Kenapa hanya ada sedikit pascasarjada dari universitan terkemuka yang duduk dalam arena politik?

Dilihat 219 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Yaa, kurasa kriteria untuk "universitas terkemuka" itu lumayan ambigu. Kalau kita menggunakan kriteria Peringkat Universitas QS, banyak menteri yang memegang posisi kunci seperti Perdagangan, Keuangan, Masalah Asing, Kesehatan dan Turisme & Ekonomi Kreatif yang memang lulus dari institusi pendidikan bereputasi tinggi yang lebih tinggi, seperti Harvard University, London School of Economics dan Australian National University. Namun, memang benar kalau menteri dengan mandat akademik seperti itu biasanya hanya ditemukan dalam menti yang memiliki prinsip kunci membuat keputusan, dengan adanya kursi menteri lain yang disiapkan untuk kader partai politik. Meskipun begitu, aku tidak percaya kalau lulus dari universitas terkenal dapat memastikan performa seseorang dalam melayani publik. Contohnya, pemerintah Jakarta sekarang ini, Joko Widodo, "cuma" memiliki universitas sarjana dari universinas nasional; namun kurasa dia itu lumayan sukses sebagai pemenrintah, menanamkan solusi dan pembaruan utama.

Maksudku bukan pendidikan kredensial itu tidak penting; namun, kita tidak boleh menghakimi nilai seseorang hanya dari universitasnya itu yang kelas-dunia atau tidak; tapi, kita harus mempertimbangkan faktor lain, seperti kredensial profesional, integritas, visi politik dan empati untuk orang-orang biasa.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang