Mengapa etnis Tionghoa masih tinggal di Indonesia setelah tragedi '98?

Dilihat 2,11 rb • Ditanyakan hampir 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

etnis tionghoa di indonesia


Masalah antara ras Tionghoa dan ras asli Indonesia memang menjadi sangat heboh belakangan ini sejak sekumpulan orang yang terlalu sensitif namun kekurangan ilmu berkembang semakin banyak di media sosial. Kawan-kawan etnis Tionghoa di Indonesia dimusuhi, dihujat habis-habisan, dan dianggap musuh 'pribumi'. Meski kebencian dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sudah ada dan terus menerus sejak jaman dahulu kala, yang ramai terjadi belakangan ini harus kita akui ada hubungannya dengan masalah politik dan Pak Ahok.


Puncak dari permusuhan antara etnis Tionghoa di Indonesia dengan 'suku asli' menurut saya sudah terjadi dua kali. Yang pertama ketika tragedi 1998 dan yang kedua adalah ketika Pak Ahok dinyatakan sebagai penista agama. Tapi pertanyaan ini mengenai tragedi 1998, maka saya akan berfokus pada masalah tersebut.


Mengapa setelah terjadi kerusuhan 1998 yang mengerikan itu etnis Tionghoa masih menetap di Indonesia? Mudahnya, karena sejarah Tionghoa di Indonesia sama panjangnya dengan sejarah nenek moyang kita, mereka bukan pendatang yang baru tiba di tahun 1990-an.


Di bawah ini saya akan memberikan pendapat saya mengenai alasan etnis Tionghoa untuk tetap tinggal di Indonesia setelah tragedi tersebut secara obyektif. 


Namun harap diingat, topik ini hanya akan bermanfaat jika disimak dengan hati yang tenang dan lapang tanpa kebencian :D


sejarah tionghoa di Indonesia


Sejarah Tionghoa di Indonesia



Setiap hal yang terjadi di bumi ini pasti memiliki kisah masa lalu, misalnya sepatu lusuh pun tidak ingin kita buang karena merupakan pemberian dari nenek atau handphone jadul tidak ingin kita jual karena dulu kita membelinya dengan uang gaji pertama kita.


Tidak berbeda dengan alasan-alasan etnis Tionghoa di Indonesia tidak beranjak pergi setelah kejadian 1998, ada unsur sejarah di baliknya.


Sejarah Tionghoa dan Indonesia dimulai pada abad pertama. Kaisar Wang Ming (1-6 SM) dari dinasti Han telah menyebutkan nusantara dalam catatannya dengan nama Huang Tse. Di masa ini, orang-orang Tionghoa sudah banyak yang berlayar ke seluruh penjuru bumi, termasuk Indonesia. Karena waktu yang dibutuhkan untuk pelayaran pulang-pergi dari Tiongkok ke Indonesia dan sebaliknya adalah 1 tahun, maka kebanyakan dari mereka singgah selama 6 bulan atau menetap selamanya.


Pada abad ke 4, pendeta Buddha yang bernama Fa Hien (319-414) melakukan perjalanan ke India untuk mendalami agama Buddha dan pada perjalanan pulang, beliau singgah sebentar di nusantara. Fa Hien menuliskan tentang kerajaan Tarumanegara dalam catatannya, ia menyebutnya sebagai "To mo lo". Tiga abad kemudian, I Ching yang sedang melakukan perjalanan ke India dengan tujuan yang sama dengan Fa Hien singgah dulu di nusantara untuk belajar bahasa Sansekerta dengan seorang guru di pulau Jawa yang bernama Jñânabhadra.


Pada masa ini, Fa Hien mencatat bahwa belum ada etnis Tionghoa di Indonesia. Namun seiring dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara serta ramainya kabar bahwa komoditas rempah-rempah Indonesia sangat baik, orang-orang dari Tiongkok mulai datang dengan tujuan untuk berniaga. Sebagian besar dari mereka memutuskan untuk menetap.


Penyebaran agama Islam di Indonesia juga tidak bisa dipisahkan dari etnis Tionghoa. Harap diingat, Islam masuk lebih dulu ke dataran Tiongkok, dan mereka membawanya juga ke Indonesia. Laksamana Cheng Ho adalah orang Tionghoa yang berperan membawa masuk agama Islam ke tanah Jawa. Beliau mengunjungi tanah Jawa dalam pelayaran pertamanya dan memberikan cinderamata piringan khas Tiongkok yang bertuliskan ayat Kursi pada sultan Cirebon pada tahun 1415.


sejarah tionghoa di Indonesia


Di Pandaan, Jawa Timur, terdapat sebuah masjid yang disebut sebagai Masjid Cheng Ho, masjid dengan desain dan sentuhan ala Tiongkok yang didominasi pilar-pilar kayu dan warna merah.


Perjalanan Cheng Ho di Indonesia juga meninggalkan jejak di Semarang. Pengikut Cheng Ho yang bernama Wang Jinghong sakit dan memutuskan untuk menetap di Semarang karena tidak sanggup melanjutkan perjalanan. Wang Jinghong yang muslim dan keturunannya inilah yang kemudian menjadi cikal bakal etnis Tionghoa di Semarang.


Dalam catatannya, Laksamana Cheng Ho menuliskan bahwa para pedagang Tionghoa muslim menetap di ibukota dan kota-kota bandar di Majapahit. Melihat banyaknya pendatang Tionghoa muslim, maka bukan tidak mungkin orang-orang Tionghoa yang beragama Buddha juga menetap jika mengingat besarnya kerajaan-kerajaan Buddha di nusantara pada kala itu.



Keadaan Etnis Tionghoa di Indonesia Sebelum Tragedi



Semua aktivis dan orang-orang yang mengikuti perkembangan berita pasti sudah tahu bahwa tragedi 1998 adalah puncak dari sebuah tunggangan politik pemerintah.


Karena etnis Tionghoa di Indonesia adalah minoritas, mereka adalah sasaran empuk. Bahkan sejak jaman kolonial Belanda, etnis Tionghoa selalu dianaktirikan, dilarang tinggal di pemukiman warga secara bebas dan dikelompokkan, serta dibatasi pergerakannya dalam dunia politik.


Pada era Bung Karno, hubungan antara etnis Tionghoa dengan politik sangat baik, bahkan Bung Karno memiliki beberapa orang Tionghoa dalam kabinetnya seperti Oei Tjoe Tat dan Ong Eng Die. Meskipun demikian, ada undang-undang yang melarang orang Tionghoa untuk berdagang eceran di daerah selain ibukota provinsi dan kabupaten. Aturan ini akhirnya berujung pada keterpurukan ekonomi pada tahun 1965.


etnis tionghoa di indonesia


Semua dimulai pada era Suharto, presiden yang disebut presiden terkorup di abad ke 20. Pada masa pemerintahan ini mereka mengeluarkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. SBKRI ini harus dimiliki oleh seluruh etnis Tionghoa dan walaupun hanya bersifat administratif, ini menimbulkan kesan bahwa orang-orang Tionghoa bukanlah warga negara Indonesia dengan status hukum yang sangat tidak jelas.


Di masa ini juga seluruh hak asasi etnis Tionghoa di Indonesia dibatasi. Mereka tidak boleh menggunakan bahasa Mandarin, tidak boleh merayakan hari besar, tidak bisa menggunakan resep obat tradisional, dan dijauhkan dari kegiatan politik atau apapun yang berhubungan dengan negara.

Orde Baru menganggap bahwa etnis Tionghoa berpotensi menyebarkan pengaruh komunisme dan menggulingkan pemerintahan Indonesia. Tuduhan ini tanpa dasar dan tidak ada data, karena nyatanya Partai Komunis Indonesia didirikan oleh orang Belanda dan petingginya adalah orang-orang Indonesia asli.



Penyebab Tragedi 1998



Karena mereka dijauhkan dari seluruh kegiatan politik dan kenegaraan, maka praktis tidak ada dari mereka yang menjadi pegawai pemerintah. Nyawa mereka menjadi taruhannya.


Hal yang bisa mereka lakukan untuk menyambung hidup adalah dengan berwirausaha, menjadi pedagang. Sekedar informasi, perdagangan sangat dilarang dalam paham komunisme.

Sejak jaman dahulu kala, jiwa para orang Tionghoa adalah jiwa pedagang, sudah saya sebutkan di atas bahwa nenek moyang mereka di nusantara sebagian besar adalah pedagang. Tidak aneh jika mereka sukses dan berhasil.


Tahun 1990-1999 adalah masa yang kelam bagi perekonomian Indonesia, seluruh aspek dan masyarakat bergejolak. Semua orang sensitif karena kebutuhan hidup tidak terpenuhi. Di era ini, sebagian orang Tionghoa yang sukses dalam usahanya tentu menjadi kalangan yang dibenci oleh orang-orang 'pribumi'. Doktrin orba mengenai status warga negara etnis Tionghoa di Indonesia yang tidak jelas membuat masyarakat jadi berpikir, "Mereka pendatang tapi kenapa menguasai perekonomian?" 


etnis tionghoa di indonesia


Sekali lagi, tidak semua orang tahu bahwa jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang Tionghoa di Indonesia sangat terbatas.


Berangkat dari kemarahan masyarakat (yang kemudian ditunggangi pihak tertentu) ini, pecahlah kerusuhan 1998. Semua bermula dari kesalahpahaman dan iri dengki.


Memang banyak orang Tionghoa yang memang terkesan cari-cari masalah dengan pribumi, tapi dari sudut pandang saya, hal itu tidak jauh berbeda dengan gesekan antar suku. Maaf, misalnya stereotipe suku Madura yang disebut-sebut suku maling, suku batak yang disebut suku penjahat, orang-orang Banyuwangi yang disebut suka main dukun, dan masih banyak lagi. 



Alasan Etnis Tionghoa Masih Menetap di Indonesia 



Alasan paling mudahnya, karena mereka adalah orang Indonesia. Ke mana mereka harus pergi?


Etnis Tionghoa di Indonesia memegang KTP warga negara Indonesia, memiliki orang tua serta kakek dan nenek yang juga memegang KTP Indonesia. Nenek moyang mereka juga turut berperang melawan penjajah bersama pribumi lainnya. Mereka adalah orang keturunan Tiongkok yang besar dan lahir di Indonesia, bahkan sebagian besar dari mereka tidak pernah menginjak tanah Tiongkok seumur hidupnya.


Alasan yang paling umum adalah: Tidak ada uang.


Tidak semua orang Tionghoa adalah orang kaya dan karena status mereka adalah warga negara Indonesia, untuk kembali ke Tiongkok pun mereka dianggap sebagai orang asing dan imigran.


Alasan selanjutnya, kerusuhan itu tidak terjadi di seluruh penjuru nusantara.


Yang paling mengerikan hanya terjadi di kota-kota besar di pulau Jawa dan Medan, kota-kota kecil lain tidak terlalu parah atau mungkin cenderung aman.


Selain itu, kerusuhan yang merupakan bagian dari reformasi ini menuntun pada lengsernya Suharto dan naiknya Pak Habibie sebagai presiden pengganti. Pak Habibie memperbaiki keadaan, dan memberikan kembali sebagian hak asasi etnis Tionghoa. Para presiden selanjutnya juga turut berperan, bahasa mandarin kembali dipergunakan, agama mereka diakui, tahun baru Imlek dijadikan hari besar keagamaan, dan mereka kembali diakui sebagai warga negara Indonesia.


etnis tionghoa di indonesia


Tambahan Pendapat:



Sejarah Tionghoa di Indonesia sama panjangnya dengan sejarah Indonesia itu sendiri. Maka, saya sangat mempertanyakan mengapa masih sangat banyak orang yang rasis dan benci setengah mati kepada etnis Tionghoa?


Membenci adalah hak setiap individu, tapi lakukanlah dengan konsisten. Dalam hal ini misalnya, jika Anda sangat sangat membenci Tionghoa dan Tiongkok, maka berhentilah makan siomay, lumpia, mie ayam, martabak, bakpia, dan sate. Semua makanan itu diadaptasi dari makanan mereka. 


Berhenti menggunakan barang buatan mereka. Hayo, Xiaomi sekarang sangat populer, kan? :D


Berhenti bicara dengan 'gue elu' karena diadaptasi dari bahasa mandarin.


Berhenti gunakan kata 'seceng' 'goban' 'ceban' atau 'goceng' karena itu bahasa mereka.


Stop menggunakan kertas karena kertas ditemukan oleh orang Tiongkok.


Intinya, kehidupan kita kini telah menjadi satu kesatuan. Kita adalah satu Indonesia, seluruh budaya telah tercampur, telah menciptakan sebuah budaya baru. Jangan membenci seseorang karena rasnya. Bukankah kehendak Tuhan untuk menjadikan sesuatu?

Terjawab hampir 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang