Mengapa memiliki gangguan kecemasan (seperti gangguan panik, OCD, PTSD, fobia spesifik, kecemasan sosial, dll) tabu seperti itu? Khususnya di negara-negara berkembang?

Dilihat 1,2 rb • Ditanyakan 12 bulan lalu
1 Jawaban 1

Saya pikir pemikiran tabu ini ada hubungannya dengan besarnya jumlah penduduk dalam negara ini dan kenyataan bahwa negara ini merupakan negara berkembang. Inilah alasannya: Mental dari orang - orang yang ada di negara berkembang masih dalam perkembangan juga, terutama di Indonesia. Satu - satunya yang diharapakan oleh para orang tua dari anak - anaknya adalah bahwa mereka unggul dalam ujian dan berhasil masuk ke universitas terkemuka seperti UI/


Kenyataan bahwa negara ini masih berkembang juga memainkan peranan dalam pemikiran ini dengan menyediakan kesempatan baru bagi generasi muda. Mental seperti itu menyebabkan adanya persaingan sosial. Ini akan menjadi perbandingan yang tiada akhir bagi pada siswa yang memiliki prestasi akademis yang baik dan berada "di garis depan persangan". Ini merupakan jenis lingkungan dimana kamu harus selalu bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dibanding yang lain. 


Ada tekanan yang diberikan kepada anak - anak bahkan sebelum mereka lahir. Seseorang yang tidak dapat berkompetisi dalam sistem tersebut akan dianggap sebagai orang yang gagal. Dan karena kegagalan merupakan hal yang memalukan, maka pemikiran tabu tersebut pun dimulai. 

Jika seseorang terlahir dengan cacat mental, maka masyarakat akan langsung menganggap bahwa dia akan gagal. Jika seserang mengalami penyakit mental karena situasi krisis, orang tersebtu akan dianggap gagal karena dia kehilangan waktu yang seharusnya dapat dia gunakan untuk berkompetisi. Jadi orang - orang yang tidak dapat berjuang dalam pertempuran adalah orang buangan.

Terjawab 11 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang