Jika astrologi adalah bohong, mengapa orang-orang dengan tanda zodiak yang sama berbagi ciri-ciri kepribadian yang sama?

Dilihat 474 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Mungkin sebelumnya Anda pernah mendengar perkataan "jangan pernah berjalan dibawah tangga, karena hal buruk akan menimpa Anda". Jika suatu pagi Anda berjalan dibawah tangga, kemudian pada hari itu Anda kehilangan sepuluh pound dari dompet Anda, kejadian buruk ini akan memperkuat prasangka Anda dan "menghubungkannya" dengan tangga (karena telah berjalan dibawahnya).

Mari kita lihat kasus yang lain (secara fakta hipotesis),  contohnya: sehari sebelum Anda mendengar kabar buruk tentang kesehatan seorang kerabat atau mobil Anda dicuri di lain waktu - apakah Anda menghubungkan kejadian-kejadian buruk ini dengan "sesuatu?", jika tidak ada prasangka yang bisa menguatkan/menghubungkan kejadian buruk ini dengan apapun, maka tidak ada satu pun kesimpulan yang bisa ditarik. 


Jika Anda memang benar-benar tertarik untuk melihat kasus ini dari sudut pandang ilmiah, maka Anda harus mengingat kejadian buruk yang telah menimpa Anda - (walaupun Anda tidak berjalan di bawah tangga) -  untuk mendapatkan sebuah gambaran statistik yang akurat. Tentu saja, mitos seperti ini timbul pada dasarnya memiliki tujuan yang baik. Tangga merupakan salah satu peralatan yang digunakan seseorang untuk bekerja. Oleh karena itu berjalan di bawahnya merupakan hal yang kurang bijak (karena dapat mengganggu pekerjaan orang tersebut). Dengan pemikiran yang sama, saya mencoba untuk memahami kepercayaan para orang tua yang terkadang menggunakan mitos "tanda lahir/zodiak" untuk mendapatkan partner/pasangan hidup yang cocok dan sesuai. 


Jika dilihat dari sisi Astrologi, dapatkah Anda menggambarkan ciri-ciri umum untuk setiap zodiak? apakah ada aturan tertulis? Ambil sample sekitar 2000 orang, beri mereka daftar pertanyaan yang harus dijawab - nama, tanggal lahir, tempat kelahiran, negara asal, jenis kelamin, hewan kesayangan, dan pertanyaan-pertanyaan menarik lain yang dapat memberi gambaran tentang tujuan akhir dari survey tersebut. Kemudian hasil survey ini dianalisa secara statistik (menggunakan Excel contohnya), lihatlah apakah hasil analisa tersebut sesuai dengan harapan anda. Kalaupun ada dari zodiak tertentu yang memiliki ciri-ciri/karakter yang sesuai, apakah lantas menikah dengan mereka nantinya dihubungkan dengan posisi planet atau musim tertentu? Apakah seseorang yang lahir di musim panas akan memiliki kepribadian musim panas, yang lahir di musim dingin akan memiliki penampilan luar yang "dingin dan berawan"? Apakah hal ini terjadi sebaliknya di Australia? Survey yang Anda lakukan harus bersifat global/menyeluruh agar dapat menjawab pertanyaan atau mewakili fenomena/kejadian secara umum. Bagaimana dengan mereka yang lahir di belahan bumi khatulistiwa? Apakah seseorang yang lahir pada posisi planet Mars benar-benar memiliki sikap, cara bertindak yang dominan seumur hidup mereka ? Apa yang dikatakan oleh survey ?


Ada penelitian menarik yang dilakukan oleh Bertrand Forer. Dia memberikan murid-muridnya daftar sifat/ karakter dan diberi kesan seolah-olah bahwa daftar tersebut telah disesuaikan khusus untuk masing-masing orang. Para siswa harus memberi nilai/skor untuk ketepatan/keakuratan sifat/karakter pada skala 0 sampai 5. Hasilnya secara rata-rata adalah 4.26 - hal ini menunjukkan sebagian besar siswa berfikir bahwa daftar pertanyaan yang diajukan adalah akurat. Padahal kenyataannya semua siswa menerima daftar pertanyaan yang sama


Kesimpulan terakhir saya adalah  Anda telah menanamkan di dalam pikiran Anda keraguan/ketidakpercayaan akan terjadinya suatu hal atau berlakunya mitos yang dipercaya luas. Keraguan tersebut terus berdengung dalam pikiran Anda bagaikan lonceng. Anda mungkin menganggap "omong kosong" tentang kekuatan ramalan bintang astrologi. Ikuti suara dengungan tersebut! Memiliki rasa keraguan atau ketidakpercayaan adalah hal yang wajar. Kita sebagai manusia memiliki pola masing-masing, menyukai fiksi dan memiliki imajinasi yang tinggi - hal ini juga amatlah wajar. Belajar untuk memisahkan yang mana kenyataan, yang mana fiksi sangatlah penting, lalu kuncinya adalah " ikuti rasa ragu yang timbul ". Ketika kita merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar, - tidak sesuai dengan pemikiran dan harapan kita - itulah saatnya dimana kita harus berfikir lebih jernih dan diperlukan pembuktian. Jika tidak bisa ditemukan bukti yang cukup, bahkan jika tidak mungkin untuk dibuktikan, maka Anda dapat mengabaikan mitos/kepercayaan-kepercayaan tersebut.


Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang