Kenapa pasien bipolar berhenti mengkonsumsi obat merkea meskipun mengetahui bahwa hal tersebut dapat menghancurkan hidup mereka?

Dilihat 282 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Pada satu titik dalam pengobatannya, hampir SEMUA pasien - pasien bipola menghentikan penggunaan obat yang mereka konsumsi. Alasan mereka melakukannya hampir sama rumitnya dengan penyakit yang mereka derita. 


Jika kamu terkena infeksi bakteri, dokter akan memberik kamu resep antibiotik yang membunuh bakteri tertentu. Kondisimu akan membaik dan pada akhirnya kamu berhenti minum antibiotik. Kalau kamu menderita penyakit asma, dokter akan memberikan resep obat untuk  menghentikan serangan asma, atau mencegah asma kambuh. Ketika kamu mengalami serangan asma, kamu mengkonsumsi obat yang dapat menghentikan serangan tersebut. 


Kamu tidak mengkonsumsi obat - obatan tersebut ketika kamu bernafas dengan normal.


Obat - obatan pencegahan dikonsumsi setiap hari, mungkin seumur hidupmu, untuk mencegah serangan asma datang kembali. Yang ingin saya katakan adalah, sebagian besar obat - obatan yang diresepkan untuk berbagai penyakit hanya dikonsumsi untuk sementara waktu, lalu dihentikan penggunaanya ketika kamu merasa lebih baik.


Meskipun gejalanya datang dan pergi, gangguan bipolar merupakan penyakit yang berlangsung selamanya dan gejala - gejalanya tidak akan sepenuhnya hilang. Stress, penyakit, waktu tidur, makanan yang kamu makan, obat yang kamu minum.. semua itu dapat memicu fase mania/depresi (gejala dari gangguan bipolar)

Sayangnya, tidak ada obat yang cocok untuk semua orang. Bukan hal yang tidak umum bagi seseorang yang menderita gangguan bipolar untuk mencoba satu lusin obat yang berbeda - beda sebelum akhirnya menemukan obat yang cocok bagi mereka. Bahkan untuk obat yang tepat, sesuatu yang bekerja dengan baik selama satu tahun, mungkin tidak lagi berhenti bekerja pada tahun berikutnya.


Salah satu alasan utama pasien bipolar berhenti mengkonsumsi obat - obatan adalah karena efek sampingnya.


Efek samping dari obat untuk bipolar dapat bervariasi. Mulai dari mulut yang kering, mual, sakit kepala, jantung berdebar - debar, kepala pusing, mengantuk, depresi, mania, pergolakan, sakit pada persendian, telinga berdenging, kepala terasa berat, kegilaan, halusinasi, berkurangnya gairah seksual, meningkatnya gairah seksual, berkurangnya nafsu makan dan penurunan berat badan, meningkatkan nafsu makan dan bertambahnya berat badan.. dan banyak lagi.


Alasan lain yang menyebabkan pasien bipolar berhenti mengkonsumsi obat - obatan mereka adalah karena berada pada fase hypomania terasa menyenangkan.


Mania an hypomania memiliki gejala yang serupa (hypomania tidak separah dan mengganggu seperti fase mania). Harga diri yang menurun, gampang marah atau tersinggung, kebutuhan tidur berkurang (seseorang merasa sudah cukup istirahat hanya dengan tidur 3 jam). Lebih suka berbicara dibanding biasanya atau adanya tekanan untuk terus berbicara, banyak ide - ide yang muncul, sulit berkonsentrasi, perhatian yang gampang teralihkan, lebih banyak melakukan aktifitas yang berfokus pada sasaran (baik secara sosial, di tempat kerja atau sekolah).


Zat - zat yang dapat memicu fase mania / hypomania


  • Kafein dan obat stimulan lainnya
  • Alkohol
  • Sterois
  • Rokok
Meskipun banyak pasien yang sudah menjalani pengobatan untuk gangguan bipola sejak lama, istilah bipolar baru menjadi kosa kata keseharian sejak tahun 80an.Gejala - gejala yang saat ini diketahui sebagai gangguan bipolar, dulunya dianggap sebagai gangguan medis/psikologis.


Pasien - pasien tersebut diberikan obat - obatan / perwatan medis yang dianggap tepat pada saat itu. Istilah "gangguan bipolar" pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980. Dalam 35 tahun terakhir, gangguan bipolar terus didefinisikan ulang. Baru pada tahun 1996 dikemukakan bahwa sebagian anak - anak yang didiagnosa terkena ADHD mungkin salah didiagnosa.


Kemudian dikemukakan bahwa anak - anak tersebut sebenarnya menderita gangguan bipolar. Jadi mudah untuk melihat kenapa rata - rata orang berpikir bahwa gangguan bipolar merupakan gangguan psikis yang masih baru. Tapi kenyataannya gejalan bipolar sudah diamati sepanjang sejarah manusia.


Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang