Bagaimana transportasi berbasis aplikasi di Indonesia seperti Gojek, Grab dan Uber menawarkan harga yang lebih murah dari yang seharusnya?

Dilihat 608 • Ditanyakan 10 bulan lalu
1 Jawaban 1



Bisnis transportasi online berbasis aplikasi merupakan inovasi layanan yang memanfaatkan teknologi terkini. Inovasi ini dengan cepat merebut hati banyak orang, khususnya yang rajin memanfaatkan jasa taksi dan ojek. Tak heran, jika model bisnis seperti ini terus mengalami perkembangan di tengah pro dan kontra.


Patut diakui meski masih dihiasi dengan berbagai polemik, bisnis seperti ini menyuguhkan banyak manfaat buat banyak pihak mulai dari pengguna, driver hingga pebisnis itu sendiri. Buat pengguna mereka menemukan sebuah layanan yang lebih mudah, lebih murah, lebih nyaman, dan bisa dibilang aman juga.


Aplikasi transportasi online banyak dipilih oleh masyarakat karena proses pemesanan yang mudah, perhitungan biayanya lebih transparan, dan servisnya juga lebih memuaskan. Bahkan tidak hanya melayani jasa untuk mengantar penumpang ke tempat tujuan saja tetapi kini transportasi online juga menambahkan dalam aplikasi transportasi online berupa servis tambahan sebagai kurir, yaitu bisa sebagai kurir pengantar barang, membelikan makanan atau keperluan lain sampai dengan memesankan tiket bioskop dengan memenangkan persaingan harga yang 'kurang wajar'. Banyak sudah pelanggan yang menggunakan jasa ini. Layanan ini mampu bersaing dengan jasa transportasi umum, taksi meteran atau bahkan ojek pangkalan. 


Lalu bagaimana dengan pihak pemilik aplikasi sendiri? Tampak jelas mereka seperti sebuah perusahaan besar. Padahal secara logisnya dengan harga layanan sebegitu murahnya dirasa tak akan cukup menutupi operasional mereka. Sementara itu pola bisnis ini selalu menjadi daya tarik mendatangkan pemain-pemain baru dengan pola yang sama tetapi dengan produk berbeda misalnya. Lantas darimana keuntungan Gojek, Grab dan Uber bisa mereka peroleh?


Sebagai pelaku industri, Go-jek, Grab dan Uber yang merupakan nama perusahaan ojek online di Indonesia ini, ketiganya bisa dikatakan sebagai awal mula dari pertumbuhan aplikasi untuk jasa transportasi online di Indonesia sudah benar-benar mendapatkan manfaatnya. Oleh karenanya tarif yang mereka kenakan kepada konsumen bisa jauh lebih murah dari pada transportasi konvensional seperti contoh taxi atau ojek pangkalan. Berikut penjelasannya mengapa Gojek, Grab dan Uber berani memasang tarif murah untuk pelanggan.

 

Mengapa Transportasi Online Bisa Menawarkan Tarif yang Lebih Murah?


  • Berbasis Kemitraan  

Dengan cara berbasis kemitraan (dengan pemilik kendaraan), perusahaan bisa menekan biaya. Mereka tak perlu belanja ratusan miliar rupiah untuk membangun armada. Tidak perlu juga menghamburkan rupiah untuk ongkos perawatan kendaraan, pengadaan fasilitas bengkel dan pool, dan sebagainya. Oleh sebab itu mereka berani memasang tarif murah sesuai jarak yang tercantum dalam pesanan. 


  • Kerja sama dengan pihak penyedia komunikasi. 

Sebut saja Gojek dengan Telkomsel, Uber dengan Indosat. Semakin banyaknya pengguna tentu akan memperbanyak penggunaan data internet. Hal ini menjadi pasar bisnis untuk perusahaan komunikasi. Tetapi dari semua itu, yang paling besar konsumsi driver adalah paket data. Di sinilah permainan antara pemilik aplikasi dan jaringan seluler.

Jadi sumber penghasilan Gojek, Uber, dan Grab tersebut bukan dari jasa yang ditawarkan. Orang yang bodoh pun berpikir sama, bagaimana bisa mendapatkan keuntungan sebesar itu dengan harga murah. Lihat saja, ojek pangkalan biasa dengan harga yang mahal saja orangnya tak kaya kaya. Keuntungan diperoleh dari 'bisnis' di balik 'bisnis'.


  • Menjaring Rupiah dari Big Data

Perusahaan bisa memanfaatkan data pengguna untuk meraup rupiah. Patut diketahui, pertama kali mengunduh aplikasi taksi atau gojek online ini ke smartphone, anda harus mendaftarkan identitas anda, nomor telepon, alamat email, dan sebagainya. Nah, data ini adalah aset yang bisa dimanfaatkan perusahaan. Biasa disebut Big data. Data konsumen bisa dipakai pihak yang berniat melakukan riset pasar, berpromosi, bahkan riset politik sekalipun. Tentu saja, bila membutuhkan data-data seperti itu, tidaklah gratis. Namun, lebih murah membeli data dari pemilik gudang data, ketimbang mengumpulkan data sendiri. Siapakah gudang data itu? gudang data itu adalah perusahaan Gojek/Grab/Uber tersebut.


  • Iklan 

Para user Gojek/Uber/Grab ini semakin meningkat. Ini jelas setiap ponsel/gadget si user akan terinstal aplikasi Gojek/Uber/Grab. Karena banyaknya penggunaan aplikasi ini pasti bisa dimanfaatkan sebagai media iklan yang sangat potensial. Simpel analoginya, sama seperti di TV, siaran diberikan gratis pada masyarakat. Tetapi, dengan adanya jumlah penonton yang banyak pada suatu program, maka ini akan menaikkan rating siaran stasiun TV itu. Alhasil banyak pihak yang tertarik untuk beriklan pada TV itu.

Dengan jumlah pelanggan yang menggurita bukan tak mungkin para pelaku bisnis mendulang rupiah dari iklan. Pasalnya tak sedikit perusahaan yang tertarik untuk bekerjasama dengan pelaku bisnis yang sudah besar dan mapan.  Dari data tujuan, rute dan asal pelanggan. Siapa yang pernah berpikir, ketika memesan layanan ini maka data asal, tujuan dan rute akan tercatat oleh pihak pemilik aplikasi. Data ini berpotensial dijual pada pengiklan seperti Billboard. Data tersebut akan menunjukkan rute mana yang paling sering dilalui oleh orang, jadi tentu si pemasang iklan rela membeli data ini demi target iklan. 

pelayanan pelanggan


Persaingan keras bisnis ini, memberikan keuntungan kepada pelanggan. Sekarang pelanggan bisa naik ojek dengan tarif yang sangat murah, pelayanan yang sangat ramah, dan banyak pilihannya. Tinggal beberapa kali klik, dan ojek akan datang di tempat kita berada.

Yang paling penting jangan sampai perang tarif dan bisnis ini malah mengorbankan driver. Karena saking murahnya tarif, driver terkadang harus bekerja dengan lebih ekstra. Jadi bersainglah yang sehat agar semua aman dan nyaman dalam berkendara.

Terjawab 10 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang