Jika bukan untuk perang salib yang keempat, apakah kerajaan Byzantine (Romawi) akan bertahan dan berkembang menjadi negara modern sama seperti Prancis, Inggris, Spanyol atau Rusia?

Dilihat 543 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Perang salib keempat memang benar meningkatkan nasionalisme Romawi, dan tidak justru mengganggunya. Bahkan sebelum abad ke-13, Kerajaan Romawi memiliki kualitas yang paling – meski tidak semua – mendefinisikan sebuah negara yang modern. Pemerintahan terpusat, perbatasan yang dijaga ketat, satu bahasa, satu agama, dan populasi yang homogen. Diatas semua itu, akan tetapi, mereka mendapatkan patriotisme dari kebanggaan yang diambil dari asal muasal kuno negara mereka, yang dilambangkan dari garis keturunan kaisar dan kota Konstantinopel itu sendiri.


Dalam perbincangan sehari-hari saat seseorang berbicara tentang sejarah awal Romawi, ia akan membicarakan tentang Augustus dan para pewarisnya atau dasar pendirian Konstantinopel. Begitu banyak hal penting mereka tempatkan pada kelanjutan dan keberlangsungan negara, sehingga mereka dengan sengaja melupakan warisan Yunaninya. Bagi mereka, Yunani adalah masyarakat kuno yang kehebatannya tak terlampaui, yang secara kebetulan mereka berbicara dengan bahasa yang sama serta menduduki wilayah yang sama.


Perang salib keempat mengubah semuanya, sehingga memaksa orang-orang Romawi memikirkan kembali asal muasal Yunani mereka dari sudut pandang yang baru. Mereka masih bangga dengan garis keturunan Kaisarnya (yang telah memindahkan kursinya ke Nicaea), tapi mereka sudah tidak bangga lagi dengan negaranya, saat Konstantinopel bukan lagi bagian dari negara dan kerajaan-kerajaan feodal menduduki sebagian besar tanah leluhur mereka. Perubahan persepsi tentang nasionalisme Romawi ini ditunjukkan dengan baik oleh Kaisar Ioannis Batatzes pada tahun 1239, dalam surat balasannya kepada Paus Gregorius XI yang memerintahkan dia untuk menyerah kepada tentara salib dan gereja Roma.


Di dalam surat itu, Paus dengan hati-hati menghubungkan Batatzes dengan Kaisar “Yunani”, menyindirnya secara tidak langsung bahwa satu-satunya otoritas Romawi yang benar adalah yang berasal dari kota Roma. Surat balasan Batatzes dibacakan tidak lain dengan alasan untuk melihat cara bagaimana ia marah terhadap klaim Kepausan pada otoritas Romawi dan bagaimana ia menggunakan leluhur Yunaninya untuk menjelaskan kepindahan otoritas Romawi sebagai warisan dari kota Roma ke Konstantinopel dan kepada seluruh ras Yunani :


Ioannes Doukas, Raja pengikut setia Kristus dan Kaisar Romawi, kepada Yang Maha Suci Paus Leluhur Roma, Gregorius [...]:

Saat mereka yang dikirim dari Yang Mulia sampai ke Kekaisaranku Yang Agung, mereka memberiku sebuah surat, yang kata mereka itu adalah milik Yang Mulia dan bersikeras bahwa itu ditujukan padaku. Namun aku, melihat isinya yang absurd, tidak dapat mempercayai bahwa itu dari Yang Mulia dan aku berpikir itu berasal dari sesorang yang sangat tidak rasional, yang jiwanya penuh delusi dan kesombongan [...].

Surat ini mengatakan bahwa kebijaksanaan berkuasa di bangsa Yunani kami dan mengalir ke berbagai penjuru tempat seakan-akan dari sumber mata air; dan juga penting bagi kami, siapapun yang sangat dihormati oleh kebijaksanaan ini, dengan tidak melupakan keluhuran tahta anda, sepertinya hal ini adalah sebuah prinsip yang memerlukan banyak kebijaksanaan untuk dimengerti. Namun apa perlunya sang kebijaksanaan untuk memahami apa itu tahta anda? Jika ia berdiri di atas awan-awan atau terbang di suatu tempat, mungkin kami perlu pengetahuan meteorologi untuk memahaminya, dengan petir dan kilat dan lain sebagainya [...].

Namun karena ia tertancap erat di bumi, dan tak ada bedanya dengan tahta keuskupan yang lain, bagaimana bisa pengetahuan atas itu tidak disiapkan untuk semua orang? Kebijaksanaan itu bersumber dari bangsa kami dan bersemi diantara kami semua sebelum diajarkan kepada orang lain [...]

Ada benarnya. Tapi bagaimana bisa anda lupa, atau mungkin anda masih ingat, saat anda menenggelamkan fakta bahwa, sebagai tambahan untuk kebijaksanaan kami yang berkuasa, otoritas imperial di dunia ini juga dianugerahkan pada gen kami oleh Konstantin Yang Agung? [...]

Siapa yang tak tahu bahwa hak dari keturunannya diwariskan ke bangsa kami dan kami adalah keturunannya yang sah? Anda meminta kami untuk tidak mengabaikan tahta anda dan otoritasnya. Sama seperti kami kalau begitu, apakah tidak balik meminta untuk melihat dan mengakui hak keadilan kami untuk otoritas dan kekuasaan di Konstantinopel, yang hak ini berasal dari masa kejayaan Konstantin Yang Agung dan diwariskan olehnya melalui era penguasa-penguasa dari gen kami yang hidup hampir satu milenium, bukankah sudah saatnya? Memang, itu datang dari leluhur saya sendiri, yang merupakan gen dari Doukai dan Komnenoi (tak perlu menyebutkan yang lain), yang keluarganya adalah Yunani.

Orang-orang ini dari bangsaku menguasai di Konstantinopel selama ratusan tahun, dan Gereja Roma beserta pendeta tertingginya menyatakan mereka adalah kaisar-kaisar Romawi. Bagaimana bisa, kalau begitu, apakah terlihat benar jika kami tidak berkuasa, dan anda telah memahkotai kaisar Jean de Brienne? Apa haknya untuk mendapatkan posisi kerajaan dari Konstantin Yang Agung? Hak milik siapa yang dikuasai dalam kondisi ini? Bagaimana bisa anda menyetujui sikap dan tangan-tangan tak adil dan mencengkeram, dan menganggap ini adalah masalah hukum, di saat pencurian dan pembunuhan terjadi karena perebutan yang dilakukan bangsa Latin sendiri di kota Konstantin? [...]

Meski kami dipaksa untuk berpindah tempat, dengan berpegang pada hak-hak kami pada otoritas itu kami akan tetap tidak bergerak dan berpindah, demi Tuhan. Demi kaisar yang berkuasa atas sebuah negara dan rakyatnya dan batuan dan kayu yang begitu banyak, yang membuat tembok-tembok dan menara-menara. Surat ini juga mengatakan begini, bahwa pembawa berita anda telah melintasi seluruh dunia menyebarkan pesan dari salib; dan bahwa pejuang-pejuang dalam jumlah yang besar telah berkumpul untuk kemerdekaan Tanah Suci [...].

Saat kami mendengar ini, hati kami girang dan harapan kami membumbung tinggi, berpikir, selayaknya, bahwa para penebus Tanah Suci akan segera memulai misi dendamnya pada negeri kami, dan memaksa mereka yang telah dibantai ini adalah hukuman yang setimpal karena menyalahi gereja suci kami, menyangkal tempat suci, dan melakukan segala tindak dosa melawan Kekristenan. Namun kemudian surat anda menyebut Jean “sang kaisar Konstantinopel” dan “anak kesayangan” dari Yang Mulia[...].

Dan begitulah kami tertawa, mengetahui ironi “Tanah Suci” dan segala gurauan yang mengatasnamakan Salib. Gagasan ini dirancang mereka (tentara salib) untuk meraih lebih jauh ambisi-ambisi mereka sendiri dan mereka hanya orang-orang terhormat yang menyamar untuk cintanya pada kekuasaan dan emas.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang