Mengapa HIV dikaitkan dengan homoseksual?

Dilihat 457 • Ditanyakan sekitar 1 tahun lalu
1 Jawaban 1



HIV dan AIDS seringkali ditulis secara bersamaan. Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda? HIV adalah virus, dan AIDS adalah nama penyakitnya. Bisa saja seseorang memiliki virus HIV di dalam tubuhnya, namun belum menderita AIDS karena daya tahan tubuhnya yang masih kuat atau karena cepat terdeteksi sehingga perkembangan virusnya terkontrol secara ketat. 

Perlu diketahui bahwa penularan HIV tidaklah semudah virus seperti batuk atau flu misalnya, yang dapat menyebar melalui udara. HIV tidak menular semudah itu ke orang lain. Virus pun juga tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. HIV hanya terdapat di dalam darah dan beberapa cairan tubuh, seperti sperma atau cairan vagina.


Sudah menjadi anggapan umum dalam masyarakat, penyebab penyakit HIV diidentikkan dengan gaya hidup yang kurang baik, seperti aktivitas seksual yang bebas atau penggunaan jarum suntik bagi pecandu obat-obatan. 

Tidak dapat dipungkiri memang kasus HIV lebih beresiko menjangkiti mereka yang sering bertukar pemakaian jarum suntik, berganti-ganti pasangan, atau melakukan hubungan seksual tanpa alat pengaman. 

Baik pasangan sesama jenis maupun heteroseksual (beda jenis) memiliki resiko yang sama terserang HIV. 


Lalu mengapa HIV/AIDS lebih identik kepada pasangan homoseksual? 


Pertanyaan ini cukup menarik dan anggapan ini muncul bukan tanpa alasan. Untuk lebih jelasnya, simak yuk uraian singkat dibawah ini hingga tuntas..




Cara Penularan HIV




Seperti yang telah disebutkan di atas, diakui atau tidak, penyebab penyakit HIV yang paling utama adalah melalui hubungan seksual. Tinggi rendahnya resiko penularan HIV tergantung pada jenis hubungan seksual yang dilakukan. HIV sangat mudah menular melalui dinding tipis di dalam anus atau alat kelamin. Perilaku seksual yang bebas, berganti-ganti, dan tanpa mengenakan pengaman beresiko amat tinggi terjangkit virus ini. 

Namun, bukan hanya aktivitas seksual yang dapat menularkannya. HIV bisa juga terjadi melalui hal-hal di bawah ini:


  • Melalui Transfusi darah – cairan dalam tubuh (bukan liur) orang yang mengidap virus HIV sangat mudah menular. Oleh karenanya sebelum melakukan tranfusi darah sebaiknya selektif dan berhati-hati, hal ini dilakukan sebagai langkah awal untuk mencegah terjadinya penularan HIV. 
  • Melalui air susu ibu dan air ketuban – Seorang ibu hamil yang terinfeksi virus HIV dapat mewarisi virus tersebut kepada janin yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya. 
  • Melalui pemakaian jarum suntik yang dipakai berulang kali secara bergantian tanpa disterilkan – hal ini terutama terjadi pada pengguna narkotika yang bertukar jarum suntik. Secara umum dapat dikatakan HIV dapat menular dengan mudah melalui suntikan langsung ke pembuluh darah memakai jarum atau suntikan yang terinfeksi. 
  • Melalui pemakaian alat yang menembus kulit yang digunakan tanpa disterilkan– misalnya alat untuk menindik, jarum tato, alat facial wajah, atau bahkan alat-alat kedokteran. 
  • Melalui luka terbuka di kulit.

Perlu diketahui bahwa penularan HIV tidak melalui keringat ketika bersalaman, menggunakan peralatan makan yang sama, berbagi peralatan mandi atau handuk, melalui air mata atau menggunakan toilet duduk atau kolam renang yang sama. Banyak persepsi yang salah yang berkembang di masyarakat kita. Memang HIV merupakan momok yang menakutkan, karena sampai sekarang belum ditemukan obatnya, namun kita tetap harus meluruskan jika ada pandangan yang salah. 


Umumnya, banyak orang awam yang takut untuk bersalaman, bercakap-cakap dan bertukar alat makan dengan pengidap HIV, bahkan ada yang menganggap virus ini dapat menular melalui gigitan serangga atau nyamuk. 

Oleh karenanya dibutuhkan adanya edukasi yang menyeluruh tentang HIV/AIDS untuk meluruskan berbagai pandangan yang kurang tepat di dalam masyarakat kita.



Mengapa HIV identik dengan pasangan Homoseksual?




Setelah mengetahui penyebab penyakit HIV dan bagaimana cara penularannya, ada satu catatan yang bisa kita petik, bahwa penyakit ini dapat terjadi pada siapapun, baik kepada pasangan homoseksual (sesama jenis) ataupun heteroseksual (beda jenis). 

Namun, kita juga tidak bisa membantah, faktanya memang pasangan homoseksual memiliki resiko yang lebih tinggi terjangkit virus ini. Mengapa? Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. 


Mari kita simak penjelasan di bawah ini:


  • Anal Sex - Banyak penelitian yang mengatakan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar daripada seks melalui vagina. Sebagaimana kita mahfum, pasangan homoseksual (dalam hal ini cenderung kepada gay, bukan lesbian) lebih sering melakukan aktivitas seks anal dibanding pasangan heteroseksual. Tidak seperti vagina yang memiliki banyak lapisan dan memproduksi lubrikan alami, struktur anus relatif lebih tipis dan lebih rentan sobek atau terluka ketika terjadi gesekan secara berlebihan. Anus pun tidak memproduksi lubrikan layaknya vagina sehingga ketika melakukan seks anal, resiko terjadinya luka atau lecet sangat tinggi. Luka inilah yang dapat menyebarkan infeksi HIV. Virus ini akan mudah menular dan masuk melalui aliran darah. Anus juga tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh. 
  • Seks bebas tanpa alat pengamanBanyak pasangan homoseksual yang melakukan hubungan seks tanpa menggunakan alat pengaman. Tidak bisa dipungkiri, biasanya mereka lebih abai menggunakan alat kontrasepsi karena tidak adanya resiko kehamilan. Kealpaan mereka menggunakan alat pengaman inilah yang membuka resiko tertularnya penyakit menular seksual atau bahkan terjangkit virus HIV menjadi lebih tinggi. Bukan tanpa alasan pasangan homoseksual memiliki resiko ini, sebab seks anal sendiri sudah berbahya apalagi jika dilakukan tanpa meggunakan pengaman, resiko trtularnya penyakit menjadi meningkat dua kali lipat. 
  • Berganti-ganti Pasangan - Laki-laki pada umumnya dikenal sebagai karakter yang mudah berganti-ganti pasangan- walaupun tidak semua pria seperti itu. Hal ini dapat juga berlaku pada pasangan homoseksual (gay) yang dapat berhubungan seksual dengan lebih dari satu orang, namun tentu saja untuk alasan yang satu ini dapat ditudingkan kepada semua orang, apalagi mereka yang penggemar pesta seks (orgy). Sangatlah jelas bahwa melakukan aktivitas seksual dengan berganti-ganti pasangan sangat beresiko tinggi dalam penyebaran penyakit menular seksual dan HIV 
  • Tidak memeriksakan diri ke dokter - Banyak orang yang sadar diri bahwa apa yang mereka jalani beresiko tinggi terjangkit PMS maupun HIV. Namun sayangnya kesadaran diri tersebut lantas tidak membuat seseorang untuk cukup berani memeriksakan dirinya ke dokter. Banyak yang masih merasa takut, enggan, malu, atau bahkan abai terhadap kesehatan dirinya, apalagi jika dia adalah seorang homoseksual. Padahal, semakin dini seseorang diketahui mengidap HIV, maka hal tersebut semakin baik karena pengobatan intensif akan diberikan sehingga infeksi virus ini dapat ditekan dan memperkecil peluang dalam penyebaran HIV 

Itulah beberapa alasan mengapa HIV/AIDS identik dengan pasangan homoseksual, namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, baik pasangan homoseksual maupun heteroseksual memiliki resiko yang sama terserang penyakit ini, karenanya dibutuhkan kesadaran diri yang tinggi untuk sama-sama berjuang melawan virus HIV

Bersikap setia, lakukan hubungan seksual hanya dengan suami atau istri Anda. Ubahlah apa yang bisa Anda ubah, baik itu gaya hidup, perilaku seksual, kebiasaan, maupun pilihan hidup yang telah Anda putuskan. 

Sekecil apapun perubahan tersebut, tidaklah ada kata terlambat, selama dijalani dengan niat dan itikad yang baik pasti akan diberikan jalan keluar. Jangan menyerah!


.

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang