Bagaimana menjadi seorang pemeluk agama Yahudi di Indonesia?

Dilihat 5 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1



Yudaisme merupakan salah satu agama kuno, yang sampai sekarang masih bertahan hidup. Agama ini juga mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap dua agama besar sekarang ini, yaitu Kristen dan Islam. Ketiga agama ini (Yudaisme, Kristen dan Islam) mempunyai beberapa kesamaan seperti percaya Adam adalah manusia pertama dan nenek moyang seluruh manusia, Ibrahim adalah seorang Nabi, dan kitab suci Taurat sebagai wahyu Allah. Meski demikian ada juga perbedaan yang beberapa di antaranya sangat mendasar.


Yahudi adalah agama tribal/kesukuan yang hanya bisa dianut oleh bangsa/keturunan Yahudi. Agama ini tidak bisa disebarkan ke luar dari suku/keturunan Yahudi. Oleh karena itu jumlahnya tidak berkembang. Hanya sekitar 14 juta pemeluknya di seluruh dunia. Sementara agama Kristen dan Islam karena disebarkan ke seluruh manusia dipeluk oleh milyaran pengikutnya.


Yahudi di Indonesia berawal dari kedatangan penjelajah Eropa awal dan pemukim pertama. Keberadaan orang-orang keturunan Yahudi di Tanah air memang sudah berlangsung lama.  Ada sekitar 5.000 orang keturunan Yahudi di Indonesia. Mereka semua adalah warga negara Indonesia. Keberadaan mereka disatukan melalui komunitas. Di sana, mereka berkumpul dan mempelajari ajaran Yudaisme. Saat ini, katanya, ada beberapa kelompok komunitas Yahudi di Nusantara. Di antaranya  berada di Jakarta, Surabaya dan Manado. Jumlahnya pun diperkirakan mencapai 5.000 orang. Namun, dari ribuan keturunan Yahudi, hanya sekitar 500 yang memeluk agama Yahudi (Yudaisme).


Jadi sebenarnya bagaimana sejarah Yahudi di Tanah Air ini? Dan apakah penganut Yudaisme diterima dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Mari kita lihat uraiannya lebih lanjut di bawah ini.



Sejarah Yahudi di Tanah Air


Masuknya  Yahudi di Indonesia ada tiga kloter. Pertama, mereka pedagang-pedagang yang datang dari Yaman, Maroko dan Irak yang masuk ke Indonesia. Mereka ini kelompok Yahudi Timur Tengah. Mereka ada yang Islam dan ada yang Yahudi.  Kloter kedua, tahun 1600-an dari kapalnya Vasco da Gama. Mereka orang Yahudi tetapi menggunakan kalung salib. Mereka bekerja sama dengan Portugis. Mereka kemudian membantu orang-orang Yahudi yang dipaksa untuk pindah agama oleh orang Spanyol untuk mencari tanah.  Kemudian mereka lari ke India atau ke Malaysia. Mereka membuat kelompok. Mereka menjadi katolik, tetapi masih Yahudi. Kemudian masuk ke Maluku, sampai ke Biak, lalu ke Timor. Kemudian kloter ketiga waktu VOC masuk. VOC ini diyakini 80 persen anggotanya merupakan orang Yahudi, tetapi tidak terlihat.


Jadi, orang Yahudi sudah berdatangan ke Nusantara jauh sebelum bangsa Eropa datang. Dalam satu dokumen yang terdapat di Mesir tercatat bahwa pada awal abad 10 ada seorang bernama Ishaq Yahuda. Nama ini jelas nama keturunan Yahudi namun penulisan namanya sudah diarabisasi. Dalam bahasa Ibrani biasa ditulis Isac. Dalam dokumen itu tercatat bahwa dia singgah ke Sriwijaya, sekarang Palembang, untuk berdagang.

Dalam dokumen yang lain tercatat pada abad 13 atau sekitar 1290-an ada seorang Yahudi yang berdagang di Barus, salah satu kota bandar tertua di Nusantara, yang terletak di pesisir Barat pulau Sumatera. Orang Yahudi itu berasal dari Mesir. Sayangnya nama orang Yahudi tidak disebutkan.





Yahudi Dalam Masyarakat Indonesia


Keberadaan orang-orang keturunan Yahudi dalam masyarakat Indonesia memang bukan untuk mencari eksistensi. Mereka mengumpulkan saudara sedarah sesama Yahudi buat menyatukan keturunan yang terpisah. Di komunitas, mereka belajar tentang ajaran yudaisme, yang menjadi tradisi dari leluhur untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.  Meski demikian tidak bisa dipungkiri jika isu konflik di Timur Tengah sana turut membawa dampak bagi keberadaan keturunan Yahudi ini.


Sudah lama komunitas Yahudi ada di Indonesia. bahkan hingga saat ini. Kalau keturunan Yahudi mungkin  jumlahnya ada sekitar 2.000 orang. Namun, tidak semua dari mereka memeluk agama Yahudi. Yang benar-benar kembali ke akar dan mengikuti Yudaisme tidak sampai 200 orang.


Tidak mudah menjadi pemeluk agama Yahudi di Indonesia. Khususnya untuk mendapatkan daging yang kosher atau buku-buku agama. Namun, menurut mereka menjadi Yahudi (penganut Yudaisme) bukan karena gengsi, bukan karena keren, atau hanya ikut tren. Ini dikarenakan sungguh-sungguh pencarian karena Tuhan. Sehingga apapun tantangannya bisa diatasi.


Tidak mudah melacak dan mencari tahu soal keberadaan orang-orang Yahudi di Indonesia. Sebagian komunitas Yahudi yang berada di Indonesia ini memang menutup diri.  Namun, sebagian yang lain  menerima dengan tangan terbuka, mereka sepakat: komunitas Yahudi harus keluar dari balik tirai dan menunjukkan kehadiran mereka di tengah keberagaman Indonesia.


Alasan komunitas Yahudi menutup diri rapat-rapat, yaitu demi alasan keamanan. Ketakutan atas vandalisme dan masa lalu kelam yang dialami leluhur mereka merupakan alasan utama.  Apalagi, persoalan Yahudi begitu sensitif di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Masih banyak masyarakat di Tanah Air menganggap orang Yahudi jahat, kejam, bengis. Pandangan negatif muncul lantaran ketidaktahuan dan tidak pernah bergaul dengan orang Yahudi. Mereka menganggap orang-orang Yahudi di mana saja sama, kejam seperti Israel menjajah bangsa Palestina. Israel sebagai rezim pemerintahan memang merampas harta dan tanah Palestina. Sehingga banyak orang menganggap Yahudi sama dengan Zionisme. Padahal ini dua hal berbeda. Yahudi adalah istilah yang merujuk pada etnik dan agama, sedangkan Zionisme adalah gerakan politik untuk mendirikan negara Israel di Palestina.



Pengakuan Pemerintah Terhadap Yahudi


Keberadaan agama ataupun aliran kepercayaan lain, selain 6 agama resmi (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) dilindungi dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945.  Oleh karenanya pemerintah Indonesia mengakui keberadaan agama Yahudi atau Yudaisme di Indonesia dan bebas menjalankan agamanya. Meskipun mendapat pengakuan keberadaan, pemeluk agama Yahudi tidak akan mendapatkan pelayanan dari negara, seperti yang diperoleh penganut agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.


Pengakuan pemerintah tidak berhenti di situ. Pemerintah juga memberikan jaminan hak dan kewajiban serupa bagi penganut agama dan aliran kepercayaan lain, termasuk agama Yahudi ini.  Sepuluh macam hak yang diatur konstitusi, juga melekat pada para penganut Yudaisme. Hak itu mencakup hak hidup, hak ekonomi, sosial, dan politik.  Jadi tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 UUD 1945 Intinya, pemerintah membiarkan para pemeluk agama dan kepercayaan tersebut berkembang. Syaratnya,  mereka tidak melanggar peraturan perundangan.


Di sektor kependudukan, penganut Yudaisme kini tidak lagi harus mencantumkan satu dari enam agama besar di Indonesia di kolom agama Kartu Tanda Penduduk. Sebagaimana diatur Kementerian Dalam Negeri, pemeluk Yudaisme dapat mengosongkan kolom itu.




Nah itulah artikel singkat mengenai agama Yahudi atau Yudaismae di Indosnesia. Intinya, Yahudi adalah istilah yang merujuk pada suatu suku bangsa, tradisi dan kebudayaan. Istilah itu bebas dari gerakan politik yang muncul kemudian. Jadi jangan samakan Yahudi dengan Zionisme. Karena sebagai Bangsa Indonesia kita  harus mempunyai  rasa saling mengerti dan menghargai di antara para pemeluk agama. Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. (Baca: Mengapa Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel?)

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang