Mengapa nilai Dollar Amerika menurun?

Dilihat 609 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Dengan adanya proses inflasi yang berkelanjutan, pemerintah dapat menyita, secara diam-diam dan tidak teramati, bagian terpenting dari kekayaan warga negara mereka." - John Maynard Keynes.


Penjelasan singkatnya adalah, bahwa nilai dollar terus mengalami penurunan sebagai akibat dari banyaknya jumlah uang yang beredar (pencetakan uang secara terus - menerus). Efek samping dari hal ini adalah terjadinya inflasi ( kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus ).

Penting untuk kita semua ketahui perbedaan antara currency (mata uang) dan money (uang )


Persamaan antara keduanya adalah : sebagai  alat pertukaran, portable (mudah dibawa), Durrable (tahan lama), Divisible (dapat dibagi ), dan Fungible (dapat dipertukarkan).

Sedangkan fungsi uang yang tidak dimiliki oleh mata uang adalah : Uang merupakan tempat untuk menyimpan nilai (value)`

"Emas dan Perak adalah uang. Selain itu adalah kredit."-  J. P. Morgan


Sebelum tahun 1971, Dollar US dinyatakan dalam bentuk emas (uang nyata). Hal ini dikenal dengan istilah " standar emas". Artinya bahwa Anda dapat menukar tagihan senilai $20 dengan emas yang juga bernilai $20. Hal ini berarti bahwa ketersediaan mata uang sangat berhubungan erat dengan persediaan emas. Akan tetapi, karena terbatasnya jumlah emas, maka jumlah mata uang yang tersedia di dalam sistem juga akan terbatas. Hal ini menyebabkan nilai mata uang menjadi sangat berharga, karena disokong oleh nilai nyata yang benar-benar berwujud tinggi (emas dan perak ).


Pda tahun 1971, Richard Nixon memutuskan untuk tidak lagi menggunakan "standar emas", hal ini berarti bahwa Anda tidak bisa lagi menukarkan tagihan Anda dengan emas atau perak. Dinyatakan bahwa, tidak ada lagi hubungan erat antara emas dan mata uang, hal ini menyebabkan Dollar US menjadi " fiat Currency" (mata uang palsu), yang artinya nilai mata uang tersebut akan sangat bergantung penuh pada kepercayaan, bukan pada nilai yang benar-benar nyata (seperti emas/perak). Karena tidak adanya lagi hubungan antara mata uang dengan emas, maka pemerintah US sekarang dapat mencetak mata uang dengan bebas, dalam jumlah tidak terbatas. Dan ya, mereka melakukannya, mereka mencetak uang dalam jumlah banyak.


Ketika jumlah uang yang beredar meningkat, tetapi jumlah daya beli menurun , maka akan terjadi kenaikan harga dua kali lipat (Anda akan membayar lebih mahal untuk barang yang yang sama yang Anda beli sebelumnya), ini dinamakan Inflasi. Dan memang terjadi penurunan daya beli sebesar 80% di US antara tahun 1971 sampai 2006 (sebelum Krisis Finansial Global (GFC) menyerang di tahun 2007). Dolar US kehilangan kekuatan daya belinya setelah terjadi krisis, banyak bank di "bailout" (mendapat dana talangan pemerintah) dan mendapat 'quantitive easing' (kelonggaran kuantitatif). Intinya, pemerintah US mencetak banyak mata uang untuk menutupi hutang-hutang mereka. 


Tetapi, jangan kuatir. Negara-negara lain pun mengalami masalah yang sama. Alasan mengapa hal itu tidak terlihat begitu nyata ketika kita membandingkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lainnya (Yen Jepang, Euro, Yuan Cina) adalah bahwa mreka juga mencetak "fiat currency", sama seperti halnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah US. Jadi, "fiat currency' diukur terhadap kemampuan diri/negara mereka sendiri. Selembar kertas diukur dengan selembar kertas yang lain. Semakin banyaknya jumlah mata uang yang beredar, akan menyebabkan menurunnya nilai mata uang dan yang lebih parah akan mengakibatkan naiknya harga-harga barang dan jasa. Salah satu cara untuk mengukur devaluasi dari nilai Dolar US adalah dengan mengamati fluktuasi (naik turunnya) harga emas. 

Terjawab sekitar 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang