Bagaimana transfusi darah mempengaruhi kekebelan tubuh?

Dilihat 3,6 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Ketika kamu mendapatkan transfusi darah, yang akan kamu dapatkan adalah sel darah merah. Kita menyebutkan "darah", tapi sebenarnya itu merupakan "sekumpulan transfusi sel darah merah". Kamu tidak akan mendapatkan antibodi karena antobodi terdapat di dalam komponen cari dari darah. Kenyataannya, ada cukup bahan imunogenik dalam transfusi darah yang munkin akan menyebabkan -reaksi alergi- tapi tidak cukup menguntungkan bagi tubuhmu.


Untuk mendapatkan kekebalan tubuh, yang kamu butuhkan adalah konsentrasi dari imunogbulin yang ada di dalam darah utuh - imunoglobulin intravena, atau IVIG. Zat ini biasanya diberkan kepada orang - orang yang tidak bisa menghasilkan antibodi sendiri karen bermacam - macam gangguan darah, dan kadang digunakan untuk mengobati masalah sistem kekebalan tubuh, karena memiliki tambahan antobodi  dapat membantu mengatur sistem kekebalan tubuh. Ini juga akan memperkuat perlindungan terhadap beberapa jenis infeksi, tapi seberapa penting untuk memiliki tambahan antobodi tergantung pada organismenya. Misalnya, untuk infeksi jamur, sistem pertahan yang paling penting adalah neutrofil, dan jumlah neutrofil yang rendah (neutropenia) merupakan faktor utama dari serangan penyakit jamus, yang bisa menjadi sangat berbahaya.


Jadi, mendapatkan transfusi darah tidak memberikan kamu kekebelan tubuh, tapi BISA MEMPENGARUHI kekebalan tubuh dengan cara lain. Menerima darah dari orang lain yang memiliki antigen yang berbeda pada sel - selnya bisa mengacaukan sistem kekebalan tubuhnya. Risiko yang sangat berbeda dan kalau kamu melihat pasien anemia, memberikan donor darah kepada mereka secara agresif (dengan jumlah hemoglobin yang tinggi) dapat menyebabkan infeksi pada 1 dari 20 - 38 orang dibandingkan transfusi darah secara konservatif (dengan jumlah yang rendah). 


Kita tidak berbicara tentnang penularan HIV / hepatitis B atau C (ini cukup jarang terjadi), atau bahwa risiko infeksi bakteri dari darah yang bisa berdampak buruk (sebenarnya ini merupakan penyebab kematian karena transfusi yang paling tinggi). Yang kita bicarakan adalah pneumonia, ataupun penyakit lain yang kemunculannya tidak ada hubungannya dengan darah. Ini merupakan alasan lain kenapa tranfusi darah seharusnya hanya dilakukan ketika dibutuhkan.

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang