Kenapa kepala terasa pusing dan seperti mau pingsan setelah bernapas dengan dalam dan cepat?

Dilihat 10,2 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
2 Jawaban 2

Pernapasan yang sehat biasanya merupakan keseimbangan antara menghirup oksigen dan karbon dioksida. Namun ada sebagian kasus dimana kondisi saat Anda lebih banyak mengeluarkan karbon dioksida daripada menghirupnya. Sehingga Anda mengalami nafas berlebihan atau yang biasa disebut Hiperventilasi.

Penderita hiperventilasi, saat kambuh terlihat seperti penderita asma atau sesak napas. Perlu diketahui, bahwa Hiperventilasi hanyalah salah satu dari gangguan pernapasan. Dan hiperventilasi berbeda dengan sesak napas atau asma meskipun saat kambuh seperti orang yang terkena asma. Hiperventilasi adalah gangguan pernapasan yang sringkali terjadi karena gangguan kecemasan dan berakibat pernapasan menjadi lebih cepat dan dalam. Sedangkan asma atau sesak napas terjadi karena adanya penyempitan atau adanya sumbatan pada jalur pernafasan, sehingga penderita sulit bernafas dan tubuh kurang mendapatkan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.

Umumnya, hiperventilasi disebabkan karena gangguan kecemasan berlebih atau kepanikan. Namun ada beberapa masalah medis tambahan dan kemungkinan serius yang juga dapat menyebabkan seseorang mengalami hiperventilasi, diantaranya, yaitu :

1. pendarahan

2. penyakit jantung, seperti gagal jantung kongestif atau serangan jantung

3. Obat (seperti overdosis aspirin)

4. Infeksi seperti pneumonia.

5. Ketoasidosis dan kondisi medis lainnya

6. Penyakit paru-paru seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau emboli paru.

Kenapa kepala terasa pusing dan seperti mau pingsan setelah bernapas dengan dalam dan cepat?

Seperti yang sudah kita ketahui, Hiperventilasi terjadi ketika adanya peningkatan frekuensi bernapas. Hal ini memicu perubahan kadar karbon dioksida dalam darah. Hiperventilasi terjadi ketika metabolisme tubuh terlampau tinggi sehingga mendesak alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan, yang menyebabkan keadaan dimana ekskresi karbon dioksida dari paru-paru berlebihan. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh faktor yang disengaja atau disebabkan oleh ketidak-sengaja an.

Ketika alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan, karbon dioksida akan hilang dari aliran darah pada tubuh. Ketika seseorang mengalami hiperventilasi, terjadi penurunan karbon dioksida yang disebut hipokapnia.

Hipokapnia akan memicu penurunan pH darah. Ketika tubuh mengeluarkan karbon dioksida lebih dari yang dibutuhkan, kondisi ini akan mengarah pada alkalosis pernapasan.

Ketika hiperventilasi menyebabkan alkalosis pernapasan, maka akan menyebabkan sejumlah gejala fisik , yaitu:

Pusing

Kesemutan di dekat mulut, tangan atau kaki

Sakit kepala

Kelemahan

Pingsan

Kejang otot

Dalam kondisi yang lebih ekstrim dapat menyebabkan kejang spastik karpopedal (mati rasa, kesemutan, kram pada tangan dan kaki). Jadi ketika kita bernapas terlalu cepat, kita menghapus banyak karbon dioksida dari darah kita. Hal ini yang sebenarnya menyebabkan beberapa masalah. Termasuk rasa pusing dan rasa ingin pingsan.

CARA MENGATASI HIPERVENTILASI

Yang perlu Anda ingat adalah bahwa hiperventilasi adalah suatu kondisi, bukan penyakit. Gaya hidup dan teknik berikut dapat membantu mencegah kondisi Hiperventilasi.

• Kurangi alkohol dan Kafein

Kafeina meningkatkan aktivitas otak (sehingga mengganggu tidur), dan dapat memicu kegelisahan, serta berdampak negatif terhadap pernapasan. Terlalu banyak minum kafein dapat memicu serangan, jadi Anda harus mengurangi minuman berkafein. Hentikan alkohol dan rokok juga jangan minum obat-obat terlarang.

• Makan teratur

Dengan makan teratur, dapat menjaga agar kadar gula Anda tetap stabil sehingga mengurangi resiko gejala Hiperventilasi.

• Olahraga

Penyebab Hiperventilasi yang paling sering adalah faktor psikologis seperti stress, panik dan kecemasan. Olahraga nafas, meditasi, dan beberapa pengobatan diperlukan. Strategi seperti yoga, berdzikir, menenangkan hati dan fikiran akan mengurangi hiperventilasi. Jika kegiatan tersebut dilakukan secara teratur, maka bukan hanya dapat mencegah Hiperventilasi, namun juga dapat memperbaiki kesehatan Anda secara keseluruhan.

• Konsultasi ke terapis

Terapi pengurangan stress terbukti efektif dalam mengurangi intensitas dan frekuensi episode hiperventilasi. Jika diagnosis sindrom hiperventilasi telah ditetapkan, pasien harus berkonsultasi dengan seorang terapis untuk penyediaan untuk menerapkan teknik ini dalam jangka panjang.

CARA MENGOBATI HIPERVENTILASI

Meskipun Hiperventilasi bukanlah suatu penyakit, Namun jika gejala tersebut datang berulang-ulang, Anda harus memeriksakannya pada dokter, sebab bisa saja itu pertanda dari sindrom hiperventilasi. Namun Hiperventilasi bisa terjadi dimana saja termasuk di rumah. Bila hal itu terjadi, segera lakukan hal berikut:

1. Apabila anda seorang penderita hiperventilasi, sebisa mungkin motivasi diri anda sendiri dan tenangkan pikiran anda, kurangi rasa cemas dan panik anda, pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Jika penyebab hiperventilasi adalaha gangguan kecemasan, memperlambat pernafasan dapat meredakan gejala ini. Ingatkan bahwa dia sedang mengalami serangan panik dan bahwa ia tidak mengalami sesuatu yang membahayakan nyawanya, seperti serangan jantung.

2. Bernapaslah melalui hidung. Teknik ini efektif untuk mengatasi hiperventilasi karena Anda tidak menghirup banyak udara dibandingkan melalui mulut.Dengan demikian, dapat menurunkan kadar pernapasan Anda.

3. Longgarkan pakaian. Tentunya, Anda akan kesulitan bernapas jika pakaian terlalu ketat. Oleh karenanya, longgarkan ikat pinggang dan pastikan celana pas ukurannya (supaya pernapasan perut lebih mudah dilakukan.

Nah itu yang dapat dilakukak jika Anda terkena Hiperventilasi. Begitu juga saat Anda melihat orang lain yang mengalami Hiperventilasi, berikut pertolongan pertama menanganinya:

1. Tenangkan

Jika penderita mengalami hiperventilasi karena serangan panik atau gangguan kecemasan, yang harus dilakukan adalah bantu agar lebih tenang dan kecemasan atau kepanikannya menurun. Jika perlu stimulasi dengan kata-kata baik, dengan nada yang lembut.

2. Membantu Posisi Duduk yang Benar pada Penderita

Bantu untuk penderita mampu memosisikan tubuh setengah duduk sambil menyandarkan pundaknya dengan sesuatu yang empuk (kalau ada bantal jauh lebih baik).

3. Berikan Air Hangat

Air hangat bermanfaat dalam menghangatkan dada si penderita sehingga akan sangat baik untuk mengembalikan proses pernapasan seperti semula.

4. Memijat Jempol Kaki Penderita

Proses memijat area tepat 3-5 cm ruas ibu jari bagian atas. Hal ini akan sangat membantu jalannya pernapasan pada penderita untuk kembali normal.

5. Melonggarkan Pakaian Penderita

Melonggarkan pakaian adalah cara supaya penderita tak lagi merasa sesak, paling tidak cara ini mampu membuat rasa sesak di pernapasan berkurang.

6. Bawa ke Dokter

Jika langkah-langkah pertolongan pertama tersebut sudah dilakukan tapi tak begitu mempan, tentu bantuan medis adalah tindakan yang paling tepat. Segera bawa ke dokter agar dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai penyebabnya. Jika hiperventilasi disebabkan oleh kepanikan atau kecemasan, dokter dapat meresepkan obat untuk mengatasi kecemasan. Obat-obatan ini berfungsi untuk mengurangi efek dari kecemasan dan serangan rasa panik, yang kemudian akan mengurangi gejala hiperventilasi.

Itulah pemaparan mengenai Hiperventilasi. Sejatinya meskipun bukan tergolong penyakit yang kronis, Anda tidak ingin mengalaminya bukan? Untuk itu sangatlah penting menjaga kesehatan fisik maupun psikis terlebih di zaman modern sekarang ini, terutama di perkotaan yang lingkungannya tercemar polusi yang dapat mengganggu kesehatan dan aktifitas kerja sehingga dapat menimbulkan kejenuhan dan stress. Tetap jaga kesehatan dengan berolahraga dan pola makan sehat, jangan lupa piknik !


Terjawab lebih dari 2 tahun lalu

Pernapasan yang sehat biasanya merupakan keseimbangan antara menghirup oksigen dan karbon dioksida. Namun ada sebagian kasus dimana kondisi saat Anda lebih banyak mengeluarkan karbon dioksida daripada menghirupnya. Sehingga Anda mengalami nafas berlebihan atau yang biasa disebut Hiperventilasi.




Penderita hiperventilasi, saat kambuh terlihat seperti penderita asma atau sesak napas. Perlu diketahui, bahwa Hiperventilasi hanyalah salah satu dari gangguan pernapasan. Dan hiperventilasi berbeda dengan sesak napas atau asma meskipun saat kambuh seperti orang yang terkena asma. Hiperventilasi adalah gangguan pernapasan yang sringkali terjadi karena gangguan kecemasan dan berakibat pernapasan menjadi lebih cepat dan dalam. Sedangkan asma atau sesak napas terjadi karena adanya penyempitan atau adanya sumbatan pada jalur pernafasan, sehingga penderita sulit bernafas dan tubuh kurang mendapatkan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.


Umumnya, hiperventilasi disebabkan karena gangguan kecemasan berlebih atau kepanikan. Namun ada beberapa masalah medis tambahan dan kemungkinan serius yang juga dapat menyebabkan seseorang mengalami hiperventilasi, diantaranya, yaitu :

1. pendarahan

2. penyakit jantung, seperti gagal jantung kongestif atau serangan jantung

3. Obat (seperti overdosis aspirin)

4. Infeksi seperti pneumonia.

5. Ketoasidosis dan kondisi medis lainnya

6. Penyakit paru-paru seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau emboli paru.


Kenapa Kepala Terasa Pusing dan Seperti Mau Pingsan setelah Bernapas dengan Dalam dan Cepat?


Seperti yang sudah kita ketahui, Hiperventilasi terjadi ketika adanya peningkatan frekuensi bernapas. Hal ini memicu perubahan kadar karbon dioksida dalam darah. Hiperventilasi terjadi ketika metabolisme tubuh terlampau tinggi sehingga mendesak alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan, yang menyebabkan keadaan dimana ekskresi karbon dioksida dari paru-paru berlebihan. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh faktor yang disengaja atau disebabkan oleh ketidak-sengaja an.


Ketika alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan, karbon dioksida akan hilang dari aliran darah pada tubuh. Ketika seseorang mengalami hiperventilasi, terjadi penurunan karbon dioksida yang disebut hipokapnia.

Hipokapnia akan memicu penurunan pH darah. Ketika tubuh mengeluarkan karbon dioksida lebih dari yang dibutuhkan, kondisi ini akan mengarah pada alkalosis pernapasan.


Ketika hiperventilasi menyebabkan alkalosis pernapasan, maka akan menyebabkan sejumlah gejala fisik , yaitu:

Pusing

Kesemutan di dekat mulut, tangan atau kaki

Sakit kepala

Kelemahan

Pingsan

Kejang otot


Dalam kondisi yang lebih ekstrim dapat menyebabkan kejang spastik karpopedal (mati rasa, kesemutan, kram pada tangan dan kaki). Jadi ketika kita bernapas cepat, kita menghapus banyak karbon dioksida dari darah kita. Hal ini yang sebenarnya menyebabkan beberapa masalah. Termasuk rasa pusing dan rasa ingin pingsan.


CARA MENGATASI HIPERVENTILASI


Yang perlu Anda ingat adalah bahwa hiperventilasi adalah suatu kondisi, bukan penyakit. Gaya hidup dan teknik berikut dapat membantu mencegah kondisi Hiperventilasi.




• Kurangi alkohol dan Kafein


Kafein meningkatkan aktivitas otak (sehingga mengganggu tidur), dan dapat memicu kegelisahan, serta berdampak negatif terhadap pernapasan. Terlalu banyak minum kafein dapat memicu serangan, jadi Anda harus mengurangi minuman berkafein. Hentikan alkohol dan rokok juga jangan minum obat-obat terlarang.


• Makan teratur


Dengan makan teratur, dapat menjaga agar kadar gula Anda tetap stabil sehingga mengurangi resiko gejala Hiperventilasi.


• Olahraga


Penyebab Hiperventilasi yang paling sering adalah faktor psikologis seperti stress, panik dan kecemasan. Olahraga nafas, meditasi, dan beberapa pengobatan diperlukan. Strategi seperti yoga, berdzikir, menenangkan hati dan fikiran akan mengurangi hiperventilasi. Jika kegiatan tersebut dilakukan secara teratur, maka bukan hanya dapat mencegah Hiperventilasi, namun juga dapat memperbaiki kesehatan Anda secara keseluruhan.


• Konsultasi ke terapis


Terapi pengurangan stress terbukti efektif dalam mengurangi intensitas dan frekuensi episode hiperventilasi. Jika diagnosis sindrom hiperventilasi telah ditetapkan, pasien harus berkonsultasi dengan seorang terapis untuk penyediaan untuk menerapkan teknik ini dalam jangka panjang.


CARA MENGOBATI HIPERVENTILASI


Meskipun Hiperventilasi bukanlah suatu penyakit, Namun jika gejala tersebut datang berulang-ulang, Anda harus memeriksakannya pada dokter, sebab bisa saja itu pertanda dari sindrom hiperventilasi. Namun Hiperventilasi bisa terjadi dimana saja termasuk di rumah. Bila hal itu terjadi, segera lakukan hal berikut:


1. Apabila anda seorang penderita hiperventilasi, sebisa mungkin motivasi diri anda sendiri dan tenangkan pikiran anda, kurangi rasa cemas dan panik anda, pikirkan hal-hal yang menyenangkan. Jika penyebab hiperventilasi adalaha gangguan kecemasan, memperlambat pernafasan dapat meredakan gejala ini. Ingatkan bahwa dia sedang mengalami serangan panik dan bahwa ia tidak mengalami sesuatu yang membahayakan nyawanya, seperti serangan jantung.


2. Bernapaslah melalui hidung. Teknik ini efektif untuk mengatasi hiperventilasi karena Anda tidak menghirup banyak udara dibandingkan melalui mulut.Dengan demikian, dapat menurunkan kadar pernapasan Anda.


3. Longgarkan pakaian. Tentunya, Anda akan kesulitan bernapas jika pakaian terlalu ketat. Oleh karenanya, longgarkan ikat pinggang dan pastikan celana pas ukurannya (supaya pernapasan perut lebih mudah dilakukan.


Nah itu yang dapat dilakukak jika Anda terkena Hiperventilasi. Begitu juga saat Anda melihat orang lain yang mengalami Hiperventilasi, berikut pertolongan pertama menanganinya:


1. Tenangkan


Jika penderita mengalami hiperventilasi karena serangan panik atau gangguan kecemasan, yang harus dilakukan adalah bantu agar lebih tenang dan kecemasan atau kepanikannya menurun. Jika perlu stimulasi dengan kata-kata baik, dengan nada yang lembut.


2. Membantu Posisi Duduk yang Benar pada Penderita


Bantu untuk penderita mampu memosisikan tubuh setengah duduk sambil menyandarkan pundaknya dengan sesuatu yang empuk (kalau ada bantal jauh lebih baik).


3. Berikan Air Hangat


Air hangat bermanfaat dalam menghangatkan dada si penderita sehingga akan sangat baik untuk mengembalikan proses pernapasan seperti semula.


4. Memijat Jempol Kaki Penderita


Proses memijat area tepat 3-5 cm ruas ibu jari bagian atas. Hal ini akan sangat membantu jalannya pernapasan pada penderita untuk kembali normal.


5. Melonggarkan Pakaian Penderita


Melonggarkan pakaian adalah cara supaya penderita tak lagi merasa sesak, paling tidak cara ini mampu membuat rasa sesak di pernapasan berkurang.


6. Bawa ke Dokter


Jika langkah-langkah pertolongan pertama tersebut sudah dilakukan tapi tak begitu mempan, tentu bantuan medis adalah tindakan yang paling tepat. Segera bawa ke dokter agar dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai penyebabnya. Jika hiperventilasi disebabkan oleh kepanikan atau kecemasan, dokter dapat meresepkan obat untuk mengatasi kecemasan. Obat-obatan ini berfungsi untuk mengurangi efek dari kecemasan dan serangan rasa panik, yang kemudian akan mengurangi gejala hiperventilasi.




Itulah pemaparan mengenai Hiperventilasi. Sejatinya meskipun bukan tergolong penyakit yang kronis, Anda tidak ingin mengalaminya bukan? Untuk itu sangatlah penting menjaga kesehatan fisik maupun psikis terlebih di zaman modern sekarang ini, terutama di perkotaan yang lingkungannya tercemar polusi yang dapat mengganggu kesehatan dan aktifitas kerja sehingga dapat menimbulkan kejenuhan dan stress. Tetap jaga kesehatan dengan berolahraga dan pola makan sehat, jangan lupa piknik !


Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang