Mengapa pesawat jet tempur sangat mahal harganya?

Dilihat 8,53 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Kebanyakan negara memiliki angkatan militer dan biasanya terdiri atas angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Untuk angkatan udara, pesawat tempur merupakan salah satu undur yang paling utama karena digunakan untuk serangan udara. Pesawat tempur Indonesia populer dengan nama sukhoi. Beberapa armada jet tempur Indonesia disimpan di lapangan udara (lanud) TNI AU di wilayah Jawa Timur. Selain sukhoi, armada pesawat tempur Indonesia juga bertambah dengan adanya hibahan pesawat temput tipe F-16 dari Amerika Serikat dan juga pembelian pesawat tempur jenis SU-35 yang dipesan langsung dari Rusia. Berbeda dengan pesawat pengebom yang digunakan untuk menyerang target di permukaan, pesawat tempur digunakan untuk menyerang pesawat lain di udara. Oleh karena itu pesawat ini memiliki desain yang lebih kecil, lincah, dan cepat. Karena pembuatan pesawat tempur mengacu pada kecepatan, hal ini juga membuat pesawat tempur kurang tepat untuk menahan serangan misil.


Sehubungan dengan pertanyaan Anda, di bawah ini saya akan membahas mengenai pesawat tempur Indonesia.


Serba-Serbi Pesawat Tempur Indonesia

Diketahui bahwa pemerintah Indonesia telah memesan sepuluh unit pesawat tempur tipe SU-35 dari Rusia. Jet tempur Indonesia terbaru ini kabarnya akan digunakan untuk menggantikan pesawat tempur tipe F5 E atau F Tiger II buatan Amerika Serikat yang kini dianggap sudah kuno. Sebelum ini, Indonesia juga sudah sempat membeli beberapa pesawat tempur dari Rusia seperti pesawat tempur SU-30 sebanyak sebelas unit dan SU-27 sebanyak lima. Namun karena ada banyak negara-negara yang juga memesan pesawat tempur tercanggih dan terbaru buatan Rusia ini, diprediksi pesawat tempur SU-35 akan dikirim ke Indonesia pada tahun 2018, namun tanggal pengirimannya masih belum benar-benar dipastikan.


Berdasarkan pada riset yang dilakukan oleh IHS, Indonesia akan mengeluarkan dana sebanyak lebih dari dua puluh miliar dollar Amerika untuk membeli alat-alat pertahanan negara dan pesawat tempur adalah salah satunya. Jumlah tersebut membuat anggaran pertahanan dan militer Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima besar dunia yang berkembang dengan pesat dan cepat. Bahkan selain pesawat tempur, pemerintah Indonesia juga menunjukkan ketertarikan pada pesawat amfibi BE-200 yang juga dibuat oleh Rusia. Pemerintah NKRI ingin menggunakan pesawat multi-guna ini untuk membantu mengatasi masalah kebakaran hutan. Menurut  Viktor Kladov, kepala delegasi gabungan Rostec dan eksportir senjata Rosoboronexport, Indonesia berminat untuk membeli dua atau tiga unit pesawat amfibi multi-fungsi tersebut.


Sebelumnya Indonesia baru saja menerima hibahan pesawat tempur Amerika Serikat tipe F-16 sebanyak delapan belas unit dari total dua puluh empat unit yang dimiliki Amerika Serikat. Bahkan kemampuan dari pesawat-pesawat tempur tersebut sudah ditingkatkan dari blok dua puluh lima menjadi blok lima puluh dua. Empat unit pesawat dari total delapan belas pesawat tempur F-16 telah sampai di Indonesia pada tanggal dua puluh satu Maret. Pesawat-pesawat jet tempur tersebut menempuh perjalanan panjang untuk tiba di Indonesia. Perjalanan dimulai dari daratan Amerika Serikat, Guam, menuju Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Rencananya pesawat tipe F-16 ini akan menggantikan jet temput F-5E Tiger yang sudah memasuki usia pensiun untuk jet tempur.


Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya, pesawat tempur yang diterima dari Amerika Serikat tersebut akan menjadi tulang punggung skuadron Udara tiga di Pangkalan Udara Iswahjudi. Berdasarkan berita yang etrsiar, semua awak penerbangan dan awak darat, seperti teknisi dan lain-lain, mendapatkan pelatihan khusus di Amerika Serikat agar mampu menangani pesawat tempur F-16 tersebut. Menurut jadwal, enam unit terakhir pesawat jet tempur F-16 akan sampai di Indonesia pada Desember 2017. Kesepakatan hibah pesawat tempur Amerika Serikat ini dibuat pada periode kedua pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kala itu menimbulkan berbagai perdepatan dan pro kontra.



Pada waktu itu, Dewan Perwakilan Rakyat merancang program pembelian enam unit pesawat F-16 blok lima puluh dua baru dengan anggaran sebanyak empat ratus tiga puluh juta dollar Amerika Serikat yang dimulai pada APBN 2011. Adanya pesawat jet tempur tersebut diharapkan dapat menjadi efek getar dan memiliki daya tangkal yang cukup baik untuk menggantikan pesawat jet tempur yang lama. Tapi, pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk menerima pemberian pesawat-pesawat jet tempur F-16 dari Amerika Serikat. Anggaran yang pada awalnya direncanakan untuk membeli enam unit pesawat F-16 baru tersebut dialokasikan untuk mendanai ongkos hibah dan meningkatkan kemampuan pesawat-pesawat tempur hibahan tersebut dari blok dua puluh lima menjadi blok lima puluh dua.


Namun, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin beranggapan bahwa keputusan itu adalah sebuah kesalahan yang dapat menjadi pelajaran untuk kemajuan militer Indonesia berikutnya. Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya peningkatan performa pesawat dan ongkos hibah yang mencapai delapan ratus juta dollar Amerika Serikat, dua kali lipat dari dana semula yang direncanakan oleh DPR. Dan ketika pesawat-pesawat tersebut tiba di Indonesia, dua diantaranya mengalami kerusakan sehingga perlu diperbaiki. Oleh karena itu, Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin berpendapat bahwa lebih baik tidak melakukan hibah ataupun membeli pesawat tempur bekas untuk pesawat tempur Indonesia.


Sehubungan dengan pertanyaan Anda, pesawat jet tempur memiliki harga yang mahal karena pesawat tempur memiliki rangkaian mesin yang kompleks, yang diproduksi dalam jumlah kecil dan hanya dibeli oleh pemerintah. Jet tempur merepresentasikan kemajuan terkini dari hampir setiap bidang teknologi. Jet tempur F16 memanfaatkan kemajuan teknologi komputasi, pesawat tempur F4 memanfaatkan kemajuan teknologi pembangkit listrik, pesawat tempur tipe F86 memanfaatkan kemajuan teknologi aerodinamika. Dan semua teknologi yang digunakan dalam pembuat sebuah pesawat jet tempur masih terus berkembang. Jet tempur jenis F35 akan menggabungkan semua teknologi ini, ditambah kemajuan teknologi dalam avionik dan bahan-bahan material untuk menghasilkan pesawat terbang yang secara teknis paling maju hingga saat ini. Sepanjang sejarah pengembangan pesawat tempur, biaya pengembangan itu melonjak terus namun diimbangi dengan jumlah produksi yang besar.




Pesawat tempur F86 Sabre dibuat sebanyak hampir 10.000, F4 Phantom II sebanyak 5.100 dan F16 sebanyak 4.500. Pihak militer bisa membeli 2.300 unit F35 dengan potensi untuk membuat produksi berjalan maksimum hanya 3.000 pesawat terbang. Lebih sedikit jumlah pesawat terbang berarti lebih besar biaya per unitnya.  Pemerintah adalah pembeli tunggal pesawat jet tempur. Lelang pemerintahan memang sifatnya birokratif, lamban dan rentan terhadap campur tangan politik serta lobi-melobi. Sebagai pembeli tunggal dengan pilihan suplier yang terbatas, seluruh proses pengembangan dan pelelangan memiliki ruang sempit untuk kompetisi yang bisa menurunkan biaya-biayanya. 

Ini adalah alasan-alasan utama mahalnya pesawat jet tempur, tidak diragukan lagi ada banyak faktor-faktor lainnya. Menarik untuk melihat apakah jet tempur generasi berikutnya akan lebih mahal daripada F22 dan F35, atau menjadi lebih murah berupa drone-drone yang dalam penggunaannya hampir sekali pakai saja. Semoga bermanfaat!

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang