Kapan dan mengapa emosi berevolusi pada manusia purba (manusia)?

Dilihat 1,12 rb • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Manusia purba juga berkembang dan berevolusi baik secara fisik maupun psikologis. Secara psikologis, perilaku manusia dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang dihadapi di lingkungan. 


Sebagai contoh, manusia purba yang harus berhadapan dengan berbagai ancaman di alam mulai dari binatang buas, bencana alam atau ancaman dari kelompok-kelompok manusia purba yang lain. Respon untuk melawan atau kabur paling banyak diteliti termasuk pada manusia modern sekarang ini. 


Emosi adalah aspek internal yang sifatnya psikologis dan memotivasi manusia untuk melakukan perilaku atau mengambil pemikiran tertentu untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Evolusi manusia menunjukkan adanya perkembangan dan pertumbuhan yang selaras antara aspek fisik dan psikologis sejak masa purba hingga sekarang ini. Subyek ini sudah banyak menarik para psikolog dan peneliti kepribadian untuk menemukan titik terangnya.


manusia purba evolusi


Lalu kapan tepatnya emosi manusia purba itu terjadi? 


Sejak awal, emosi manusia terus berkembang sebagai respon atas ketidakseimbangan dalam interaksi-interaksinya. Perubahan emosional kerap terjadi seiring dengan perkembangan populasi kelompok, ketersediaan makanan dan juga perubahan iklim. Pada saat-saat tertentu manusia dikuasai oleh perasaan senang dan aman sehingga lahirlah emosi-emosi ceria, humor dan lain-lain. 


Di sisi lain ketika hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi, respon ketakutan akan berkembang dan mewujud dalam berbagai bentuk mulai dari kecemasan, ketakutan, amarah, jengkel, perasaan ingin membalas dendam, dan lain sebagainya.  


Penelitian tentang emosi dalam evolusi manusia terus berkembang juga dari segi biologis. Ketika dihadapkan pada ancaman secara intens, tubuh manusia juga meresponnya dengan memproduksi hormon tertentu seperti adrenalin untuk mengatasi perasaan-perasaan tidak mengenakkan. Hal ini menguntungkan bagi survival atau keberlangsungan hidup manusia purba baik secara individu maupun secara kelompok.


Perubahan emosi juga terlihat ketika manusia purba mengalami perpisahan baik ketika ditinggal mati oleh anak, pasangan, ataupun anggota kelompoknya. Keterputusan komunikasi menjadi penyebab mengapa manusia purba mengenal rasa sedih, kesepian, dan mendorongnya untuk berperilaku mengatasi emosi-emosi negatif tersebut. Antara lain manusia purba juga mengembangkan motivasi untuk memberi rasa aman bagi manusia yang lain atau pun menjalin komunikasi interpersonal pada tahap awal.


homo sapiens


Apa yang terjadi seandainya homo sapiens tidak pernah tinggal di bumi?


Seandainya homo sapiens tidak pernah tinggal di bumi, jawabannya pasti beragam dan akan ada banyak teori konspirasi yang bermunculan. Sebagian ilmuwan pendukung teori evolusi pasti berkesimpulan bahwa ketiadaan homo sapiens akan berarti ketiadaan manusia modern seperti sekarang ini. Jika bumi ditinggali oleh makhluk dengan tingkat kecerdasan sub standar di bawah level kecerdasan manusia maka eksistensi bumi mungkin tidak akan pernah bisa dikenali.


Jika homo sapiens tidak pernah tinggal di bumi maka kemungkinan ada jenis spesies lain yang menghubungkan rantai evolusi kita dengan manusia purba yang lebih lama. Dari sini kita bisa mengenal berbagai spesies lain yang membuat eksistensi kita hari ini menjadi masuk akal dan terpahami. Namun, kita juga tahu bahwa teori evolusi mengandung banyak kelemahan yang tidak bisa dijawab tentang kebenaran asal usul manusia. 


Yang pasti, teori tentang evolusi manusia telah banyak membantu para ilmuan di berbagai bidang untuk mendapatkan kemajuan yang berarti dalam sejarah sains dan ilmu-ilmu sosial termasuk psikologi.


Kita juga bisa memahami bahwa homo sapiens pernah suatu kali menempati suatu belahan bumi dan suatu kali juga hilang atau punah. Kepunahan homo sapiens ini juga menimbulkan berbagai teori konspirasi yang menjadi bahan perdebatan apakah mereka berevolusi ke bentuk yang lebih sempurna untuk beradaptasi dengan lingkungan atau ada spesies lain yang menggantikan keberadaan mereka.



evolusi manusia purba



Bagian otak homo sapiens yang paling unggul dari otak mamalia lainnya



Kecerdasan homo sapiens tentu lebih unggul atau bahkan paling unggul di antara mamalia lain seperti kera, simpanse, gajah, mammoth dan lain-lain. Kecerdasan ini memungkinkan spesies ini mengembangkan peralatan khusus untuk mencari makan seperti pisau atau kapak dalam bentuk kuno yang terbuat dari batu yang ditajamkan. 


Kemampuan mereka juga terlihat dalam mempertahankan diri di gua-gua besar untuk menghindari serangan binatang buas. Meski pada tahap yang lebih sederhana, homo sapiens berhasil mengembangkan sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan mereka bisa bertahan dan berkembang dengan lebih cepat dibandingkan spesies mamalia lainnya.

  

Kecerdasan homo sapiens juga dipengaruhi oleh volume otak yang lebih besar dibandingkan otak mamalia lain. Hal ini merupakan salah satu dari ciri-ciri homo sapiens yang membedakannya dengan homo-homo yang lainnya. Secara logika, otak homo sapiens menyimpan lebih banyak simpul atau bagian memori yang membuat mereka mengembangkan kemampuan paling penting dari sistem survival dan adaptasi, yakni bahasa. 


Dengan bahasa, komunikasi dan koordinasi baik secara individual maupun kelompok mengungguli kelompok-kelompok binatang atau mamalia lain yang pernah ada di muka bumi sezamannya. Di sisi lain emosi adalah bagian tak terpisahkan dari kecerdasan atau intelegensi manusia. Inilah yang terus diteliti oleh para ilmuwan.


gua manusia purba sulawesi


Apakah manusia purba (homo sapiens) tahu tentang seks?


Ini merupakan pertanyaan yang susah-susah gampang untuk dijawab. Bukti pertumbuhan dan perkembangan populasi homo sapiens atau manusia purba sudah bisa menunjukkan bahwa seksualitas juga terjadi dan berkembang di masa itu. 


Namun secara kualitas dan intensitas tentu seksualitas di masa purba jauh berbeda dengan persepsi dan praktek seksual di masa sekarang.

Perkembangan atau evolusi seks pada manusia purba kemungkinan besar paling pesat di saat manusia purba sudah mengenal pola hidup sedenter atau menetap. Pola hidup yang menetap dengan ketersediaan bahan pangan ini memungkinkan mereka mengembangkan jumlah populasi melalui perkawinan. 


Demikian pula evolusi emosional secara umum juga memberikan pengaruh signifikan atas perilaku seksual manusia purba atau homo sapiens. Emosi adalah motivasi lain bagi manusia purba yang terus berkembang di samping motivasi untuk meningkatkan populasi kelompok.


Belum diketahui secara pasti bagaimana awalnya manusia purba mengenal seksualitas tapi kemungkinan terbesar mereka mewarisinya dari orang tua mereka dan pengalaman juga kemungkinan berperan di mana mereka menyaksikan mamalia lain melakukan hubungan seks.


Jadi, evolusi yang terjadi pada manusia purba, baik fisik, kecerdasan, emosi, hubungan sosial, maupun perilaku seksual berlangsung secara bertahap. Seiring dengan perkembangan mereka dalam mempertahankan hidup dan melestarikan keberadaannya sesuai dengan kondisi zaman di masa tersebut.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang