Kenapa anak yang paling berbakat cenderung menderita gangguan kecemasan?

Dilihat 1,54 rb • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
2 Jawaban 2

Pada tahun 70 - 80an, sangat sedikit fokus yang ditujukan bagi siswa - siswi berbakat. Sekolah punya kelas reguler dan kelas remedial. Saya dianggap sebagai anak yang bermasalah sejak kelas 1 sampai dengan kelas 6. Saya didiagnosa mengidap ADD, diberikan resep Ritalin, menghabiskan banyak waktu di ruang kepala sekolah (setelah diminta untuk meninggalkan sekolah di kelas 2).


Orang tua saya tahu bahwa saya tidak bodoh, tapi tidak ada seorangpun yang mempercayai mereka, karean setiap orang tua berpikir bahwa anak mereka adalah yang paling pintar. Waktu kelas 1 SMP kami pindah ke luar kota. Kota yang kami tuju memberikan perhatian terhadap siswa - siswa berbakat dan memiliki kelas yang khusus ditujukan bagi mereka.


Mereka mengetahui bahwa sebagian besar dari anak - anak yang "bermasalah" sebenarnya sangat pintar tapi mereka gampang merasa bosan. Bagi saya sendiri, saya berusaha untuk memenuhi ekspektasi rendah yang ditetapkan untuk saya oleh guru - guru dan penasehat serta pendeta dan bisa dibilang semua orang. Saya tidak akan bilang bahwa saya mengalami gangguan kecemasan, tapi saya memiliki beberapa sifat yang sangat buruk.


Sekarang kita sudah berada jauh lebih maju dibanding masa itu dan telah belajar untuk mengenali tingkat bakat yang berbeda dan masing - masing siswa dan tidak lagi mengikuti filosofi mengajar yang lama. Saya rasa masalah lain yang meningkatkan tingkat kecemasan bagi pemikir - pemikir muda tersebut adalah analisa ekspektasi. Mereka sangat fokus untuk memenuhi ekspektasi yang diberikan oleh pada orang dewasa yang seringkali lupa bahwa mereka masih anak - anak dan anak - anak butuh bersenang - senang.


Dulu saya bukan hanya seorang kutu buku tapi juga seorang atlet. Teman - teman saya juga serup dengan saya dan kami menyebut diri kami "Oxymoron". Kami menemukan cara untuk meringankan tekanan kecerdasan (dan saat kamu lebih pintar dibanding orang dewasa yang seharusnya menjadi gurumu, kamu akan merasa tertekan).


Kami perlu melanjutkan untuk mengenali kecerdasan pada tahap awal, mengembangkan program - program untuk mendorong siswa - siswi berbakat tanpa membebani pikiran mereka, memastikan bahwa mereka memiliki ruang yang dapat mereka nikmati untuk berkreasi, memastikan mereka belajar bagaimana menjadi anak - anak, memberikan dukungan dan memahami bahwa mereka seharusnya tidak perlu dipaksa, mereka sudah memiliki cukup motivasi dan seharusnya kita melihat kecemasan berkurang dalam kelompok ini.

Terjawab 12 bulan lalu

Di tahun 70-80an hanya ada sedikit sekali fokus pada murid berbakat. Sekolah memiliki kelas reguler dan remedi. Saya dianggap sebagai seorang anak bermasalah sejak kelas 1 hingga 6 dan bahkan mengulang kelas 1. Saya didiagnosa dengan ADD, diberi resep Ritalin, menghabiskan banyak waktu di ruangan Kepala Sekolah (setelah diminta untuk keluar dari Sekolah Katolik pada kelas 2). Orang tua saya tahu saya tidak bodoh tapi tak satupun yang percaya mereka karena semua orang tua berpikir anak-anaknya adalah yang terpintar diantara anak lain. Pada kelas 7 kami pindah ke Carolina Utara. Carolina Utara adalah negara bagian yang memimpin dalam mengakui siswa-siswa berbakat dan bertalenta dan memiliki beberapa kelas-kelas pertama yang secara khusus diciptakan untuk siswa-siswa lanjutan.


Apa yang mereka ketahui adalah saat itu sebuah persentase bagus dari siswa-siswa "bermasalah" ternyata benar-benar berintelijensi tinggi dan sangat bosan. Bagi saya sendiri saya mulai hidup dalam ekspektasi rendah yang diatur untuk saya oleh guru-guru dan penasihat serta pendeta saya dan bisa dibilang semua orang. Saya tak akan mengatakan saya mengalami kecemasan tapi saya menumbuhkan beberapa sifat yang sangat buruk. Kami telah hidup bersama sejak itu dan kami telah belajar untuk mengenali tingkat talenta yang berbeda dari siswa-siswa dan keluar dari filosofi mengajar Bell Curve.


Saya rasa masalah lain yang menambah tingkat kecemasan dari pemikir-pemikir muda ini adalah analisa ekspektasi. Mereka menjadi terfokus pada pemenuhan ekspektasi yang ditentukan oleh orang dewasa yang cenderung lupa bahwa mereka ini masih anak-anak dan anak-anak perlu bersenang-senang. Saya bukan hanya seorang kutu buku tapi saya seorang atlit. Kelompok teman inti saya cocok dengan profil ini dan kami menyebut diri kami sebagai Oxymoron. Kami menemukan cara untuk meringankan tekanan intelijensi (dan saat anda lebih pintar daripada orang dewasa yang menjadi guru-gurunya, anda tertekan). Kami perlu melanjutkan mengakui intelijensi di tahapan-tahapan awal, mengembangkan program untuk mendorong siswa berbakat tanpa membebani pikiran muda secara berlebihan, memastikan bahwa mereka memiliki sisi kreatif dan menyenangkan, memastikan bahwa mereka belajar bagaimana menjadi anak-anak, menyediakan dukungan dan ingat bahwa mereka tak perlu dipaksa, mereka sudah diarahkan dan kita bisa melihat kecemasan yang berkurang dalam kelompok ini.

Terjawab 12 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang