Bagaimana rasanya menjadi keturunan etnis Tionghoa di Indonesia?

Dilihat 8,61 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

orang tionghoa


Pada awal mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia.  


Pada sekitar tahun 1955-1965, perselisihan terjadi antara pribumi dan Tionghoa, di mana Tionghoa dituduh “tidak patriotik” dan tidak ikut serta dalam perang meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itupun akhirnya mengeluarkan peraturan yang membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan Industri.


Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat sedih bagi mereka karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga mereka. Segala tradisi yang berbau China diharamkan, dan bahasa Mandarin pun dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis.


Dan Pada tahun 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia. Karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapat kemudahan dari pemerintah.  


etnis tionghoa


Namun pada saat reformasi, Gus Dur mencabut larangan bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Gus Dur juga memberikan izin bagi orang-orang Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada pemerintah. Pada masa perintahannya juga, hari raya Imlek pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.


Nah, dari situ dapat kita lihat bahwa berbagai usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yang telah mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk dihapuskan.  


Kembali ke pertanyaan di atas, bagaimana rasanya menjadi seorang keturunan China yang tinggal di Indonesia?  Berikut saya akan menceritakan suka dan duka saya sebagai orang Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Yuk, ikuti terus sampai habis ya :)



Diskriminasi Etnis



Diskriminasi etnis hampir tidak pernah tidak ada dalam masyarakat Indonesia. Mulai dari tahun 1960-an, bahasa China, nama, agama dan kebudayaannya (seperti tahun baru Cina, Tari barongsai) dilarang di negara ini.

Ketika saya berumur sekitar 7 tahun, seorang saudara pernah bercanda, bahwa saya beruntung mempunyai kulit yang lebih gelap dibandingkan kebanyakan orang Tionghoa lainnya, karena berarti saya telah  "lulus" menjadi seorang pribumi (etnis/asli Indonesia).


Beberapa bulan sebelum terjadinya kerusuhan besar pada bulan May 1998 --dimana banyak properti milik etnis Tionghoa dijarah, dan sebuah balai pengobatan di Sekolah Dasar saya dibakar hingga rata dengan tanah-- penjarah-penjarah yang jaraknya hanya tiga blok dari rumah saya, berteriak menghina etnis kami seperti  "China babi!" dan "Ganyang China!"


Pastinya ada sejarah yang menyakitkan yang dialami orang-orang yang cukup tua mengenai kejadian tahun 1998 dan sebelum tahun 1998. Warisan pada saat itu adalah hampir tidak adanya nama China karena harus mengganti nama mereka dengan nama Indonesia, meskipun etnis Tionghoa adalah minoritas etnis utama di negara ini.  


Persentase keturunan Tionghoa di Indonesia rata-rata non muslim, yang mana jumlahnya signifikan, mengingat populasi Muslim merupakan jumlah terbesar di Indonesia. Saya ingat-ingat kembali banyak korelasi/kekacauan telah terjadi antara diskriminasi etnis dan diskriminasi agama, tetapi yang sering terjadi adalah yang pertama (diskriminasi etnis). Ketegangan rasial/etnis sendiri sebenarnya juga cukup rendah. 

 

Kerusuhan Mei 1998


Sisa Masa Lalu yang Buruk


Menurut saya, dalam konteks sejarah nya, saya dapat katakan, bahwa etnis Tionghoa di Indonesia telah mendapatkan tempat yang lebih baik sekarang ini. Banyak undang-undang yang diskriminatif dibatalkan dan keramah-tamahan secara umumnya terhadap kami sudah cukup bagus dalam beberapa tahun terakhir ini. 


Adapun perkataan-perkataan diskriminatif yang ada saat ini hanyalah sisa-sisa masa lalu yang buruk. 


Menurut saya perkataan-perkataan tersebut masih terdengar karena:


  • Sebagai lelucon. Jika anda  berada di Sekolah Indonesia, kata-kata "Cina lo!" akan ada sekali-sekali. Ada kecenderungan di negara ini untuk dapat melewati  hal-hal yang tidak nyaman dalam masyarakat sebagai sesuatu lelucon, contohnya  perkataan  "Homo lo!"  atau "Banci lo!" , sering sekali terdengar.
  • Sesuatu yang stereotip. Etnis Tionghoa biasanya dipandang sebagai orang-orang  yang pelit yang merampok peluang politik pribumi, dan terutama ekonomi nya. Ini yang mendasari/menyebabkan terjadi penjarahan etnis Tionghoa pada tahun 1998. 

etnis tionghoa


Perlakuan terhadap Etnis Tionghoa


Perlakuan istimewa terhadap etnis Tionghoa jelas ada, meskipun saya tidak dapat menghubungkan satu demi satu setiap etnis, karena banyak orang yang saya tahu benar-benar cocok dengan stereotip "agama-etnis-sekolah"  : Sekolah swasta untuk Kristen-China dan Sekolah negeri untuk Muslim-Pribumi. 


Saya mendengar tentang cerita tentang orang-orang yang diminta membayar lebih banyak jika masuk perguruan tinggi di Indonesia atau cerita tentang beberapa orang yang ditolak di perguruan tinggi Indonesia  meskipun telah memenangkan Olimpiade Internasional untuk Indonesia. 


Beberapa tim olimpiade Internasional sebenarnya telah mempunyai kuota untuk masuk ke sekolah umum/negeri atau sekolah swasta (yang mana sering dikaitkan dengan Muslim-non Muslim atau Cina-Pribumi, seperti segala sesuatunya yang lain). 


Saya juga mendengar cerita tentang bagaimana pekerjaan pegawai negeri lebih sulit didapatkan untuk etnis Tionghoa, tetapi saya pribadi tidak pernah mengalami hal-hal seperti mereka. 


Secara keseluruhan, hal itu sebenarnya sangat normal. Saya tidak pernah merasa saya bukanlah orang Indonesia dibandingkan dengan pribumi, dan setelah tahun 1998 saya tidak pernah mengalami diskriminasi etnis secara langsung.  


Menjadi seseorang yang beragama minoritas selalu mempunyai urusan yang lebih besar dibandingkan menjadi seseorang yang ber etnis minoritas di negara ini. Tetapi yang pastinya saya lebih terlihat pribumi dibandingkan seseorang yang mempunyai keturunan Tionghoa dan saya dewasa setelah tahun 1998, sehingga orang lain dari generasi yang berbeda mungkin mempunyai pandangan yang berbeda dengan saya mengenai hal ini.

    


Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. 


Diskriminasi adalah sebuah hal yang menginjak-injak martabat dan hak asasi manusia. Perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yang harus kita hargai. Satu nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa . Bhineka Tunggal Ika.

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang