Bagaimana rasanya menikah dengan seseorang yang menderita gangguan bipolar?

Dilihat 199 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Tidak mudah. Tapi masih dapat dikendalikan. Beberapa tahun yang lalu merupakan masa - masa terburuk dalam hidup saya menikah dengan seseorang yang menderita gangguan bipolar ketika suami saya menjadi liar dan tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dia mulai membakar alkohol di dapur, pergi keluar dan melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang dia temui di bar, bersikap kasar kepada saya, dll. Dia menghabiskan waktu berjam - jam di kamar mandi, mencukur ramburnya...


Hal tersebut terjadi beberapa bulan setelah bayi kami lahir. Pekerjaannya penuh dengan tekanan. Segala sesuatu dalam hidupnya mulai berantakan karena dia tidak tidur dengan cukup. Pada suatu hari dia mengunci dirinya di kamar mandi. Saya menelpon 911 dan staff ambulance serta 10 orang polisi datang ke rumah kami. Saya merasa sangat ketakutan dan tercabik - cabik. 


Karena saya memiliki bayi yang masih kecil sulit untuk mengunjunginya ke rumah sakit. Saya merasa sangat tidak berdaya ketika itu. Saat itu benar - benar merupakan periode paling buruk dalam hidup saya menikahi seseorang yang menderita gangguan bipolar. Saya merasa dikhianati. Saya merasa malu suami saya berselingkuh dari saya. Saya merasakan berbagai macam perasaan negatif terhadapnya. Dia kehilangan pekerjaannya dan saya tinggal di rumah dengan bayi kami.

Bagaimana bisa kamu melakukan itu kepadaku??? Pikiran untu mengajukan gugatan cerai ada dalam pikiran saya selama beberapa waktu. Tapi kemudian segalanya mulai berubah dalam waktu 3 tahun. Kami melalui berbagai proses tapi pada akhirnya kamu belajar untuk hidup dengan kondisi ini.

Beberapa hikmah dari cerita saya:

  • Seluruh pengalaman yang saya lewati selama memiliki pasangan yang memiliki gangguan bipola memberikan saya pemahaman yang lebih dalam mengenai gangguan mental. Saya belum pernah mendatangi seorang psikiater sebelum bertemu dengannya. Kalau kamu sudah pernah mengalaminya pasti kamu tahu bagaimana rasanya. Tapi kondisinya jauh berbeda dari yang biasa dilihat orang - orang di dalam film.
  • Saya meyadari bahwa saya harus bisa menghidupi diri saya dan bayi saya tanpa suami saya. Itu merupakan momen yang memberikan saya kekuatan. Setelah segalanya mulai beres, saya mulai bekerja freelance dan menjadi tulang punggung keluarga, yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Untungnya, dia menemukan sebuah pekerjaan yang membuatnya bahagia meskipun dia tidak menghasilkan uang sebanyak pekerjaannya yang sebelumnya. Waktu kerjanya juga fleksibel, jadi bisa tidur siang ketika dia butuh istirahat. Hal tersebtu sangat membantu baginya. (btw, dia tidak mengkonsumsi obat depresi (untuk banyak alasan), jadi menjaga kondisinya agar tetap stabil merupakan suatu hal yang sangat penting).
  • Kami mulai membangun jaringan keamanan, sehingga bukan hanya saya yang memperhatikan perubahan suasana hatinya. Kami memiliki psikiater, pekerja sosial, dokter, pelatih kesehatan. Kalau kami tidak pernah mengalami masa - masa sulit, kamu tidak akan menyadari betapa pentingnya hal - hal tersebut.
  • Kami lebih saling menjaga satu sama lain. Kami sangat ketat mengenai tidur tetap waktu (jam 9 malam) agar dia mendapatkan tidur yang cukup. Dia tetap aktif secara fisik (yang membuatnya lelah sehingga dapat tertidur dengan mudah). Dengan bantuan dari ahli terapi kami, kamu menemukan cara untuk mengkomunikasikan kebutuhan satu sama lain dengan lebih baik.

Tapi saya masih berusaha untuk memulihkan diri dari apa yang dulu kami alami. Hubungan seksual merupakan hal yang sulit, meskipun sudah membaik. Saya seringkali teringat berbagai hal setiap saat. Sebagai pasangan kami memutuskan bahwa satu anak saja sudah cukup karena kami khawatir terdapat tekanan keuangan/mental/fisik dari melahirkan anak dapat membuat keadaan memburuk kembali.


Itu merupakan hal yang sulit. Tapi sekarang saya merasa jauh lebih kuat sebagai seorang manusia. Dan melalui hubungan ini saya belajar mengenai apa yang orang - orang bilang sebagai cinta tanpa syarat, penerimaan dan memaafkan. Karena semua itu, saya merasa bersyukur menikah dengan seseorang yang memiliki gangguan bipolar. 

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang