Ketertarikan: Bagaimana rasanya menjadi gay, tapi bukan gay yang terbuka yang memiliki lawan jenis yang mengejar - ngejar kamu?

Dilihat 762 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Sangat tidak nyaman. Sebelum saya menguraikan lebih lanjut tentang hal itu, saya mau sedikit berbagi tentang "zona nyaman" saya. Sama seperti kebanyakan pria - pria, saya sulit untuk tersinggu tentang masalah seksual. Saya tau ini stereotip, tapi kebanyakan pria memiliki kepekaan yang berbeda tentang kepantasan seksual (meskipun tentunya ini tidak berlaku bagi semua pria).


Saya sangat suka dipuji, bahka digoda, bahkan (hal - hal yang mungkin dapat dianggap sebagai pelecehan seksual pada situasi tertentu). Saya tidak bilang bahwa saya tidak bisa diusik secara seksual, tapi saya memiliki ego "pria" kebanyakan  jika membicarakan soal fisik dan tidak ada komentar seksual yang tidak bisa saya terima. Hal penting lainnya, saya bukan pria yang sangat tampan, jadi hal semacam ini tidak menjadi masalah bagi pria biasa seperti saya.


Jadi, kalau saya tahu bahwa seorang wanita "mengejar" saya (dan saya ingin memperjelas, ini jarang terjadi) hal itu membuat saya merasa sangat tidak nyaman dan ini sulit untuk dijelaskan. Saya menyatukan semua situasi "identitas sosial" ke dalam kelompok yang sama. Jadi, misalnya: Kalau saya mulai berteman dengan seorang pria dan sampai pada titik dimana, kalau tidak masih tidak tahu, saya harus menjelaskan orientasi seksual saya kepadanya (pasti ini yang dirasakan oleh ayah saya ketika dia harus membicarakan masalah seks dengan saya, hal itu menggelisahkan, saya tidak bisa menjelaskannya). Kalau seorang wanita menggoda saya, saya harus langsung menjelaskan seksualitas saya kepadanya. Tapi kadang, saya tidak bisa mengatakannya langsung karena masalah kepantasan atau kondisi - kondisi lainnya yang mencegah saya untuk bereaks seara standar.


Kalau saya berada di dalam sebuah ruangan bersama orang - orang yang mengetahui orientasi seksual saya dan saya tahu mereka tidak ingin membicarakannya, entah karena masalah kepantasa atau karena mereka tidak suka, saya tidak akan memulai pembicaraan. Saya tidak akan melakukan hal yang memalukan.


Tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan bahwa saya seorang pemalu... mengenai apapun. Jadi biasanya saya blak-balakan. Tapi pada saat dimana saya tidak bisa menjadi "diri saya", saya berada pada situasi yang sulit. Komunikasi adalah ketrampilan terbaik saya dan menghadapi sebuah masalah adalah peluang bagi saya, jadi ketika saya tidak bisa menggunakan ketrampilan - ketrampilan tersebut, maka saya seperti ikan yang berada di luar air dan hal itu menyakitkan.


Kita semua menggunakan kekuatan kita sebagai cara untuk menggerakkan dunia dan mengimbangin kelemahan kita. Bagi sebagian orang, mungkn kelebihan itu adalah penampilannya. Bagi yang lain mungkin otaknya. Bagi yang lain mungkin itu aspek - aspek dari otaknya (selera humor, kecerdasan, komunikasi, empati). Kita semua membangun fondasi dari granit yang kita temukan di hidup kita dan kita menggunakan seluruh fondasi yang kuat tersebut untuk bertahan melewati badan dan gempa bumi. Jadi kita merasakannya. 


Saya merasakan tekanan ini terbangun pada dada saya dan itu adalah tekanan yang kamu rasakan ketika kamu merasa harus menjadi orang lain atau melalukan sesuatu yang kamu sama sekali tidak siap lakukan. Itu adalah perasaan malu dan takut. Untuk menjelaskan ini dengan lengkap, saya harus menceritakan (dengan samar) pengalaman seksual saya pertama kalinya dengan seorang wanita dimana saya (umm.. ah...) melibatkan mulut saya, secara ekslusif (ini sudah lama sekali). Menurut saya itu hal paling menakutkan yang pernah saya lakukan. Maksud saya, bahkan bagi pria normal, "pertama kali" merupakan saat yang buruk untuk menjadi seorang pria. Dan bagi seorang pria gay yang baur mulai mencari tahu siapa dirinya, wah, rasanya seperti berjalan ke tiang gantungan. Saya merasa sangat tertekan dan tidak dapat menghindarinya.


Maksud saya, mungkin saya bisa, tapi saya merasakan tekanan untuk menjadi "seorang pria" dan "melakukan yang dilakukan oleh para pria". Jadi, ya! Kita semua pernah merasakannya dan rasanya tidak berbeda dari yang dirasakan orang - orang pada situasi dimana mereka dilucuti secara emosional.


Ok. Jadi, penjelmaan saat ini. Kebanyakan dari situasi tersebut terjadi ketika saya menjadi pelayan bar, pramusaji beberapa hal lainnya terjadi belakarang ini karena saya sedang berusaha untuk menurunkan berat badan. Pembicaraan pria "normal" (dimana saya harus mengedukasi seorang pria yang merupakan teman saya) merupakan situasi paling sulit yang harus saya hadapi dan salah satunya terjadi baru - baru ini.

Ada seorang pria di pusat kebugaran yang mulai sering berbincang - bincang dengan saya. Kami melakukan olahraga tinju bersama dan kami cocok berteman. Saya tahu dia normal karena dia sudah menikah di bulan Juni. Namun demikian, pembicaraan "pria" pun mulai berkembang sampai pada titik dimana dia bertanya mengenai "pacar" saya, dan bagi kalian para wanita, saya rasa kalian sebaiknya pergi sekarang, karena pembicaraan pria adalah hal yang sangat rahasia dan kalian tidak boleh mengetahui hal ini - tidak dapat dihindarkan kami membicarakan soal seks.

Pria ini bukan seorang yang suka menyombong, dia hanay berbicara dengan santai mengenai beberapa aspek dari kehidupan seks nya. Bertanya tentang "saya dan pacar saya". Melakukan pembicaraan yang santai. Berbicara sedikit hal lagi tentang seks. Lalu olahraga. Lalu seks lagi. Dan pada satu titik dalam pembicaraan kami, dia menyadari bahwa saya sangat tertutup dan saya mulai berpikir kalau dia akan merasa bahwa saya berpura - pura atau seseorang yang menyebalkan. Dan bagi saya, perasaan itu juga sangat tidak nyaman.

Jadi kenapa saya tidak blak - blakan saja? Karena itu adalah tempat latihan tinju. Dan bukan tempat latihan tinju biasa, melainkan tempat latihan tinjua saya dengan pelatih pribadi saya dan dengan semua kelas dan orang - orang yang saya sukai. Jadi ya.. saya memutuskan bahwa sebaiknya saya "tetap profesional" yang berarti tidak mengatakan bahwa saya gemetar ketakutan menjadi "Dan yang gay", saya sangat benci menjadi "Dan yang gay" dan biasanya seperti itulah saya saat seorang pria normal dalam situasi /tempat pria normal mengetahui bahwa saya adalah seorang gay.

Lagipula, saya di sana untuk berolahraga, bukan untuk berbicara tentang kehidupan saya.Tidak ada teman, hanya berolahraga lalu pulang. Tapi pria ini sekarang seorang teman yang berbicara dengan saya setiap hari. Dan hal ini membuat saya konflik karena saya suka tempat gym itu dan tidak ingin membuat orang yang latihan tinju dengan saya atau pelatih saya merasa tidak nyaman. Tapi saya harus jujur pada diri saya sendiri.

Jadi, Fred (ini bukan nama aslinya) dan saya mengobrol dan saat itu tidak ada orang lain di sekitar kami. Dan dia mengajak saya pergi minum dan saya merasa bahwa saya harus segera mengatakannya, jadi.. "Eh, Fred, gini.. gw ga suka menempakan orang lain di situasi yang ga nyaman, makanya biasanya gw ga ngomong tentang..." (Fred menyela saya.. sungguh kasar!), "Lo gay kan? Iya.. gw tau.. Gw penasaran kapan lo bakalan ngomong ke gw. Gw manajer bank., setengah dari divisi gw di kantor gay. Gw ga bego Dan". "Ga Fred, lo cuma orang yang nyebelin yang terus - terusan nanya tentang hidup gw sementara lo udah tau yang sebenernya!! Sial!! Jadi lo ngebodoh-bodohin gw selama dua bulan ini", "Lah, lo kan bisa langsung ngomong ke gw aja dari awal", "Waahh!!.. lo ya!! Parah banget!! Gw ga tau deh harus ngomong apa. Lagi lo kan tau ini tempat latihan tinju, bukan tempat gw bisa seenaknya aja gitu ngomong kalau gw gay".

Meskpi begitu, semuanya berjalan lancar. Tapi sebelum sampai ke titik itu, semuanya terasa sangat menyakitkan. Walaupun pada akhirnya saya mendapatkan apa yang pantas saya dapatkan, perasaan untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu akan membuatmu merasa merasa. Itu adalah perasaan yang dalam intensitasnya, mungkin lebih dirasakan oleh orang - orang homoseksual dibanding orang normal, tapi tidak sepenuhnya berbeda dari perasaan harus melakukan hal yang tidak kita inginkan pada situasi - situasi lainnya.


Menurut saya, pria/wanita yang pernah menjalani hubungan dimana dia tidak merasakan perasaan yang sama dengan pasangannya pasti tau bagaiaman rasanya. Setiap pria merasa seperi ini saat berada di ranjang dengan pasangannya untuk pertama kalinya. Rasa takut, tidak nyaman, malu semuanya campur aduk jadi satu.

Terjawab 7 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang