Bagaimanakah keakuratan pencocokan horoskop?

Dilihat 752 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Di zaman sekarang, banyak sekali orang yang mempercayai ramalan zodiak, khususnya wanita mulai dari remaja hingga wanita dewasa. Bahkan di banyak majalah, juga koran, ada pojok khusus untuk ramalan bintang tersebut. Rubrik ini pun cukup populer di banyak kalangan, terutama jika sudah menyangkut ramalan jodoh melalui zodiak. Entah mengapa, kehidupan percintaan selalu menjadi sebuah topik yang menarik bagi semua orang. Peminat ramalan semacam ini ada bermacam-macam ada yang memang sungguh meyakini ramalan, ada pula orang yang membacanya hanya untuk hiburan semata. Ramalan zodiak atau astrologi berasal dari Babylonia lebih dari dua ribu tiga ratus tahun yang lalu. Orang Babylonia mempercayai bahwa para dewa dan dewi tinggal di langit di antara bulan, bintang, dan benda langit lainnya oleh karena itu mereka juga meyakini bahwa benda langit seperti bintang memiliki kekuatan untuk mengendalikan roda takdir dalam hidup manusia. Lantas, mereka membagi langit menjadi dua belas gugusan rasi bintang yang pada akhirnya menjadi dasar sistem horoskop. Dalam ilmu astrologi, dipercaya bahwa nasib dan kepribadian seseorang dapat diketahui melalui posisi benda-benda langit pada hari orang tersebut dilahirkan. Namun, lantas apakah rasi bintang ini sungguh dapat memprediksi nasib atau kepribadian seseorang secara akurat?




Di bawah ini saya akan membahas mengenai akurasi ramalan jodoh menurut zodiak.



Ramalan Jodoh Melalui Zodiak: Apakah Akurat?


Sebelum saya memulai penjelasan mengenai astrologi, saya perlu menjelaskan sedikit bahwa astrologi tidak sama dengan astronomi. Karena terdengar mirip, banyak orang yang salah kira bahkan menganggapnya dua hal yang sama padahal benar-benar berbeda. Astronomi adalah ilmu ilmiah yang mengamati pergerakan benda-benda langit. Semuanya dilakukan berdasarkan observasi dan dinilai melalui apa yang dilihat oleh peneliti tanpa memikirkan hubungannya dengan filosofi, rasi bintang, atau hal di luar ilmiah, apalagi ramalan jodoh melalui zodiak. Sementara astrologi, seperti yang sudah saya jelaskan di atas merupakan ilmu menerawang dengan melihat pergerakan benda-benda langit yang bisa dibilang tidak terlalu ilmiah. Dalam astrologi Barat, keakuratan dalam membaca ramalan bintang itu didasarkan pada keakuratan data seorang astrolog untuk setiap individu dan seberapa ahli seorang astrologi dalam membaca suatu area kehidupan, misalnya hubungan asmara, karir, kesehatan, atau duniawi (dunia atau acara lokal). Bagi saya, sebagai astrolog, saya membutuhkan data akurat dan kemudian saya dapat mempertimbangkan analisis dan interpretasi, takdir dan keinginan bebas, dan apa yang dapat disebut sebagai H.E.--Human Element (Elemen Manusia). Astrologi itu sangat mirip dengan ramalan cuaca atau ramalan stok pasar. Hal ini tergantung pada jarak variabel dari pergesaran angin (meteorologi), pergesaran dalam pasar itu sendiri (faktor luar yang mungkin tidak dilihat sang peramal saat pertama kali meramal) atau elemen manusia yang akan datang.




Dalam kecocokan jodoh menurut zodiak, pasti selalu ada tantangan diantara grafiknya. Seperti saat membuat sebuah prakarya, Anda akan membutuhkan lem. Pertemanan memainkan peran yang sangat penting untuk membaca ramalan jodoh melalui zodiak. Cinta bertambah dan berkurang, dan hidup kadang terganggu dengan cara yang sangat parah yang menantang hubungan itu sendiri. Kalau pertemanan ada pada tempatnya juga cinta, ketika cinta dalam kondisi renggang, pertemanan akan menjadi lemnya dan merekatkannya kembali. Saat saya mengenalkan pasangan yang telat menikah, saya telah belajar bertahun-tahun kalau synastry simpel antar grafik tidak akan pernah cukup untuk memastikan apakah hubungan itu dapat atau akan menjadi hubungan yang baik. Seorang astrolog juga butuh mempertimbangkan komposisi dari grafik dan synastry dari setiap orang dengan komposisi yang sama. Setelahnya, hal itu tergantung hidup dan tergantung dari apa yang pasangan itu akan lakukan.


Untuk ramalan pada majalah atau koran atau internet, tak jarang penulis ramalan tersebut bukanlah astrolog, melainkan psikolog atau lebih parahnya hanyalah penulis biasa. Tapi anehnya, biasanya lebih banyak orang yang mengatakan bahwa ramalan bintang tersebut akurat. Mengapa? Fenomena ini disebut validasi subjektif. Hal ini terjadi ketika ada dua peristiwa atau lebih yang sebenarnya paralel dan sama sekali tidak berkaitan dianggap berhubungan karena kepercayaan dan keinginan seseorang yang menuntut adanya hubungan di antara kejadian-kejadian tersebut. Dengan kata lain, para pembaca sendirilah yang menghubung-hubungkan kehidupannya dengan kebenaran isi ramalan zodiak yang ia baca. Bertram R. Forer adalah orang yang pertama kali menguji konsep validasi subjektif ini. Ia melakukannya dengan cara melakukan tes kepribadian pada siswa-siswa di sebuah kelas, lalu membagikan analisis kepribadian pada masing-masing siswa. Ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka mendapatkan hasil yang unik dan berbeda satu sama lain sesuai dengan jawaban yang mereka berikan pada tes sebelumnya. Dan ketika para siswa tersebut diminta memberi nilai pada akurasi analisis tersebut, hasilnya analisis itu dinilai delapan puluh lima persen akurat, padahal pada faktanya hasil yang dibagikan Forer pada para siswa tersebut semuanya sama persis. Ternyata trik yang ia gunakan adalah menggunakan deskripsi-deskripsi yang umum dan bisa berlaku pada siapa pun. Pernyataan umum semacan ini disebut barnum statement. Trik ini pula yang digunakan dalam penulisan ramalan zodiak pada media massa. 




Namun, jika penulis ramalan di media massa tersebut memang adalah seorang astrolog, ada penjelasan lain karena hasil dari ramalan yang Anda dapatkan dari sebuah pojok ramalan zodiak di majalah akan amat berbeda dengan ramalan yang Anda dapatkan secara pribadi dari seorang astrolog. Mengapa bisa begitu? Saat seorang astrolog menulis ramalan untuk sebuah majalah yang tentunya akan dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan, ia akan mengambil hal-hal yang umum dan tidak spesifik agar lebih bisa mengena pada banyak orang. Dan dalam ramalan zodiak pada majalah, satu zodiak mencakup tiga puluh hari berbeda di bawahnya, sehingga isi ramalan tersebut bisa saja cocok pada satu orang, namun tidak cocok bagi orang lainnya. Sementara saat Anda menemui astrolog dan mendapatkan pembacaan satu lawan satu dengannya, tingkat akurasinya lebih tinggi karena astrolog tersebut hanya akan melihat pergerakan benda langit di hanya di hari kelahiran Anda dan pada jam khusus, yakni jam Anda dilahirkan. Dengan begitu, hasil pembacaannya pun lebih spesifik dan lebih akurat daripada ramalan di sebuah majalah atau koran.


Seorang astrolog--yang manapun atau bahkan di manapun ia mempelajari astrologi-- bukanlah Tuhan. Ingat, bahkan seorang astrolog juga adalah manusia dan dapat melakukan kesalahan. Meski ada ramalan yang benar-benar menjadi kenyataan, masa depan adalah hal yang dinamis dan selalu bisa berubah sewaktu-waktu. Karena apa yang Anda lakukan hari ini bisa mengubah apa yang akan terjadi pada Anda besok. Jadi, meskipun ada ramalan yang mengatakan Anda akan mengalami kejadian A, bisa saja pada akhirnya Anda tidak mengalaminya karena Anda sudah mengetahuinya dan bertindak seakan ramalan tersebut adalah sebuah peringatan. Pada akhirnya tidak ada ramalan yang memiliki tingkat akurasi hingga seratus persen, karena bagaimana pun para astrolog dan peramal tersebut adalah manusia sama seperti Anda. Anda lah yang akan menentukan masa depan seperti apa yang akan datang kepada Anda, begitu pula dengan jodoh Anda.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang