Kenapa kamu meninggalkan Indonesia?

Dilihat 283 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Hal sedihnya adalah aku tak pernah merasa nyaman atau merasa "di rumah" ketika di Indonesia, disamping lahir dan dibesarkan disana. Pertama aku dibesarkan dengan aturan yang ketat, dipaksa harus melakukan hal yang benar. Ketika aku melihat sekitar, orang-orang suka mengakali aturan untuk mendapatkan yang mereka mau, lalu idealisme macam ini dipandang "tidak pantas".

Masyarakat aku dibesarkan - kelas menegah kebawah di Jakarta mengedepankan integritas moral daripada pencapaian finansial dan ekonomi. Inilah yang selalu ku rasakan dari aku masih kecil, sangat bertentangan dengan identitasku. Kedua, aku berasal dari keluarga pas-pasan dimana uang selalu menjadi masalah, namun orang tua ku mampu menyekolahkanku ke sekolah swasta Katolik, karena mereka menganggap disana aku bisa mendapat pelajaran lebih baik. Beberapa sekolah mungkin benar seperti itu, tapi aku tidak merasa demikian selama masa sekolah. Murid-murid selalu bersaing dan saling menilai dari materi. Bahkan anak culun pun sama seperti itu meski tak begiu parah.

Materialisme dimana-mana dan melelahkan. Umurku 14 tahun ketika aku pergi. Kesempatan beasiswa datang untuk masuk SMA di Singapura, jadi aku mencoba. Ketika diterima, orang tua mendukungku untuk pindah, disamping kekhawatiranku. Mereka menganggap ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mendapat pendidikan lebih baik yang mereka tak mampu membiayai. Jadi aku pergi sendiri, beserta anak lain yang diterima.

Awalnya sangat tidak nyaman, tapi tahun berikutnya aku bisa bergaul, dan semuanya berasa nyaman. Tapi aku merasa ada yang kurang di Singapura. Masyarakatnya sangat bersih, disana tak ada paksaan, Jika kamu tak patuh maka orang akan menghakimimu. Jadi untuk kuliah aku cari tempat lain lagi. Pada saat itu kerusuhan Mei 1998 dan aku terkejut mendengar perempuan keturunan Cina di perkosa dan dibunuh di Jakarta.

Aku menjadi sangat yakin mencari negara lain yang menerima aku, karena aku merasa Indonesia gagal melindungi hak ku sebagai suku minoritas. Singkat cerita aku berhasil mendapat beasiswa lagi sampai S2 di Melbourne. Aku menemukan jati diri di Australia, dan pertama kali merasakan aku bisa membangun hidup disini, tempat dimana aku bisa menjadi diri sendiri. tentu tidak sempurna, tapi ini pertama kali aku merasa nyaman: banyak ragam budaya yang digerakan oleh orang tua dan muda: dari isu lingkungan sampai budaya dan di Australia adalah kumpulan dari banyak imigran.

Rasisme, materialisme, ramah tamah, moralitas, belajar dan intelektual selalu diperdebatkan dan dikritik. Ini cocok dengan jati diriku. Jadi aku bekerja keras dan mendapat status permanent resident dan akhirnya kewarganegaraan. Semua tanpa bantuan keluarga (meski aku sempat menghutang tapi kubayar setelah bekerja).

Seiring waktu aku pindah ke Sidney lalu ke London aku tinggal sekarang. Umurku bertambah dan kondisi berubah di Indonesia, dan aku optimis terhadap Indonesia dimana ketegangan budaya antara keturunan Cina dan pribumi. Aku menyadari Indonesia lebih baik dan mencoba mudik setaun sekali dan melakukan semampuku untuk membantu tanah airku - dari menyumbang korban bencana, memberi tip saat di Indonesia, dan lainnya.

Ketika aku di Jakarta, aku menemukan kecintaanku pada Indonesia. Lagipula kelurgaku masih di Indonesia. Waktu ke waktu aku berpikir balik ke Indonesia tapi jati diriku melarangnya. Kini aku umurnya 40 tahun dan aku berasa dirumah adalah tempat yang tidak menghakimi orang sepertiku.

Aku tak pernah bisa nyantol ke satu negara atau identitas budaya. Bahkan Melboune yang hebat pun berasa kolot dan dibanding London. Tapi London adalah kota yang tidak ramah, jorok. Jadi siapa yang tahu aku akan kemana lagi? Inilah aku: peranakan Cina, orang Indonesia, orang Australia dan sekarang tinggal di London.

Yang terpenting adalah aku bisa menjadi diriku sendiri ditengah identitas multi budaya. Pada saat ini aku tak meihat hal itu di Indonesia. Sama dengan pemikiran beberapa orang, aku capek dibilang aneh, harus menyesuaikan hidupku serta berpura-pura pada keluarga dan tentangga.

Stereorip yang mirip dengan kondisi ini adalah hipster, tapi di Jakarta hipster tipenya sama semua pelakunya adalah anak-anak kaya. Jadi aku merasa tidak cocok. Tapi aku masih merasa Indonesia nanti akan memberlakukan dua kewarganegaraan supaya aku bisa menjadi warga Indonesia lagi. Mungkin aku akan kembali dan menetap selamanya, membantu komunitas dan menciptakan warisan yang dikenang sepanjang masa.

Saat ini ada beberapa komunitas yang percaya kalau idealisme bisa diterapkan di Indonesia dan mereka mau bekerja sama untuk memajukan Indonesia. Aku terinspirasi dari mereka yang berasal dari kalangan muda. Mungkin suatu hari aku bergabung dengan mereka.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang