Mengapa PMS masih ada dan menyebar?

Dilihat 1,54 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Seperti yang sudah dikatan oleh yang lain, jawaban dari tiga pertanyaanmu pertamamu adalah "iya". Orang yang berhubungan seksual dengan penderita PMS, orang bisa tertular PMS tanpa sepengetahuannya, dan PMS bisa ditularkan dari Ibu ke anak yang dikandungnya. Namun hal itu tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan keempatmu, itulah sebabnya PMS menjadi sangat lazim ketika informasi, uji coba, kondom, dan cara lainnya sudah tersedia. Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus meninjau aspek sosial dan agama. Umat manusia menciptakan peradaban modern yang mendorong terjadinya PMS. Mulai dari banyak orang memperlakukan hubungan seks  layaknya hal jorok dan tabu. Namun hal itu tidak menghentikan orang untuk berhubungan seks, pun demikian orang tidak mau bicara mengenai seks. Orang-orang banyak melakukan hubungan seks yang tidak dibicarakan - mereka benganti ranjang tanpa mebicarakan tentang kesehatan seksual, pencegahan PMS, atau pemeriksaan karena mereka malu untuk membicarakan hal tersebut. Dan banyak orang tidak pernah melakukan pemeriksaan begitu juga dengan pasangannya. Aku mendengar banyak yang berkata : "jika aku tanya pasanganku supaya diperiksa maka artinya aku tidak mempercayainya," layaknya kepercayaan berhubungan dengan pencegahan penyakit.

Lebih parahnya, beberapa menolak untuk diperiksa meskipun mereka sudah ditanya baik-baik, karena mereka malu. Diperiksa artinya kamu merencanakan berhubungan seks. Hanya PSK yang merencanakan hubungan seksnya!

Tak apa jika kamu baru saja melakukannya, namun  jika kamu berniat melakukannya, berarti kamu adalah PSK dan kawan-kawannya. Omong-omong PSK, orang-orang percaya bahwa mereka tidak akan tertular PMS. PMS didapat dari PSK yang jorok dan berhubungan seks dengan orang sembarangan. Jika mereka bukan orang sembarangan dan berhubungan seks dengan orang yang tidak sembarangan maka tidak akan terjangkiti PMS.

Banyak orang malu untuk diperiksa dan ironisnya mereka malu membeli kondom. Tapi rasa malunya tidak menghentikannya berhubungan seks tapi rasa malunya menghentikan tanggung jawabnya. Beberapa orang dalam hubungan yang berkomitmen seringkali selingkuh. penelitian menunjukkan bahwa mereka yang selingkuh kebanyakan tidak mau membahas PMS atau alat kontrasepsi. Banyak perilaku aneh mengenai perselinkuhan, namun bukan selingkuh namanya jika terjadi secara "kebetulan". Jika kamu berniat selingkuh, maka kamu sengaja merencanakannya, jika sebuah kebetulan, maka itu terjadi begitu saja kan?

Membeli kondom, diperiksa, membicarakan PMS menunjukkan kamu berniat selingkuh. Banyak orang merasa tidak nyaman, khususnya secara seksual. Bukan keanehan lagi - komunitas tidak mengajarkan kita untuk PD dan main aman.

Ketidak nyamanan seksual akan menghantarkan penularan PMS. Orang yang tidak nyaman secara seksual iri dan ketakutan jika mendengar masa lalu seksual pasangannya, jadinya mereka tidak membicarakan masa lalu seksual. Orang yang tidak nyaman secara seksual tidak punya cukup keberanian untuk memutus batasan-batasan, dan mungkin juga tidak cukup berani untuk membuat batasan dengan cara menggunakan kondom atau diperiksa.

Omong-omong soal batasan, penggunaan kondom dan hasil pemeriksaan, orang-orang harusnya tidak usah terlalu khawatir, tapi siapa sangka berbicara tentang seks atau batasan seksual akan menghancurkan seks itu sendiri dengan menghilangkan misterinya atau kejutannya.

Saat aku memberi ceramah tentang kesehatan seksual, selalu ada diantara peserta yang bilang "tapi jika kamu membicarakan hal-hal ini, kamu menghilangkan sensasinya!" Agama memainkan perannya. Katolik mengajarkan bahwa penggunaan kondom adalah sebuah dosa. Evangelis Konservatif di AS berusaha semaksimal mungkin menghalangi informasi tentang PMS. Mereka memastikan tidak ada ajaran tentang PMS di sekolah dan mereka berusaha semampunya melindungi anak-anaknya untuk mengakses informasi yang sebenarnya. Hasilnya adalah hamil diluar nikah dan angka penularan PMS sangat tinggi diantara kalangan konservatif, namun dianggap sebagai hal wajar bagi mereka.

Akupun banyak bicara dengan kalangan mereka dan aku tak habis pikir mereka percaya bahwa itu adalah hal bagus karena orang yang berhubungan seks diluar nikah harus "dihukum". Sedangkan kaum Pembaharu yang lebih liberal tentang seks tak ubahnya pun sama. Aku terkejut saat berjumpa mereka karena mereka pun tidak percaya tentang hasil pemeriksaan PMS, karena jika kamu taat beragama maka ketaatanmu akan "melindungimu" dari PMS. Pengarang terkenal pun mengatakan hal yang sama dalam sebuha konferensi seksual. Aku pun membaca artikel yang sama mengenai hal itu dalam terbitan kaum pembaharuan. Tahayul menjadi hal yang sangat kuat. Tahayul pun diperkuat dengan dukungan para penggiat anti ilmu pengetahuan. Carilah di Goolge mengenai "penolakan AIDS". Sangat banyak orang percaya bahwa PMS tidak nyata -- mereka dikarang oleh dokter sesat dan "perusahaan besar farmasi". Beberapa berpikir PMS nyata tapi dokter sesat menutupi kebenaran mengenai obatnya, yang bisa bersala dari mana saja.

Anti intelektualisme adalah hal yang sangat berpengaruh. Dan beberapa orang juga mengidap Sindrom Anomali Spesial. Hal buruk seperti PMS bisa tertular pada siapa saja. Ada orang berkendara tanpa sabuk pengaman karena orang lain yang mengalami kecelakaan, bukan dia. Hal yang sama berlaku pula pada seks. Tentu PMS nyata, tapi itu kan penyakit orang lain, bukan aku.    

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang