Kenapa tidak ada restoran bawah tanah di Indonesia?

Dilihat 283 • Ditanyakan 9 bulan lalu
1 Jawaban 1

Kubilang itu dikarenakan konsepnya tidak sesuai dengan keinginan pembeli Indonesia. Mayoritas masih memilih nasi daripada roti/pasta/kue kering sebagai bagian dari makanan pokok mereka. Dalam beberapa kasus, makanan seperti roti bisa jadi populer, contohnya 'panekuk Indonesia' (Martabak) yang dipenuhi dengan mentega/susu/isi atau isi daging yang diinginkan (Catat kalau mereka belum sadar akan kesehatan). Mereka membeli martabak ini sebagai makanan pencuci mulut. Jadi yaa, roti dilihat sebagai cemilan dan untuk waktu-waktu spesial atau perayaan bukan sebagai makanan utama. Poin ini sendiri mengurangi frekuensi pembelian yang besar, menolak banyak toko bawah tanah disini. Dan juga, sandwich di kereta bawah tanah dilihat kurang atraktif/terlalu berat untuk pasca makanan cemilan dibandingan dengan martabak/es/dll. Pembeli tidak termotivasi untuk membelinya terutama dengan banyak alternatif lain yang lebih murah. Apalagi lebih mudah & (relatif murah) kalau kita membuat sandwich sendiri.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang