Mengapa banyak non-Kristen merayakan atau mengucapkan "Merry X-mas" pada orang lain, tapi sangat sedikit non-Muslim yang merayakan atau mengucapkan "Eid Mubarak" pada orang lain?

Dilihat 680 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Alasannya sama sekali tidak berhubungan dengan komersialisasi dari hakikat Natal itu sendiri, tapi karena fakta bahwa negara yang berbahasa Inggris sebelumnya sudah didominasi Kristen lebih dulu. Saat 75-90% dari populasinya berkata "Merry Christmas" dan membalut semuanya dengan warna merah dan hijau, 10-25% dari populasi terpaksa harus membalas ucapan tersebut, dan mungkin membalas kado Natal yang bermaksud baik itu dengan sebuah kado juga. Selain itu, dekorasi dengan warna yang cerah itu tampak menyenangkan, terutama bagi anak-anak, yang juga menginginkan mainan-mainan Natal; mereka tidak tertarik dengan "alasan untuk perayaan ini", tapi juga tak ingin disisihkan.


Pada intinya, merayakan ulang tahun Yesus tidak akan berkontradiksi dengan dogma Islam, setidaknya tidak untuk golongan Islam yang menyetujui perayaan hari libur - banyak golongan yang memiliki keyakinan untuk tidak merayakan hari-hari libur kecuali Ramadhan dan Lebaran, dan ini termasuk semua perayaan ulang tahun, termasuk ulang tahun Nabi Muhammad, atau Nabi Isa, atau Martin Luther King atau tetangga sebelah rumah atau ibu anda. Akan tetapi, banyak golongan yang merayakan ulang tahun Nabi Muhammad - dan itu menjadi hari libur nasional bagi negara-negara yang menjadi anggota Gulf Cooperation Council. Karena ada sejumlah umat Kristen yang hidup di dunia Arab, maka ada perayaan Natal yang sangat besar di negara-negara tertentu di Arab, dan perayaan umum terbatas di Pakistan serta negara-negara Muslim non-Arab yang lainnya.

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang