Bagaimanakah penerimaan terhadap kaum LGBT di Indonesia ?

Dilihat 602 • Ditanyakan lebih dari 1 tahun lalu
1 Jawaban 1

Topik mengenai LGBT menjadi sebuah bahan pembicaraan yang kontroversial di masa kini. Penerimaan khalayak publik akan komunitas LGBT sangat beragam karena tidak jelas apakah ini hal yang benar atau tidak. Khususnya kaum homoseksual di Indonesia yang menghadapi banyak permasalahan. Berbeda dengan Amerika atau Eropa yang bebas dan cenderung pro LGBT, Indonesia merupakan salah satu negara konservatif dan banyak orang yang beranggapan perilaku seperti homoseksual adalah hal yang aneh, menjijikkan, bahkan tak sedikit orang yang beranggapan perilaku homoseksual adalah sebuah dosa besar karena menyalahi kodrat. Tak hanya di Indonesia, masih banyak negara lain yang kontra dengan komunitas LGBT, bahkan menolak, terutama di daratan Asia. Salah satu film LGBT yang menggambarkan bagaimana hidup seorang LGBT di lingkungan yang menolaknya adalah Saving Face untuk lesbian dan Love of Siam untuk pasangan gay pria.




Kedua film tersebut menggambarkan bagaimana lika-liku hidup seorang LGBT di mana mereka harus mengalami penolakan atas preferensi seksual mereka yang sebenarnya bukan pilihan mereka sendiri. Pada kasus LGBT, meski banyak orang yang beranggapan LGBT adalah gaya hidup, pada nyatanya LGBT itu sama sekali BUKAN gaya hidup. Para kaum LGBT tidak bisa mengontrol itu. Bagaimana pun juga mereka masih manusia. Bahkan orang yang straight sekalipun tidak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh cinta, begitu juga dengan mereka. Sama halnya heteroseksual yang tidak bisa mengontrol saat ia jatuh hati pada seorang lawan jenis, seorang homoseksual juga tidak bisa mengontrol saat mereka tiba-tiba menaruh perasaan pada seseorang yang kebetulan saja sesama jenis.


Di bawah ini saya akan membahas bagaimana penerimaan terhadap homoseksual di Indonesia.


Penerimaan Homoseksual Di Indonesia


Dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dan nilai ketimuran yang masih dijunjung tinggi, tidak bisa dipungkiri Indonesia merupakan sebuah negara yang konservatif, bahkan tak sedikit orang yang amat kaku dan sangat sulit untuk membuka pikirannya. Jangankan permasalahan homoseksual di Indonesia, perbedaan agama, suku, dan ras pun masih menjadi sebuah isu di negara kepulauan ini. Karena itu, tak sedikit kaum LGBT yang memilih untuk menyembunyi preferensi seksual mereka yang sesungguhnya. Bahkan tak jarang terjadi kasus di mana orang terdekat dari seorang homoseksual membawa mereka menemui psikolog untuk 'menyembuhkan' mereka. Dari sini saja sudah terlihat sekali bahwa masyarakat sangat judgemental terhadap kaum LGBT. Preferensi seksual mereka dianggap sebuah 'penyakit' bahkan 'kelainan' oleh kebanyakan orang. Padahal faktanya tidaklah begitu.




Homoseksual bukanlah sebuah penyakit atau pun kelainan. Seorang gay berlaku normal sebagaimana orang-orang lain. Mereka bersekolah, bekerja, dan memiliki tanggung jawab sebagaimana seorang individu dewasa dalam masyarakat. Alasan mereka memilih untuk menyembunyikan diri adalah fakta miris bahwa jika 'jati diri' mereka diketahui publik, orang-orang akan menjauhi mereka bahkan mengucilkan mereka seakan mereka adalah virus. Bahkan banyak orang beranggapan kalau berteman dengan seorang LGBT, hal tersebut bisa menular. Apakah benar begitu? Tentu saja tidak.


Jika seseorang memang benar-benar heteroseksual, meski ia berteman dengan seorang homoseksual, ia tidak akan 'ketularan' dan menjadi gay. Kalau preferensi seksualnya sampai berubah, berarti ia sesungguhnya adalah seorang biseksual, hanya saja ia tidak menyadarinya. Seorang psikolog asal Austria bernama Sigmund Freud mengatakan bahwa pada dasarnya manusia terlahir biseksual, hanya saja dengan berjalannya waktu juga pengaruh dari lingkungan bisa membentuk seseorang menjadi hanya memiliki satu preferensi seksual dalam hal ini homoseksual atau heteroseksual. Oleh karena itu, jika sampai preferensi seksual mengalami perubahan, orang tersebut sebenarnya adalah biseksual yang belum ketahuan saja. Dan ya, hal ini menjadikannya salah satu anggota LGBT karena B dalam LGBT merujuk pada biseksual.




Homoseksual di Indonesia seperti tokoh pada film LGBT 'Saving Face' mayoritas tidak memberitahu siapa pun mengenai preferensi seksual mereka. Alasannya selain karena homoseksualitas dianggap sebagai hal yang buruk, bahkan aib, adalah ketakutan untuk kehilangan orang-orang yang disayangi. Bayangkan saja jika ia memberitahu orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat terdekatnya, namun ternyata mereka tak bisa menerima hal tersebut. Tentunya mereka akan meninggalkannya dengan alasan mereka masing-masing atau bahkan berupaya sebisa mungkin untuk mengembalikannya pada 'jalan yang benar'. Padahal jika dipikir lagi, tidak ada hal yang seratus persen pasti di dunia ini. Kata 'benar' dan 'salah' sebenarnya amat sangat relatif.


Jika Anda merasa apa yang benar dan salah sungguh-sungguh bisa dipisahkan dengan jelas, saya akan memberi sebuah contoh. Tindakan aborsi selalu dianggap sebagai dosa karena tindakan ini secara tidak langsung sama seperti pembunuhan karena merupakan upaya untuk melenyapkan nyawa sang bayi. Ada dua kondisi di sini. Yang pertama, seorang wanita melakukan aborsi karena ia hamil di luar nikah dan takut jika harus menghadapi cacian dari orang-orang di sekelilingnya. Yang kedua adalah kondisi di mana seorang wanita memiliki kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan baginya untuk tetap mengandung sehingga pilihan yang ia miliki hanya mengaborsi bayi tersebut, jika tidak nyawanya yang menjadi taruhan.


Saya yakin orang dengan mudah mengatakan kondisi pertama adalah salah karena wanita tersebut begitu egois dan berusaha melenyapkan bayi tak berdosa untuk lari dari tanggung jawabnya, sementara kondisi kedua dianggap benar karena adanya alasan medis. TAPI, apakah memang begitu? Pada kondisi pertama, jika wanita tersebut memang tetap melahirkan anaknya, namun pada akhirnya tidak mampu membesarkan anak tersebut dan bisa saja tanpa sengaja membuat anak tersebut meninggal karena masalah kesehatan di kemudian hari disebabkan nihilnya dana untuk berobat, bukankah lebih baik membiarkan bayi tersebut lenyap sebelum ia bisa merasakan apa pun? Dan sang ibu bisa merasakan sakitnya saat ia menjalani proses aborsi.


Bagaimana dengan kondisi kedua? Apakah sepenuhnya benar? Tidak. Meski ada alasan medis di baliknya, tidak bisa dipungkiri ia sudah melenyapkan nyawa bayi dalam kandungannya dengan tindakan aborsi tersebut dan aborsi adalah pembunuhan. Apakah Anda sudah mengerti yang saya maksud dengan 'kebenaran dan kesalahan yang relatif' tadi? Dari sudut pandang Anda, sesuatu bisa saja benar atau salah, namun jika Anda melihat lebih dalam pada suatu permasalahan, Anda bisa menemukan bahwa ada hal yang lain di dalamnya dan mungkin mengubah pandangan Anda. Sama seperti kasus homoseksualitas.




Jika saja mayoritas manusia merupakan homoseksual, bukankah ini akan membuat heteroseksual menjadi salah karena tidak sesuai dengan arus yang ada? Apakah seseorang menerima kaum LGBT atau tidak memanglah hak dari orang tersebut untuk memutuskan, namun ada baiknya sebelum men-judge mereka, bukankah lebih baik untuk memposisikan diri di posisi mereka? Dikucilkan bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih jika alasannya adalah hal yang di luar kontrol seseorang. Bukankah pepatah mengatakan 'Anda akan menuai apa yang Anda tanam'? Jika seseorang menghakimi dan mengucilkan orang lain, bisa saja suatu saat orang tersebut berada di posisi yang sama meski mungkin dengan alasan yang berbeda. Apa yang saya tuliskan di atas merupakan opini saya mengenai penerimaan orang-orang terhadap LGBT di Indonesia yang cenderung negatif. Sekian terima kasih. Semoga bermanfaat!

Terjawab lebih dari 1 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang