Bisakah kita menyembuhkan HIV/AIDS dengan cara membuat sel imun umpan dan vaksin HIV?

Dilihat 5,18 rb • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

HIV/AIDS bukanlah virus yang baru, terutama di Indonesia. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1987, dan sudah menjangkit 690,000 jiwa pada tahun 2015. 


Sejak pertama kali ditemukan, belum ada obat yang dapat benar-benar menyembuhkan penyakit HIV. Penelitian masih berlanjut dalam bidang ini. Beberapa metode yang sudah coba dilakukan ialah menggunakan sel imun sebagai umpan dan vaksin. 


Namun kedua metode ini juga belum bisa dikatakan berhasil. Berikut akan saya jelaskan mengapa kedua metode ini tidak efektif dalam pengobatan HIV.


        hiv/aids



Sel Imun Sebagai Umpan dan Vaksin HIV


Pertama, mari asumsikan ide sel imun sebagai umpan ini mungkin untuk dilakukan (walaupun sebenarnya tidak). Sebenarnya tubuh kita sudah memiliki sel imun secara khusus mampu memproduksi sel imun umpan, namun tubuh kita tidak bisa benar-benar mengontrol sel yang sudah didesain/terprogram tersebut. 


Sel T tidak diprogram untuk dapat membedakan berbagai macam tipe sel yang ingin kita target. Jadi mungkin untuk saat ini, agak mustahil untuk dapat memproduksi sel fungsional yang cukup banyak untuk tujuan tersebut. 


Sel imun yang terinfeksi kemudian akan bertemu dengan sel umpan ini. Hal yang selanjutnya terjadi adalah terpicunya kematian sel dengan cara normal (yaitu melalui spesi oksigen reaktif, perforin, granzyme, granulysin), atau dengan cara apoptosis melalui death receptor


Pertama-tama, untuk menjelaskannya lebih lanjut, tubuh manusia sudah mempunyai sel imun yang bisa mendeteksi dan membunuh sel terinfeksi (contohnya sel natural killer, CTL). Penyakit HIV menginfeksi tubuh dengan cara menghambat fungsi mediasi dari sistem imun yang membantu mengaktifkan sel pembunuh ini. Membunuh sel yang terinfeksi justru akan menyebabkan lepasnya virion baru yang bisa menginfeksi sel lain. 


Pada akhirnya, yang terjadi adalah produksi toksin dan tubuh Anda justru akan membutuhkan lebih banyak sel fagosit untuk menanganinya. Sel fagosit ini adalah tipe sel yang mudah terinfeksi oleh HIV. 

                                 

Kedua, sedang dilakukan beberapa riset yang bertujuan meneliti dan menargetkan penulisan ulang gen HIV saat menginfeksi Limfosit T, dengan memberikannya sistem untuk mengikat dan memotong gen virus dari HIV. 


Sayangnya, HIV bekerja dengan sangat tidak terduga. Cara ini hanya bekerja sekitar dua minggu (CRISPR-Cas9). Pemotongan DNA dari HIV justru akan merangsang DNA kita untuk ‘memperbaikinya’ dengan menempelkan basa ekstra. 


Akhirnya salah satu dari basa ini akan menyebabkan virion tetap berfungsi, yang justru akan meninggalkan sel inang dan menginfeksi sel yang lain. Karena rangkaian/urutan gen tersebut sudah dirubah, justru gen ini akan menjadi kebal dari sel T.



Vaksin HIV


Penelitian tentang pembuatan vaksin untuk HIV/AIDS masih berlangsung. Namun penelitian ini belum memberikan hasil yang signifikan. Vaksin bukanlah seperti robot yang bisa sembarangan kita suntikkan pada tubuh manusia. Semua vaksin bekerja dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh, baik melalui media humoral (antibodi) atau media sel (killer cells). 


Vaksin HIV terbaik yang tersedia sekarang, atau setidaknya yang paling menjanjikan secara uji klinis (dilakukan tahun 2010 dan masih dalam validasi), adalah vaksin yang memanfaatkan pertahanan humoral dan selular. Antibodi akan menarget virus bebas (bebas yang dimaksud adalah virus yang kebanyakan bersembunyi di sel di mana antibodi tidak bisa menjangkaunya), dan mengikatnya agar sel fagosit dapat menyingkirkannya. 


Sel sitotoksik T memiliki reseptor yang khusus di permukaannya yang dapat mengenali molekul tertentu pada permukaan sel terinfeksi. Molekul tersebut akan memberitahu sel sitotoksik untuk membunuh sel terinfeksi tersebut. Namun HIV justru mengambil molekul ini dari sel dan mencegah supaya tidak terdeteksi oleh sel sitotoksik, sehingga killer cell tersebut tidak mendeteksi adanya infeksi yang terjadi.


   vaksin hiv


Menurut pendapat saya , kemungkinan besar pengobatan HIV tidak akan pernah ditemukan. Namun dengan menerapkan terapi profilaktik, rata-rata resiko infeksi pada kelompok yang rawan sudah berkurang. Perlu diingat bahwa obat-obatan profilaktik ini memakan biaya yang cukup tinggi dan hanya berfungsi untuk menghambat replikasi RNA virus HIV, bukan menyembuhkannya. 


Meningkatkan kesadaran juga akan membantu mengurangi penyebaran virus HIV. Jika terus dilakukan secara konsisten, setidaknya angka/jumlah kasus infeksi HIV akan berkurang ke tingkat yang cukup rendah. Kurangnya ketersediaan dan pengetahuan tentang kondom di negara berkembang akan menyebabkan tingginya tingkat penyebaran HIV. Tampaknya sekarang tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini. 


Pengobatan dan penyembuhan HIV masih merupakan bidang yang membutuhkan penelitian lebih jauh. Mengingat bahwa belum ada obat efektif yang ditemukan, lebih baik jika kita mencegah terjadinya HIV/AIDS terlebih dahulu. Kenalilah cara penyebaran HIV. 


Pastikan juga Anda memeriksakan diri secara rutin untuk mengecek infeksi HIV. HIV dapat berdiam di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif selama bertahun-tahun. Waspadalah juga terhadap jarum suntik yang digunakan saat pemeriksaan darah. Pastikan bahwa suntik tersebut dalam keadaan baru dan masih tersegel. Mari kita lawan HIV/AIDS!


Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang