Bagaimana trafik dan timing kereta diatur pada mayoritas jaringan jalur kereta?

Dilihat 235 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Yah, itu tidak dilakukan dengan timing yang sederhana. Itu dilakukan melalui sistem sinyalir. Saat kereta pertama kali dimulai, itu yang DULU dilakukan oleh timing. Kereta-kereta akan berangkat terpisah dalam beberapa menit tapi hasilnya saat itu adalah tabrakan; kereta yang pertama akan tertahan atau tertunda dan kereta berikutnya akan terus berjalan menuju kereta pertama.


Kita telah melalui beberapa tahap di Inggris dan terus berkembang. Kebanyakan sinyal ada di sisi rel. Beberapa adalah Semapur, lainnya adalah cahaya (yang simpel?). Tapi untuk menunjukkan bagaimana hal-hal itu melakukan pekerjaannya, kita tidak lagi memasang bola lampu tapi LED, yang mana satu lampu bisa memiliki beberapa LED dengan warna berbeda dan bisa menggantikan bola lampu konvensional. Akan tetapi ada sedikit jalur rel yang telah ditiadakan sinyal jalur nya dan diganti sinyal dalam tempat masinis, terutama saat jalur kecepatan tinggi dimana kemampuan melihat sinyal jalur terbatas.


Kita bahkan memiliki beberapa sistem dimana tak ada sinyal konvensional tapi seluruh sistemnya dikendalikan komputer. Untuk menjaga kereta-kereta terpisah, jalur rel dibagi menjadi dua bagian (kami menyebutnya blok). Hanya satu kereta yang diijinkan dalam satu blok. Pada sebuah sistem dimana sinyalnya ada di sisi jalur, maka blok itu adalah tetap. Panjang dari sebuah blok bervariasi, sehingga anda bisa mengira-ngira bahwa satu jalur rel sepanjang 10 mil blok akan dilewati kereta lebih sedikit daripada satu jalur sepanjang 1 mil blok. Itu juga mengenai sinyal dari sisi jalur.


Yang dipraktekkan di Inggris adalah mengatur sebuah lampu merah itu menyala hingga diketahui bahwa kereta yang di depan telah melewati lampu berikutnya. Pada saat itu lampu di belakang kereta paling depan beralih menjadi merah. Setelah gerbong terakhir lewat dan lampu di depan kereta belakang beralih ke kuning dan berarti "anda bisa berjalan tapi bersiaplah untuk berhenti di lampu merah berikutnya". Lampu hijau berarti "anda bisa berjalan melampaui kecepatan jalur tapi hati-hati lampu berikutnya bisa kuning". Lampu kuning harus diposisikan cukup jauh dari lampu merah, supaya saat kereta melewatinya dan mulai pengereman masih ada jarak yang cukup untuk mengerem dan berhenti.


Kita juga bisa memiliki sistem 4 lampu dimana seorang masinis akan melewati lampu hijau, kemudian melihat dua kuning menandakan sinyal berikutnya adalah kuning dan harus memulai pengereman (atau setidaknya dayanya dimatikan agar kecepatannya menurun) lalu sebuah lampu kuning lagi untuk menunjukkan bahwa berikutnya adalah merah dan pada akhirnya lampu merah. Makin dekat sinyalnya dan makin banyak lampunya makin dekat waktu (kemajuan) dan jarak antar kereta bisa diperpendek.


Ada juga sistem yang memantau masinis dan mengerem jika ia melewati tanda peringatan atau sinyal stop. Beberapa negara menggunakan sinyalir kecepatan dimana sinyalnya dapat memberi tanda pada kereta yang mendekat kecepatan yang dibolehkan, tapi saya tak berpengalaman tentang bagaimana cara kerjanya. Dengan menggunakan sinyalir dalam tempat masinis, sebuah komputer memantau jarak antara satu kereta dengan yang lain dan memberi instruksi pada masinis untuk berkendara pada kecepatan yang ditentukan untuk menjaga jarak. Pada sistem ini sebuah "blok bergerak" dipasang. Itu semacam zona aman yang bergerak bersama kereta dan tidak ada kereta lain yang boleh masuk zona itu. Jika sebuah kereta yang di belakang masuk dalam blok bergerak kereta di depannya, maka rem otomatis dijalankan.


Itu penjelasan yang sangat mendasar dan saya mengharapkan ahli sinyalir akan ikut memberi jawaban yang lebih baik dan lebih teknis.

Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang