Bagaimanakah perbedaan budaya antara orang Cina di Indonesia dengan di Cina sendiri?

Dilihat 633 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Negara kita tercinta ini adalah negara besar yang terdiri dari beberapa kepulauan besar. Penduduknya ada yang berasal dari Melayu, Jawa, Bugis, dan yang lainnya. Namun, Indonesia juga sering membuat penduduk dari negara lainnya tertarik untuk tinggal menetap di Indonesia karena beberapa alasan. Salah satunya adalah orang Cina di Indonesia, karena seperti yang kita tahu, orang Cina telah tersebar hampir di seluruh wilayah negara-negara di dunia. Hal ini dikarenakan kelihaian orang Cina dalam hal berdagang dan menjalin relasi, ditambah lagi negara asal mereka sudah sangat penuh dengan jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya. 


Dalam artikel ini, saya akan menceritakan bagaimana keturunan Cina bisa ada di Indonesia dan juga tentang perbedaan budaya Cina di Indonesia dan di negara asalnya, Cina.


Orang Cina di Indonesia



Sejarah Orang Cina di Indonesia


Sebenarnya apa yang membuat orang Cina berada dan tertarik untuk menetap di Indonesia? Banyak orang juga yang mengajukan pertanyaan ini. 


Kedatangan Cina dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Yaitu sekitar abad ke-11, banyak orang Cina yang merantau ke seluruh wilayah di Asia Tenggara, dan tujuan utama mereka adalah untuk berdagang dan juga memperbaiki kehidupan mereka. Karena pada masa itu diketahui bahwa Tiongkok sedang dalam keadaan kacau dikarenakan jatuhnya Dinasti Ming dan juga pasca perang candu yang mengakibatkan pergolakan, kerusuhan sosial, serta kemelaratan rakyatnya. Kebetulan pada saat itu juga di Asia Tenggara sedang terjadi penjajahan kolonialisme barat yang membuat mereka membutuhkan banyak pekerja untuk mengeksploitasi kekayaan alam di negara-negara jajahannya. Hal ini juga merupakan salah satu faktor banyak para imigran dari Tiongkok yang bekerja di Asia Tenggara dan memilih untuk menetap baik untuk sementara maupun memilih menetap selamanya di Indonesia. 


Kehidupan perkumpulan orang Cina sejak dulu memang mudah untuk dikenali, karena mereka kerap berkumpul dengan sesama orang Cina dan terus mempertahankan adat istiadatnya serta kebudayaan tradisi leluhurnya. Sejak dulu juga orang Cina di Indonesia dikenal sebagai orang yang ulet dan pekerja keras, terutama dalam hal berdagang, sampai-sampai Belanda selalu menjadikan orang Cina dalam perantara dagang mereka. 


Memang sejak dahulu kala, orang Cina terkenal akan kepiawaiannya dalam berdagang dan mengolah uang.


Dinasti Ming



Kebudayaan Orang Cina di Indonesia


Tentu saja perpidahan letak geografis yang dialami oleh para imigran Tiongkok di Indonesia dan pengaruh kebudayaan dari negara tempat tinggal baru mereka telah membuat kebudayaan orang Cina di Indonesia mengalami perubahan. 


Saya akan menceritakan berdasarkan apa yang saya rasakan. Saya adalah orang keturunan setengah Cina Indonesia dan setengah orang Cina. 


Ibu saya adalah generasi kelima Cina Indonesia yang lahir dan dibesarkan di Bangka. Sedangkan ayah saya berasal dari pedesaan Guangdong dan berimigrasi ke Hong Kong pada tahun 70-an ketika kebijakan The Touch Base Policy masil berlaku. Saya tumbuh di antara kedua negara yaitu Indonesia dan Hong Kong. Untuk alasan ini, saya mungkin lebih bersentuhan dengan perbedaan budaya dan sosial dari kedua bagian yang berasal dari budaya Cina di Indonesia dan juga di Hong Kong, Cina. 


Budaya Cina di Indonesia


Berikut adalah beberapa perbedaan kebudayaan Cina di Indonesia dan juga di Hong Kong yang saya rasakan:


  • Budaya berbahasa: Ibu dan ayah saya berada di dua sisi spektrum yang berlawanan. Ibu saya tidak berbicara setiap dialek Cina, dia tahu bahasa Bangka meskipun hanya dalam kondisi tertentu, sedangkan ayah saya fasih dalam Bahasa Mandarin, Kanton, Teochew, dan Hokkien. Tentu ini sangat berbeda dengan anggapan orang Indonesia bahwa orang Cina di Indonesia biasanya bisa berbahasa Cina, namun tidak untuk Ibu saya karena keluarganya tidak pernah mengajarkannya. 
  • Perbedaan agama: Keluarga ibu saya beragama Katolik, keluarga ayah saya adalah umat Buddha. Keluarga ayah saya berdoa kepada nenek moyang mereka sedangkan keluaga ibu saya tidak. Tahun baru Cina dirayakan oleh keluarga saya di Indonesia dengan acara makan malam yang menyenangkan dan saling memberikan dan menerima angpao. Sedangkan bagi keluarga saya di Hong Kong selain berebut untuk mendapatkan angpao, kami mempunyai perayaan dan reuni setiap malam yang dilakukan oleh semua anggota keluarga besar kami, kami melakukan pemujaan dengan menyalakan dupa untuk memuja leluhur dan juga yang tidak terlewatkan adalah tradisi mabuk sepanjang malam perayaan. Selain itu terdapat beberapa perbedaan hidangan saat Tahun Baru Imlek di Indonesia dan di Cina. 
  • Beberapa perayaan yang berbeda: Jika keluarga Indonesia saya merayakan hari Ibu, keluarga saya di Hong Kong merayakan Musim Dingin Solstice dengan tang yuan. 
 Budaya Cina


  • Kepercayaan terhadap feng shui: Keluarga ayah saya adalah pengikut setia feng shui sedangkan keluarga ibu saya hanya samar-samar mengerti dasar-dasar elemennya.  
  • Kedekatan keluarga: Keluarga ibu saya juga lebih mesra, menggunakan kata-kata seperti "sayang" dan "kangen" cukup sering sambil saling memeluk. Sedangkan keluarga ayah saya di Hong Kong beranggapan bahwa Tuhan melarang jika anggota keluarga dari pihak ayah saya begitu sering menunjukkan kasih sayangnya karena alasan kedewasaan dan juga ketegasan. 
  • Senioritas: Dalam hal hubungan keluarga, dalam keluarga saya di Indonesia senioritas adalah yang paling penting, sedangkan keluarga Hong Kong saya menganggap bahwa bukan hanya senioritas saja yang penting, jenis kelamin juga sangat penting. Pada keluarga Indonesia saya, nenek saya adalah orang yang paling dihormati, diikuti oleh orangtua saya, dan kemudian anak-anak. Dalam keluarga Hong Kong saya berlaku seperti ini, kita menghormati kakek, ayah, paman, saudara saya, sepupu laki-laki saya terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan menghormati nenek, ibu, dan bibi, sepupu perempuan saya dan saya.  

Budaya orang Cina di Indonesia


Selain beberapa perbedaan yang mencolok di atas, ada beberapa budaya yang terkadang membuat saya keheranan dari sudut pandang budaya lainnya. Seperti dalam hal menikahkan anak, keluarga Indonesia saya akan baik-baik saja dengan keputusan saya menikahi siapapun yang saya cintai. 

Berbeda dengan keluarga Hong Kong saya yang menginginkan saya hanya menikah dengan pria Cina kaya (dari Cina) dan melahirkan anak laki-laki juga. Selalu ingat bahwa jenis kelamin adalah hal yang diutamakan bagi orang Cina di Cina, oleh sebab itu orang Cina biasanya akan merasa lebih bangga jika dia memiliki anak laki-laki karena dinilai akan lebih kuat dan dinilai mampu merubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik kelak.


Budaya Cina di Cina

Bisa dikatakan bahwa perbedaan budaya Cina yang kedua orang tua saya miliki cukup membuat saya kebingungan. Perbedaan kebudayaan juga akan terlihat dalam hal merawat bayi, ibu saya terus berbenturan dengan pihak ayah saya atas hal-hal yang paling dasar mengenai cara merawat bayi. 

Ibu saya gemar menggunakan minyak telon pada bayi dan percaya bahwa menggosok minya telon itu bagus untuk bayi. Keluarga Hong Kong saya tidak percaya pada barang-barang, kadang-kadang hanya memandikan bayi mereka beberapa kali dalam seminggu dan ini membuat Ibu saya ketakutan karena terbiasa dengan iklim tropis Indonesia dan sering memandikan bayi untuk membantu menurunkan suhu badan bayi. 

Ketika sepupu bayi saya di Hong Kong makan daging babi yang padat beserta nasi sebelum giginya tumbuh, saya ingat ibu saya menjadi sangat ngeri melihatnya. 

Dia bahkan berbalik kepada saya dalam kepasrahannya dan berkata, "De, adat mereka berbeda sekali dengan adat kita, orang Indonesia mana mungkin bisa seperti ini mengurus anak.” 

Saya yang juga merasa bingung saat itu hanya bisa tersenyum dan mengiyakan perkataan Ibu saya.


Perbedaan budaya Cina di Indonesia dan di Cina


Dalam hal makanan, kedua keluarga saya makan hal-hal yang berbeda. Makan malam dengan keluarga Indonesia saya terdiri dari hal-hal seperti nasi goreng, beras merah, nasi kuning, mie, kangkung belacan, soto, ayam kuning goreng, rendang, dan bakso. Kami mungkin juga memiliki hal-hal seperti ikan kukus, sup sarang burung, atau tumis daging goreng. Ditambah lagi nenek dari Ibu saya sering membuat beberapa kue lapis yang luar biasa lezat. 

Selama makan malam dengan keluarga Hong Kong saya, kami punya makanan rumahan utama yaitu makanan Teochew, sehingga akan banyak sekali ikan kukus tawar, tumis daging babi, ayam kukus, tumis sayuran (biasanya brokoli) dan kadang-kadang sesuatu yang istimewa seperti selai jeli babi, sup sirip ikan hiu, atau abalone. 

Saat saya dan Ibu saya membuat bakso di rumah kakek dan nenek saya di Hong Kong, kakek dan nenek saya terus menatap hidangan baso yang kami buat tanpa mengetahui bagaimana cara untuk memakannya.


Itulah beberapa perbedaan budaya yang saya rasakan dari kedua pihak keluarga Ibu saya di Indonesia dan keluarga ayah saya di Hong Kong. Jika anda bertanya apakah saya merasa terganggu dengan perbedaan kebudayaan ini? Sejujurnya tidak, karena saya melihat perbedaan-perbedaan tersebut seperti pengaruh sebuah tradisi negara yang memang menarik untuk dibahas.


Namun saya tekankan lagi, beberapa perbedaan mungkin akan terlihat ketika anda bertanya tentang budaya yang dimiliki oleh masing-masing keluarga Cina di manapun. Yang saya rasakan adalah kebudayaan dari keluarga ayah saya di Hong Kong yang merupakan daratan asli Cina, menunjukkan beberapa sifat yang lebih ekstrem seperti ketegasan, keuletan, dan senioritas yang memang telah diatur pada tradisi Cina sejak abad ke 1920-an. 

Meskipun begitu perlu disadari bahwa setelah saya teliti ada juga beberapa kesamaan orang Cina dan orang Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kamu!

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang