Bagaimana rasanya menjadi seorang janda muda?

Dilihat 283 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya janda pada usia 33 tahun. Seperti yang dikatakan Jacqueline, kelompok janda tidak begitu membantu. Saya hanya memiliki sedikit kesamaan dengan mayoritas anggotanya dan keluar setelah sesi-sesi awal berduka telah usai. Saat anda pertama kali menjanda, itu menjadi identitas anda, sama seperti seorang pengantin baru. Anda merasa sangat kesepian. Detil-detil spesifik kehilangan anda (penyebab kematian, perlakuan dari saudara, apakah anda memiliki anak dan usia anda) adalah sangat penting. Seiring berjalannya waktu, pentingnya hal-hal spesifik itu pudar dan anda merasa lebih bersahabat dengan janda-janda lainnya dari segala umur dan kondisi. Namun, secara spesifik anda bertanya tentang menjadi seorang janda muda. Inilah pengalaman saya.


Anda merasa dikucilkan. Anda berhenti diundang ke acara-acara dan bahkan jika anda diundang, pembicaraan akan berhenti ketika anda memasuki ruangan. Tak satupun mengatakan tentang pasangan anda. Saya yakin bahwa orang-orang merasa tak nyaman dengan realisasi akan mortalitas mereka sendiri - sesuatu yang tak bisa mereka abaikan ketika anda berada di sekitar. Sebagian mungkin sudah mencoba untuk berbaik hati, tapi dengan tidak berbicara tentang suami saya atau masa-masa pernikahan saya secara efektif menghapuskan seluruh kedewasaan saya sebagai bahan pembicaraan. Sebagian orang begitu teganya meninggalkan saya saat saya duduk di dekat mereka. Akibatnya bukan hanya banyak orang yang berhenti menelpon, tapi saya mulai mengabaikan beberapa undangan yang saya terima.


Saya lelah duduk sendirian di pesta-pesta. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar tahu apa artinya 'merasa sendiri di kerumunan'. Selama berbulan-bulan, saya akan pulang ke rumah dari pekerjaan dan duduk di meja kopi saya menatap langit hingga akhirnya saya tidur di kasur. Saya tidak menonton televisi, membaca atau mendengarkan musik. Saya terbiasa memainkan piano klasik dan nyaris tak pernah menyentuh keyboard sejak kematian suami saya bertahun-tahun lalu. Saya ditinggalkan tanpa anak dan sendirian di usia tiga puluhan saya. Pesta-pesta kantor Natal dan acara-acara sosial lainnya menjadi mengerikan. Anda diharapkan untuk menghadiri dan memasang wajah bahagia sedangkan anda sedang sekarat di dalam.


Saudara perempuan saya menikah beberapa bulan kemudian dan pada resepsinya saya menghabiskan mayoritas waktu saya dengan menyembunyikan air mata saya di kamar mandi. Saat saya bekerja dan seseorang diperlukan untuk mengambil tugas on-call atau hingga larut malam, saya adalah salah satu yang diminta untuk melakukannya karena saya tak punya anak maupun suami di rumah. Tampaknya masyarakat secara konstan mengingatkan saya betapa tak berguna dan sendiriannya saya dulu. Dan jika satu orang bercerai lagi berkata kepada saya bahwa mereka tahu apa yang saya rasakan, saya rasanya ingin berteriak.


Meski usaha-usaha awal saya dalam berkencan hancur dan terbakar, suatu saat saya jatuh cinta lagi dan sekarang menikah lagi dengan bahagia, namun masa-masa janda menorehkan sedikit catatan dari saya - terutama, rasa aman saya. Saya tak lagi merasa seakan tragedi bisa terjadi dalam hidup saya. Saya tahu itu bisa terjadi.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang