Berapa banyak keluarga Belanda-Indo yang saat ini masih tinggal di Indonesia?

Dilihat 443 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

    belanda indonesia

Bila membahas tentang keturunan orang Belanda di Indonesia atau keluarga Belanda-Indo maka kita harus menarik ingatan kita ke belakang artinya kita harus melihat sejarah masa lalu yaitu awalnya masuknya Belanda ke Indonesia. Belanda merupakan salah satu negara yang telah menjajah Indonesia. Adapun kedatangan Belanda ke Indonesia bermula pada tahun 1598 ketika Belanda dibawah pimpinan Jacob Van Neck telah datang ke Banten. Di daerah Banten tersebut, bangsa Belanda diterima dengan hangat oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat telah banyak mengalami kerugian akibat tindakan bangsa Portugis. Dengan latar belakang tersebut, masyarakat Banten berharap dengan kedatangan bangsa Belanda ke daerah mereka dapat membantu masyarakat di dalam mengusir Portugis. Melihat kondisi tersebut, Belanda merasa sangat diuntungkan. Karena Belanda dengan mudahnya mendapatkan rempah-rempah, baik dari Banten maupun dari Tuban di Jawa Timur. Segala sesuatu yang diperoleh oleh Belanda tak lepas dari bantuan masyarakat Banten tersebut.


Dengan penjajahan Belanda tersebut yang dalam catatan sejarah Indonesia selama 350 tahun maka cukup banyak jumlah tentara Belanda yang ditugaskan ke Indonesia. Saat itu mereka banyak yang memadu kasih dengan perempuan Indonesia sehingga banyak dari mereka yang akhirnya mempunyai anak. Khusus perkawinan pribumi dan Belanda dikenal dengan istilah blasteran atau Belanda-Indo. Dalam arti yang lebih luas, keluarga Belanda-Indo adalah kata keadaan yang menerangkan sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia dan Belanda.

Banyaknya keturunan Indo yang menetap di Indonesia sudah pasti ada sejarahnya, untuk jelasnya yuk kita simak awal mulanya berikut ini :


Berakhirnya Masa Penjajahan Hindia Belanda di Indonesia


Penjajahan Belanda terhadap Indonesia benar-benar berakhir saat Pemerintah Jepang melakukan penyerangan. Tanggal 27 Februari 1942 tentara Jepang berhasil mengalahkan armada gabungan dari Negara Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia. Kemudian, di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, tentara Jepang mulai menginjakkan kaki ke Pulau Jawa. Di sana Letnan Jenderal Hitoshi Imamura mengancam akan menyerang Belanda apabila tidak segera menyerah. Pada akhirnya setelah mengalami kekalahan terus menerus dari pihak Jepang, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer sebagai Jenderal Hindia Belanda menyerah dan dan ditangkap. Hal ini menjadi tanda dimulainya masa penjajahan Jepang di Indonesia sekaligus berakhirnya sejarah penjajahan Belanda di Indonesia.


Meskipun penjajahan Belanda sudah berakhir di Indonesia tetapi banyak di antara tentara Belanda itu yang baru tahu bila mereka punya anak di Indonesia bertahun-tahun justru setelah mereka pulang ke Belanda. Tapi, tak sedikit pula yang sempat menggendong anaknya ketika masih bayi. Kebanyakan tentara Belanda itu terpaksa meninggalkan anak mereka saat harus pulang ke negara asal. Mereka lalu menikah lagi dengan perempuan Belanda. Keadaan inilah yang mengakibatkan banyaknya anak-anak keturunan Belanda yang hingga saat ini menetap di Indonesia.


      zaman penjajahan Belanda

Kemudian pemerintah Indonesia yang dipimpin presiden Soekarno memberi pilihan kepada orang-orang keturunan Belanda yang disebut keluarga Belanda-Indo boleh menetap di Indonesia atau pergi ke Belanda selamanya. Aturan lainnya adalah bagi orang-orang Indo yang saat itu berada di Belanda tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. Sebab, pemerintah Indonesia sudah mencabut paspor mereka yang berstatus berkewarganegaraan Hindia-Belanda.


Tapi, banyak pula orang Indo itu yang kehilangan dokumen penting mereka seperti paspor. Sehingga banyak keluarga Belanda-Indo yang masih tinggal di Indonesia dan tidak bisa kembali ke negeri Belanda.

Kebanyakan keluarga Belanda-Indo berkewarganegaraan Belanda, namun mereka tidak bisa membuktikan kewarganegaraan mereka dengan suatu dokumen lantaran kehilangan dokumen (paspor). 

Alhasil, keluarga Belanda-Indo yang masih tinggal di Indonesia mereka harus kehilangan hak mereka sebagai warna negara Belanda seperti, uang pensiun; uang tunjangan sosial; dan lain-lain yang lazim diterima warga negara Belanda.


Menurut catatan sejarah, awal mula keturunan Indo dimulai sejak VOC menancapkan kukunya di Batavia. Dalam buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, penulis Reggie Baay, menuliskan awal masa kolonisasi Hindia Belanda. Dituliskan para pejabat Belanda datang tanpa disertai istri. Ini menjadi alasan mereka untuk mencari pasangan wanita pribumi yang dikenal dengan istilah gundik atau Nyai.

Keberadaan nyai sepenuhnya karena kepentingan seksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia. Dari sisi ekonomi, seorang Nyai berada diatas rata-rata. Nyai memakai baju indah, juga tusuk konde emas.

Tapi dari sisi moral, Nyai dianggap rendah. Tapi, jika sang Nyai pandai, ia bisa mengangkat derajat keluarganya dari kemiskinan. Mempekerjakan saudaranya hingga mendapat kepercayaan penuh seputar uang.


Tahap Terjadinya Migrasi

Antara tahun 1945 dan 1965 diperkirakan terdapat 300.000 orang Belanda, Indo, ataupun orang Indonesia yang memilih pergi/kembali ke Belanda. Migrasi ini terjadi secara bergelombang. Banyak di antara mereka belum pernah ke Belanda sama sekali.

Paling tidak terjadi migrasi dalam lima tahap:

  • Tahap pertama, 1945-1950: setelah penyerahan Jepang, sekitar 100.000 orang tawanan dibebaskan Jepang dan dipulangkan ke Belanda, meskipun sejumlah orang memilih bertahan di Indonesia dan mengalami masa sulit selama Perang Kemerdekaan.
  • Tahap kedua, 1950-1957: Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, sejumlah tentara dan pegawai pemerintahan Belanda dipulangkan, setelah diminta memilih. Di antara mereka banyak orang-orang bekas KNIL: 4000 orang Maluku dan juga tentara Belanda asal Afrika. Jumlah total tidak diketahui. Proses ini menyulut terjadinya Pemberontakan Republik Maluku Selatan
  • Tahap ketiga, 1957-1958: Setelah "Nieuw-Guinea-kwestie", sekitar 20.000 orang dipulangkan dari Papua ke Belanda.
  • Tahap keempat, 1962: setelah Belanda diharuskan meninggalkan Papua dan Papua diserahkan kepada UNTEA, sekitar 14.000 personal Belanda dipulangkan. Pada masa UNTEA pula terjadi emigrasi sekitar 500 orang Papua ke Belanda.
  • Tahap kelima, 1957-1964: Setelah Indonesia memberlakukan undang-undang kewarganegaraan (UU 62/1958), yang memaksa orang-orang Eropa-Indonesia harus memilih kewarganegaraan. Jika ingin menetap mereka harus melalui proses naturalisasi dan jika ingin tetap sebagai orang Belanda (Europeens) mereka harus meninggalkan Indonesia. Pada masa ini juga banyak terjadi emigrasi dari orang-orang keturunan asing yang tidak ingin menjadi warga negara Indonesia.

Semenjak Orde Baru, orang Eropa-Indonesia atau Belanda-Indo di Indonesia hanya merupakan bagian sangat kecil dari penduduk Indonesia. Peraturan imigrasi yang ketat praktis tidak memungkinkan masuknya orang Eropa ke Indonesia tanpa melalui naturalisasi yang memakan waktu bertahun-tahun. Secara kultural mereka biasanya terserap ke dalam kultur kosmopolitan Jakarta, atau kultur lokal tempat mereka tinggal. Mereka dapat dikatakan bukan merupakan subkultur yang khas di Indonesia.


keturunan Indo-Belanda

dari kiri ke kanan : Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Kim Jeffery Kurniawan

(contoh orang Indonesia naturalisasi)

Keadaan yang agak berbeda terjadi di Belanda. Badan statistik Belanda, CBS, pada tahun 1990 mencatat 472.600 orang penduduk Belanda memiliki keturunan Indonesia, 187.700 di antaranya lahir di Hindia Belanda/Indonesia. Menurut laporan demografi tahun 2003, pada tahun 2001 tercatat 458.000 orang yang merupakan generasi pertama dan kedua keturunan Hindia Belanda. Di Belanda mereka merupakan kelompok minoritas yang signifikan dan memiliki kekhasan budaya tersendiri. Secara statistik mereka masih dipisahkan dan dianggap sebagai kelompok minoritas terbesar, sekaligus sebagai kelompok minoritas yang paling terintegrasi. Festival tahunan Pasar Malam Besar merupakan kegiatan besar dari masyarakat Eropa-Indonesia di Belanda. Krancher, seorang warga negara AS keturunan Eropa-Indonesia dan pernah menetap di Indonesia, mencatat secara kritis adanya "kebangkitan kembali" pada generasi ketiga keturunan kaum Indo di Belanda.


Keturunan Eropa-Indonesia juga tersebar di seluruh dunia, baik langsung dari Indonesia atau pun dari Belanda. Banyak di antara mereka tinggal di Amerika Serikat, Kanada atau Inggris, beberapa di antaranya menjadi orang yang cukup terkemuka.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang