Menderita bipolar itu seperti kalah dalam pertarungan. Apakah ada orang yang berhasil mengatasinya?

Dilihat 643 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Dengan segala bukti yang ada sampai saat ini, saya masih belum benar - benar berhasil mengatasi gangguan bipolar yang sudah saya derita selama 7 tahun (sekarang usia saya 31 tahun, didiagnosa dengan bipolar II pada tahun terakhir kuliah). Tapi saya tidak menyerah.


Gangguan bipola merupakan penyakit yang mematikan, terus berkembang, sering disalahpahami, dianggap sebagai aib, tapi dapat "dikelola". Ketika seseorang yang menderita bipola mengatakan bahwa penyakit mereka "dapat dikelola" atau gejala - gejalanya "dapat dikendalikan", atau bahwa "obat yang dikonsumsi bekerja dengan baik", kamu harus paham bahwa selalu ada gejala yang tertinggal, sebagain di antaranya tidak kendata dan parah. Dan hanya karena ganggauan bipolar dapat dikelola bukan berarti mereka dapat menjalani hidup dengan sepenuhnya dan terbangun dengan merasa nyaman.


Kebanyakan dari kamu harus mengubah harapan kami terhadap kehidupan secara dramatis. Dan hal tersebut bukan berarti kamu tidak akan mengalami fase - fase akut, kami dapat terpicu dengan tekanan kehidupan, kurang tidur, atau bahwa perubahan musim. Gangguan bipolar, baik fase depresi maupun hypomania, membuat saya harus banyak mengorbankan sisi sosial, ekonomi, karir, kesehatan, kehidupan, dan hubungan.


Berbagai hal dan penderitaan yang saya alami telah mengubah saya sebagai seorang manusia, membuat hal - hal yang sederhana menjadi sulit, dan membuat hidup saya menyusut secara dramatis dan menjadi jauh lebih kesepian, sulit dan penuh ketergantungan. Dan hal tersebut bukan kaerna kurangnya pengetahuan atau pengobatan - kasus saya memang sangat sulit, rumit karena kejadian yang negatif dalam hidup dan tekanan yang berasal dari kejadian - kejadian tersebut yang terjadi sudah lama sekali dan di luar kendali saya.


Sebagian rasa sakit yang saya rasakan berasal dari pengaruh depresi, tapi saya kehilangan banyak hal dalam dua tahun ketika saya mengalamai hypomanis (yang jarang terjadi). Saya sudah melewati berbagai macam pengobatan yang tersedia, telah mencoba lusinan obat - obatan, segala maca terapi alternatif yang ada mulai dari obat herbal dan suplemen sampai dengan obat yang secara tradisional dianggap berbahaya bagi saraf. 


Kalau kamu juga mempertimbangkan obat - obatan yang diresepkan dan "yang dibeli sendiri" (jangan lakukan ini!), serta obat - obat herbal dan suplemen - suplemen yang sudah saya coba, mungkin saya sudah memcoba lebih dari 100 campuran bahan kimia. Sebagian di antaranya bekerja dengan baik, tapi kebanyakan tidak. Obat - obatan yang bekerja dengan baik hanya bekerja sebagian dan memiliki efek samping.


Dan untuk obat - obatan psikis, efek sampingnya tidak hanya mencakup efek fisik atau mental, tapi bisa mempengaruhi hal yang bersifat jangka panjang seperti, "hei, kamu tahu, saya baru sadar bahwa penggunaan jangka panjang dari SSRI mungkin merupakan alasan kenapa saya tidak lagi peduli untuk menjalin hubungan yang romantis lagi." yang secara akut dapat mengurangi kualitas hidup.

Saya dan keluarga saya sudah menghabiskan lebih dari 2 milyar *dari kantung kami sendiri* untuk biaya pengobatan medis (tapi setengahnya untuk rehabilitasi) dalam 7 tahun terakhir dan saya ngeri membayangkan berapa yang harus dikeluarkan perusahaan asuransi saya untuk pengobatan saya. Biaya obat - obatan saya sekitar 15 juta setiap bulannya (sekarang saya mengkonsumsi 6 obat, meskipun 2 di antaranya bukan obat psikis, tapi masih terkait dengan gangguan bipolar), meskipun yang harus saya keluarkan dari kantong saya sendiri adalah sekitar 2,5 juta.


Selain itu masih ada biaya untuk obat herbal dan suplemen sebesar 2,5 juta dan kunjungan ke psikiater sebesar 3 juta, fisioterapi 1,5 juta - semuanya harus saya bayar sendiri. Waktu yang saya habiskan untuk fokus ke penyakit saya, baik yang penting (kunjungan untuk berkonsultasi, kehilangan pekerjaan, dll) dan yang tidak penting (penelitian yang obsesif, tinggal di rumah, mengasihani diri sendiri) memakan waktu yang sangat banyak dan seharusnya dapat digunakan dengan lebih bermanfaat.

Saya mulai memiliki perilaku ketagihan (ternyata ketagihan dan gangguan bipolar memiliki komordibitas yang tinggi) yang membuat saya harus melakuakn rehabilitasi yang sekarang yang dengan susah payah berusahan saya atasi. Dan hal tersebut dilakukan oleh seseorang yang "tidak pernah" melakukan penyalahgunaan alkohol ataupun obat - obatan pada masa sekolah ataupun kuliah.


Saya kehilangan pekerjaan dan milyaran rupiah dalam bentuk saham, bonus, dan gaji. Kehancuran pada karir saya berdampak mendalam dan sangat membuat depresi. Kalau kamu tidak memperhitungan upaya berwirausaha  (yang tidak pernah penuh waktu), saya sudah bekerja selama 3,5 tahun dari total 7,5 sejak saya lulus kuliah (dengan 2 gelas teknik).


Saya kehilanga seluruh uang saya untuk kesenanagn "berspekulasi" di pasar saham pada fase hypomania (dan sejauh ini saya lebih sering mengalami depresi pada gangguan bipolar, hypomanis jarang terjadi.). Teman - teman saya meninggalkan saya ketika saya berperilaku dengan aneh karena hypomanis, dan mereka juga meninggalkan saya ketika depresi yang saya alami membuat saya menarik diri atau menjadi tidak menyenangkan.


Saya kehilangan hubungan romantis, hubungan romantis yang potensial, kehidupan sosila yang normal, harga diri, motivasi, dan kemampuan untuk merasakan kesenangan. Harap diingat bahwa pemikiran - pemikiran dan perasaan - perasaan tersebut menjadi lebih buruk ketika fase depresi paling buruk terjadi, tapi hal tersebut juga merupakan fakta objektif yang tetap ada meskipun ketika saya merasa "sedikit lebih baik"

Tentunya ada hikmah yang dapat diambil dari penderitaan (yang merupakan topik yang rumit) dan hal yang paling penting bagi saya sekarang jauh berbeda dibanding jika saya tidak melewati segala hal yang saya lewati. Yang paling utama, keyakinan saya menjadi semakin kuat dan hal0 hal yang terlintas di kepala saya sekarang juga sangat berbeda. Tapi hanya karena ada nilai yang dapat diambil dari penderitaan, bukan berarti saya lebih memilih hal tersebut dibanding kesehatan.

Melankoli yang parah, terutama saat kronis, bukan hal yang dapat digambarkan kepada orang - orang yang belum pernah mengalaminya. Dan hal tersebut juga berbeda - beda bagi setiap orang. Saya selalu berpikir untuk melakukan bunuh diri selama 6 bulan, sampai pada tahap dimana terapi aliran listrik tidak dapat membantu.

Saya hampir meninggal, tapi karena kasih sayang Tuhan saya masih hidup. Tapi saya saya harus berjuang setiap hari. Tingkat isolasi kehidupan sosial saya akan mengejutkan orang - orang yang pernah berbicara dengan saya, dan mengejutkan banyak teman - teman saya. Dan kenyataan bahwa saya tidak menjalin hubungan selama 5 tahun juga akan mengejutkan orang - orang yang saya kenal. 


Ketika suasana hati saya normak, saya dapat menipu hampir semua orang dan dapat menyembunyikan depresi saya. Tapi semakin seseorang mengenal saya, semakin mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang "salah". Dan semakin lama mereka mengenal saya, semakin mereka melihat berbagai suasana hati yang saya alami.

Saya tidah tahu bagaimana saya harus mengakhiri ini, tapi terima kasih sudah membaca kisah saya dan saya harap kamu mendapatkan sedikit pemahaman mengenai hal - hal yang dilalui oleh orang yang menderita gangguan bipolar. 

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang