Cinta: Apakah cinta benar-benar bisa bertahan sampai seumur hidup?

Dilihat 573 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Kakek saya meninggal sekitar setahun yang lalu. Ia dalam kondisi kesehatan yang sempurna hingga saat-saat terakhirnya. Tahukah anda apa yang dilakukan nenek saya setelah upacara pemakaman kakek saya? Ia tidur pulas, nyenyak selama dua kali lebih lama dari yang biasa ia lakukan. Orang yang tidak mengenal mereka akan menilai aneh. Mereka tak akan melihat ada cinta disana.


Kakek saya waktu itu berusia 100 tahun. Beliau saat itu sedang dalam kondisi kesehatan yang sempurna, merawat dirinya sendiri dan tak suka menggantungkan dirinya kepada orang lain. Nenek saya bersyukur atas kondisi itu, tapi ia juga sangat sadar betapa tua usia sang kakek. Nenek saya 14 tahun lebih muda. Ia tak menginginkan satu momen pun dimana kakek MUNGKIN akan membutuhkannya dan ia tak bisa disana. Yang artinya, ia sadar akan setiap suara yang ia dengar ketika tertidur, terjaga ketika kakek ke kamar mandi di tengah malam. Dan kemudian, dengan terhuyung-huyung ia bangun di pagi hari supaya kakek bisa makan buburnya tepat jam 9 AM.


Itu adalah tidur akumulasi bertahun-tahun. Ia patah hati, hancur lebur setelah selama 6 dekade hidup bersama kakek saya. Tapi saat itu ia berada disana untuk sang kakek ketika ia dibutuhkan. Itu adalah salah satu wujud cinta yang paling intens yang pernah saya tahu. Ia setia padanya. Itu adalah sesuatu yang membuat saya terpesona, sesuatu yang saya tak yakin mampu melakukannya.


Hampir satu dekade yang lalu, saya mengalami satu jatuh cinta yang paling intens. Saya menyebutnya sebagai cinta remaja. Semacam cinta yang memberi anda kupu-kupu, seakan-akan segala hal tentang orang itu adalah sempurna. Lalu saat kami sedang menjalani sebuah hubungan, saya ingin memiliki dia. Saya ingin menghabiskan setiap kehidupan saya, setiap menit untuk berbicara padanya. Setelah beberapa saat, saya tersadar bahwa cinta semacam itu tak baik bagi kami berdua. Saya belajar untuk memberikannya ruang. Meskipun begitu, cinta kami saat itu intens.


Kami menikah, dan hampir satu dekade bersama telah menciptakan stabilitas dalam hubungan kami. Kapal kami berlayar mulus, yang berayun dengan jumlah yang pas. Ada angin lembut bertiup. Keseimbangannya sempurna. Kurang dari sepuluh tahun, saya melihat cinta saya padanya berubah dalam wujud yang berbeda-beda. Saya melihat nenek saya dan penasaran bagaimana ia mencintai ketika di masa mudanya. Saya lalu menjadi ingin tahu bagaimana saya akan mencintai ketika saya bertambah usia. Tentu saja, cinta bisa bertahan seumur hidup. Hanya saja tak harus dalam wujud yang sama.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang