Bagaimana rasanya melihat ibumu menjadi janda di usia muda?

Dilihat 369 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Kelihatannya saya dapat menjawab pertanyaan ini. Waktu itu musim panas tahun 2004 ketika ayah saya meninggal. Saat itu ibu saya masih muda, baru berumur sekita 35 tahun. Umur saya waktu itu baru 8 tahun. Keluarga kamu terdiri dari saya, ibu saya dan kakak perempuan saya. Waktu itu kakak saya berusia 14 tahun.


Segalanya terjadi begitu saja. Waktu itu saya sedang di sekolah, begitu juga dengan kakak saya. Kami pergi ke sekolah yang sama, begitu juga dengan ibu kamu. Dia mengajar di sekolah kami. Jadi ketika sedang belajar di kelas tiba - tiba saya dipanggil dan diberitahu bahwa om saya menunggu saya. Dia adalah kaka dari ayah saya. Jadi saya keluar dan melihat kakak saya sudah berada di dalam mobil.


Waktu itu sudah hampir senja. Om kami membawa kami ke dekat tempat tinggal kami dan mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi. Dia mengatakan bahwa ayah kamu sudah meninggal. Waktu itu saya terlalu muda untuk memahami apa yang terjadi. Kakak saya sangat terpukul. Dia lepas kendali. Dia menangis dengan sangat keras. Waktu itu saya tidak mengerti betapa gawatnya peristiwa itu.  Jadi ibu saya duduk di sana sampai seluruh ritual selesai dilaukan. Kami berkemas dan pindah ke Chennai. 


Kami mengalami pergumulan. Saya tahu ayah saya sudah tiada, tapi saya tidak paham bagaimana semuanya akan berjalan tanpa dia. Ibu saya berusahan untuk mengatasi perasaannya dan berusaha agar anak - anaknya tidak akan menderita karena apa yang telah terjadi. Selama hampir enam bulan om saya membelikan kamu kebutuhan sehari - hari.


Apa yang dilakukan oleh ibu saya? Dia menulis buku harian dan mencata siapa saja orang - orang yang membantunya dalam masa - masa sulit ini dan apa saja yang sudah mereka lakukan. Dia masih menyimpan buku harian itu sampai saat ini. Dia bilang kepada om saya untuk berhenti membelikan kami barang - barang karena kami bisa mengatasinya. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah dan berhasil memasukkan saya ke sekolah itu. Kakak saya masuk SMA dekat tempat tinggal kami. Satu tahun setelahnya dia berhasil memasukkan saya ke D.A.V (sangat sulit untuk diterima di sini).


Pada tahun - tahun itu dia keluar dari pekerjaannya dan bergabung sebagai guru di sekolah lain dimana dia masih tetap bekerja sampai saat ini. Apa yang ada dalam pikirannya? "Suami saya tidak akan selalu ada lagi untuk saya, tidak lagi". Saya hanya dapat membayangkannya. 


Sekarang kakak saya sedang kuliah Manajemen Bisnis di New Zealand dan saya sedang menyelesaikan kuliah S1 saya. Dulu kami kehilangan arah dan ibu kamu memegang tangan kamu dan memberikan kamu masa depan. Kalau orang - orang bertanya, "Siapa pahlawanmu?", saya akan menjawab dengan bangga, "Ibu saya".


Saya melihat betapa besar perjuangannya menjadi orang tua tunggal dan membesarkan dua anak di kota besar. Itulah hal yang saya lihat selama saya tumbuh besar. Saya tahu pengiorbanan yang sudah dia lakukan. Saya tahu berapa banyak pekerjaan paruh waktu yang dia ambil. Saya tahu berapa uang sekolah yang harus dia bayar. Saya tahu betapa ibu saya sangat kehilangan tapi tetap berusaha untuk mendorong saya dan kakak saya untuk mencapai lebih tinggi lagi. Saya tahu bagaimana rasanya memiliki ibu yang terbaik. Saya tahu ibu saya tidak akan membaca ini. Tapi itu penting. Saya yakin dia tahu segala hal yang tertulis di sini. Ibu saya adalah yang terbaik. Aku mencintaimu, Ma.

Terjawab hampir 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang