari seorang wanita (Surrogate Mother) untuk menjalani kehamilan bagi orang lain. 



Faktor-faktor yang menyebabkan pasangan suami istri terpaksa melakukan Surogasi biasanya adalah:


  • Pihak istri mengalami penyakit serius dan tidak mungkin mengandung selama sembilan bulan 
  • Sel telur sudah tidak bisa diproduksi lagi oleh Istri 
  • Sperma suami bermasalah, tidak berkualitas atau jumlahnya sangat sedikit 



Terdapat 2 Jenis utama Surogasi, yaitu:


  • Surogasi Gestasional (Gestational Surrogate) – Pada Surogasi jenis ini janin yang dikandung oleh Surrogate Mother berasal dari sel telur Istri dan sel sperma suami. Hasil pembuahan atau embrio yang ditransfer ke dalam rahim Surrogate Mother dihasilkan dari proses Fertilisasi In Vitro atau bayi tabung. Anak yang dilahirkan kelak tidak memiliki keterkaitan secara genetik dengan Surrogate Mother.  
  • Surogasi Tradisional (Traditional Surrogate) – Pada surogasi jenis ini, surrogate mother biasanya memiliki andil untuk mendonorkan sel telurnya. Sel telur surrogate mother nantinya dibuahi oleh sel sperma suami dari pasangan tersebut. Anak yang dilahirkan kelak memiliki keterkaitan secara genetik dengan Surrogate Mother.  

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses fertilisasi yang terjadi dalam Surogasi pada dasarnya sama dengan pembuahan In Vitro atau bayi tabung, yaitu dilakukan di luar rahim ibu. 


Namun terdapat perbedaan antara bayi tabung biasa dengan surogasi, yaitu:

  • Pada bayi tabung biasa embrio ditanam kembali ke dalam rahim wanita si pemilik telur (sang Istri), yang telah dibuahi oleh sperma suaminya.
  • Pada surogasi, embrio milik pasangan suami Istri (yang dihasilkan dari pembuahan In Vitro) dititipkan/ditanam kedalam rahim wanita lain – bisa kerabat atau orang asing sama sekali yang bersedia dititipkan janin di rahimnya.

Sebagai informasi, ada juga kasus Surogasi ekstrim yang kerap terjadi, yaitu:

  • Pasangan AB menitipkan embrio, yang merupakan hasil pembuahan antara sel telur A (Istri) yang dibuahi oleh sel sperma orang lain (bukan suaminya), atau sebaliknya sel sperma B (suami) membuahi sel telur wanita asing (bukan istrinya). Embrio tersebut kemudian dititipkan ke dalam rahim wanita lain (C) 
  • Kasus yang lebih ekstrim, pasangan AB mendapatkan anak secara surogasi dari embrio hasil pembuahan sel telur seorang wanita asing dan sel sperma seorang pria asing. Embrio “orang asing itu” kemudian dititipkan kepada wanita C, dan setelah lahir diakui sebagai anak pasangan AB. 

Dari penjelasan tersebut dapat terlihat dengan jelas mengapa surogasi merupakan hal yang masih kontroversial (meskipun ada beberapa negara yang telah melegalkan proses ini). 


Di Indonesia sendiri, surogasi merupakan praktik yang dilarang keras/haram dilakukan. Hal ini berdasar pada fakta bahwa ada proses memasukkan ‘hal paling pribadi dari seorang pria’, yaitu sperma suami ke dalam kandungan wanita lain yang bukan istri sahnya. Hal ini sangat bertentangan dengan aturan agama.


Oleh karenanya, bagi Anda yang belum memiliki keturunan, pilihlah secara arif dan bijak metode apa yang akan Anda gunakan dalam upaya memperoleh buah hati tercinta, tentunya harus sesuai dengan tuntutan agama dan rekomendasi dokter ya. Semoga informasi di atas bermanfaat. Tetap berdoa, berusaha dan jangan menyerah!


Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang