Pada awal sejarah Islam, tidak lama setelah zaman nabi, apakah ada catatan kaum yahudi yang berpindah agama menjadi muslim?

Dilihat 4,32 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu

Pada Al-quran ditemukan sura dimana Nabi Muhammad menolak sekelompok orang yahudi. Apakah ada catatan yahudi yang berpindah agama secara individual?

1 Jawaban 1

Ada. Salah satunya bernama Abdullah bin Salam. Begini ceritanya:

Awalnya, Abdullah bin Salam adalah seorang Pemuka Agama Yahudi di Madinah. Sebagai seorang Pemuka Agama, dia mengetahui inti dari isi Taurat sehingga dia tahu akan ada Nabi terakhir. Dia masuk Islam segera setelah kemunculan Nabi Muhammad SAW. Ia juga menghimbau orang-orang untuk percaya pada kerasulan Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, pengikutnya menolak dan dia dianggap sebagai pembohong karena dia telah memeluk agama Islam.

Al-Husayn ibn Sailam (Abdullah bin Salam) adalah seorang Rabbi (Pendeta Yahudi) di Yatsrib (Medina) yang terhormat dan disegani oleh orang-orang Yahudi maupun non-yahudi di kota tersebut. Pada beberapa kurun waktu, kesehariannya adalah beribadat, mengajar dan berkhotbah di Sinagog (tempat peribadatan agama Yahudi). Kemudian, ia memutuskan untuk mengabdikan diri untuk mendalami Taurat. Dari situ dia mengerti bahwa aka nada Nabi terakhir yang ajaran agama yang dibawanya akan melengkapi ajaran agama nabi-nabi terdahulunya.

Kemudian, pada suatu hari, Al-Husayn ibn Sailam mendengar kabar tentang hadirnya seorang nabi di Mekkah. Dia berkata, "Ketika saya mendengar kabar tentang kehadiran seorang Nabi utusan Tuhan, saya mulai mengumpulkan informasi dan membuat catatan tentang siapa namanya, silsilahnya, sifat-sifatnya, waktu dan tempat asal dan kemudian saya mencocokkannya dengan apa yang ada di kitab suci kita. Catatan yang saya buat ini semakin memperkuat keyakinan saya tentang bukti otentik dari tujuan misi kenabiannya serta membenarkannya. Tapi saya menyembunyikan keyakinan saya ini terhadap orang-orang Yahudi ".

Ketika Al-Husayn ibn Sailam mendengar kedatangan Nabi ke di Yatsrib, dia segera bergegas datang dan menyeruak kerumunan orang. Saat itu, Nabi sedang mengatakan, "Wahai saudara-saudara sekalian, Tebarkan salam, Beri makan mereka yang kelaparan, Dirikanlah salat malam hari saat orang terlelap, maka kalian akan masuk surga dalam damai". Dari dekat, dia mengamati Nabi Muhammad SAW dengan seksama dan diyakinkan oleh wajahnya yang bukanlah seorang pendusta.

Kemudian, Al-Husayn ibn Sailam menghampirinya dan berkata, "Aku akan bertanya tiga hal yang tidak seorang pun tahu kecuali seorang Nabi. Apakah tanda-tanda pertama dari hari Kiamat? Makanan apa yang pertama kali manusia makan di Surga? Mengapa seorang anak mirip dengan ayahnya sedangkan saudaranya mirip dengan pamannya?".

Nabi Muhammad SAW berkata, "Jibril baru saja memberitahukan aku jawaban-jawabannya." Al-Husayn ibn Sailam berkata, "Dia (Jibril), dari seluruh malaikat yang ada, adalah musuh orang-orang Yahudi."

Kemudian dia menjawab, "Tanda pertama dari hari Kiamat adalah akan ada api yang menyatukan orang-orang dari Timur dan Barat. Makanan pertama manusia di Surga adalah hati ikan. Tentang anak yang mirip ayahnya tetapi saudaranya mirip pamannya, karena mereka adalah kerabat dekat sehingga dalam tubuh mereka terkandung gen yang sama”.

Lalu Al-Husayn ibn Sailam menyatakan keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Nabi Muhammad SAW menatap saya dan bertanya: "Siapa namamu?" jawab saya: "Al Husayn ibn Sailam",

"Sekarang namamu diganti jadi Abdullah bin Salam" katanya, memberikan nama baru untuknya.

"Ya saya setuju, Abdullah bin Salam (memang seharusnya begitu). Demi Dia yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, saya tidak berniat memiliki nama lain setelah hari ini". Abdullah pun pulang kerumah dan memperkenalkan Islam kepada istri, anak-anak dan semua orang di rumah termasuk bibinya yang sudah lanjut usia tapi Abdullah meminta mereka menyembunyikan ke-Islaman mereka dari orang-orang Yahudi sampai dia mengizinkan dan mereka pun setuju.

Abdullah mencoba menyerukan tentang ajaran agama Islam kepada para pengikutnya, tetapi mereka yang awalnya sangat menghormatinya kini merendahkannya dengan mengatakan hal-hal yang tercela terhadapnya. Mereka menolak untuk menyatakan bahwa yang dikatakan oleh Abdullah adalah kebenaran.

Karena hal tersebut, Al-Qur'an bahkan mengabadikan tentang Abdullah bin Salam dalam suatu ayat:

"Katakanlah,'Terangkanlah kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman; kamu menyombongkan diri. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim'". (46-10)

Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang