Bagaimana rasanya menjadi dokter di ruang perawatan intensif / ruang perawatan kritis?

Dilihat 208 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

fter running our ICU from 1988 to 2004, I stopped doing intensive care medicine on January 1st. 2006 when the ICU medical staff recruitment had been completed and it became a "closed format" ICU; in 2004 and 2005 just covering for the intensivist when he was away on vacation or for conferences, CME etc., and together with a few other internists helping him cover the ICU outside office hours. 


Setelah menjalankan unit perawatan intensif dari tahun 1988 sampai dengan 2004, saya berhenti melakukan perawatan intensif pada tanggal 1 Januari 2006 ketika perekrutan staff unit perawatan intensif sudah selesai dan menjadi format tertutup unit perawatan intensif.


Jadi sekarang sudah hampir 10 tahun.. Jadi saya rasa saya hanya akan membicarakan mengenai sisi emosional dari bekerja di unit perawatan intensif. Unit perawatan intensif merupakan tempat yang memiliki staff (dokter dan perawat) yang paling terlatih (perawatn di ruang perawatan intensif biasanya memiliki keahlian lebih tinggi dalam menangani pasien yang sakit dibanding rata - rata praktisi medis yang sering merasa terintimidasi oleh para pasien), peralatan terbaik, sehingga membutuhkan biaya besar bagi rumah sakit karena rumah sakit tidak sapat mengenakan biaya lebih tinggi pada pasien yang masuk ruang perawatan intensif (situasinya mungkin berbeda di negara lain). Kalau sebuah rumah sakit memiliki masalah dengan anggaran, departemen yang akan ditutup adalah UGD, unit perawatan intensif dan kebidanan karea ketiganya membutuhkan biaya paling besar.


Unit perawatan intensif dapat melakukakan pengukuran yang jauh lebih lengkap dibanding pada ruang biasa sehingga dapat mengamati pasien dengan sangat teliti. Kami dapat menjaga agar pasien yang sakit kritis dapat tetap hidup. Ini merupakan anugrah tapi juga kutukan, karena hal tersebut berarti para staff harus selalu kritis dalam melihat pasien mana yang membutuhkan suatu perawatan. Hanya memperpanjang waktu sekarang seseorang berarti penderitaan, dan ini bukan tujuan kami. 

Kami seringkali menyesal harus memulai perawatan invasif  pada pasien yang kemudian kamu ketahui seharusnya tidak dirawat dengan agresif sama sekali karena tidak ada gunanya, hanya menyebabkan penderitaan lebih lama. Tapi hal ini terjadi ketika kami tidak mengetahui bahwa orang yang dibawa ke ruang perawatan intensif sangat, sangat sakit.


Menghentikan suatu perawatan jauh lebih sulit daripada memulainya. Bekerja pada ruang perawatan intensif sangat bergantung pada berbagai peralatan, dimana jika peralatan - peralatan tersebut tidak ada, unit perawatan intensif tidak akan dapat berjalan, kamu harus merasa nyaman menggunakan peralatan - peralatan tersebut dan mengetahui jebakan - jebakan yang mungkin muncul dari hasil yang dikeluarkan oleh peralatan.

Para dokter harus memiliki keahlian dalam bidang patofisiologi (sehingga mereka tidak akan kesulitan untuk mencari tahu ketika kondisi pasien sedang menurun), harus dapat bertahan menghadapi stress dari pekerjaan ini, dapat bekerja sama dengan para profesional medis lainnya, terutama para perawat di ruang perawatan intensif dan dokter - dokter lainnya, dan harus dapat menerima tingkat kematian yang tinggi ±20% (sangat tinggi dibanding departemen - departemen lainnya di rumah sakit). Singkatnya, dokter yang bekerja pada unit perawatan intensif harus memiliki wawasan yang luas, memiliki soft skill yang baik dan dapat bertahan menghadapi stress yang tinggi.

Biasanya, para dokter pertama - tama akan mengumpulkan banyak informasi, lalu memikirkan kemungkinan - kemungkinan, melakukan tes yang dibutuhkan, setelah itu diagnosa akan dibuat dan pilihan - pilihan perawatan akan didiskusikan. Pada unit perawatan intensif, seringkali sokter harus membuat kepurusan mengenai perawatan berdasarkan informasi yang sangat minim, tidak punya waktu untuk menunggu hasil tes, atau pasien akan menjadi terlalu sakit untuk menjalani pemeriksaan, dapat menerima bahwa dia harus melakukan yang terbaik untuk pasiennya dalam keterbatasan informasi yang dia miliki dan kemampuan untuk merubah / menyesuaikan diagnosa yang diberikan ketika hasil tes sudah diterima. Hal - hal tersebut membuat pekerjaan menjadi menarik tapi juga menyebabkan tingkat stress yang tinggi.


Saya rasa orang - orang yang bekerja di unit perawatan intensid memiliki aliran adrenalin yang tinggi karena bekerjan dalam tekanan seperti itu. Untungnya hal itu tidak berlangsung sepanjang hari. Seorang dokter harus dapat menjelaskan pemikirannya kepada perawat yang bertugas karena perawat tersebut harus dapat memonitor pasien dan memperingatkan dokter jika ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai seorang dokter, kamu tidak akan terlalu banyak berinteraksi dengan pasien dan keluarganya. Hal itu kebanyakan akan dilakukan oleh perawat. Ketika seorang pasien keluar dari rumah sakit dalam kondisi yang lebih baik, rasanya sangat menyenangkan. Kesuksesan itu membayar perasaan sedih yang kami derita setelah kehilangan beberapa pasien secara berturut - turut. 


Saat bekerja di rumah sakit, saya biasanya berusaha untuk mengenal para perawat yang bekerja bersama saya, biasanya dengan minum kopi bersama sebelum pulang ke rumah. Hal ini sangat berguna untuk "membaca" apa yang ingin mereka katakan kepadamu ketika mereka memanggilmu. Mereka semua sangat setia ketiak masa - masa sulit. Beberapa berbagi mengenai masalah pribadinya. Bahkan mereka memberikan pesta kejutan untuk ulang tahun pernikahan saya yang ke 25 di rumah sakit. Meskipun saya tidak suka pesta dan kejutan, saya sangat tersentuk oleh apresiasi yang mereka berikan dan sangat menikmatinya, begitu pula dengan istri saya dan anak - anak kami.

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang