Kenapa orang Korea banyak sekali melakukan operasi plastik?

Dilihat 263 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya orang Meksiko yang tinggal di Seoul selama 5 bulan di tahun 2012 (Juni-November). Kesan saya terkait praktek operasi plastik yang luas di masyarakat Korea berakar dari kesan umum bahwa orang Korea cenderung sangat menjunjung materialisme. Jangan salah sangka dulu. Di masa kini, kita semua adalah orang matre hingga titik tertentu, karena kita hidup dalam masyarakat yang konsumtif. Namun, saya memang merasa orang Korea bertindak sedikit kebablasan dalam masalah penampilan. Setelah membaca sejumlah sejarah kontemporer Korea –khususnya tentang ledakan/keajaiban ekonomi mereka yang terjadi saat pembangunan setelah Perang Korea, dan kemudian ledakan perkembangan materiil yang mengubah selatan semenanjung Korea di tahun 60-70an dibawah pemerintahan Park Chung-Hee yang otokratis/kontroversial. Saya menyadari materialisme ini berasal dari perkembangan ekonomi yang membuat Korea Selatan yang awalnya semiskin Haiti menjadi sumber tenaga ekonomi yang mirip negara-negara Barat hanya dalam 40 tahun, atau satu generasi. Tentu, ini hanyalah bagian dari teori saya. Faktor lain juga termasuk: hubungan dekat dan baik antara Korsel dengan AS, warisan penjajahan Jepang, munculnya kelas menengah yang besar, fokus investasi dalam pendidikan dan infrastruktur, kebudayaan mereka yang terobsesi dengan kerja/hasil, konflik yang berlangsung dengan Korea Utara, dll. Teori saya menurun kepada hal-hal berikut (bacalah dengan hati-hati, ini teori yang saya hasilkan dari pengalaman dan observasi teliti saya selama tinggal di Korea):

Kemajuan ekonomi terjadi lebih cepat daripada kemajuan sosialnya. Yang saya maksud adalah: orang Korea menjad kaya dengan sangat cepat. Ini dapat menghasilkan kebiasaan belanja yang mewah, kekayaan terang-terangan (saya pernah melihat gedung perkantoran mewah di Gangnam dengan tulisan “Rich Tower”) dan obsesi yang jelas terhadap kekuasaan, pengaruh dan kecerdasan melalui penampilan fisik.

Lebih jauh, standar dan aturan sosial di Korea adalah, seperti yang diceritakan penduduknya kepada saya, sangatlah ketat dan tegas. Keluarga, teman dan orang di sekitar anda mengharapkan hal-hal besar –jumlah uang yang anda hasilkan, pekerjaan anda, penampilan fisik kekasih anda, tingkat kesehatan, penampilan diri sendiri dll. Kegagalan dalam mencapai ekspektasi ini secara memuaskan akan mengarah pada kekecewaan, kritik yang kasar, dan dalam kasus-kasus yang ekstrim, marginalisasi dan penolakan langsung.

Tambahkan ini semua dengan efek kejut dari “Korean Wave” (gelombang pengaruh kebudayaan Korea di Asia Timur dan Tenggara dalam kesenian, mulai dari perfilman hingga musik dan gaya) dan keglamoran serta kesempurnaan yang dilebih-lebihkan dari selebriti dan artis Korea, yang dipamerkan dimana-mana di Seoul, tidak hanya di papan reklame tetapi juga dalam format digital melalui ponsel. Hasil akhirnya adalah adanya hasrat dan tekanan di Korsel untuk menjadi keren dan menarik secara fisik menjadi obsesi, dan mewakili sebuah keharusan, terutama pada remaja dan dewasa muda. Maka dari itu, operasi plastik menjadi tren di Korsel, dengan operasi kelopak mata sebagai tujuan utama, karena ide bahwa mata yang lebih besar berarti lebih cantik. Tambahkan ini dengan prosedur umum: pembesaran payudara, suntik botoks, rhinoplasty dll., yang tentu saja juga banyak dicari. Ingatlah bahwa penduduk Korsel punya cukup pemasukan untuk fasilitas seperti ini. Lagi-lagi, ini hanya teori saya, yang berasal dari memperhatikan lingkungan sekitar saya selama tinggal di negara menakjubkan ini.


Terjawab 9 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang