Pernahkah diadakan ada penelitian bahwa meningitis (radang selaput otak) bisa menyebabkan penyakit seperti Depresi dan Bi polar ?

Dilihat 8,49 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Beberapa studisudah menunjukkan kalau balita yang punya meningitis dari umur dia ada resiko untuk fungsi yang lebih buruk sebagaimana anak kecil dan remaja dibandingkan dengan balita yang tidak pernah menderita meningitis dari umur 18 bulan lebih buruk di neurokognitifnya, ukuran edukasi dan intelektualnya. Yang sudah menderita meningitis di awal hidupnya juga menunjukkan depresi, kegelisahan, dan gejala psikotik yang meningkat dan digolongkan sebagai memiliki masalah psikologi dan sikap dibandingkan ke teman-temannya (Khandaker, Stochl, Zammit, Lewis,, & Jones, 2015).


Tidak jarang untuk pasien yang didiagnosa dengan meningitis untuk menderita dari status mental yang berubah dan beberapa tipe meningitis terkait dengan kebingungan psikotik akut. Gejala sering lainnya termasuk iritabilita, kelesuan, ngantuk yang berlebih, dan nafsu makan nurun (CDC, 2014). Tetapi, gejala ini, bisa dikaitkan ke patopsiologi dari penyakitnya sendiri dan tidak dipercayauntuk mengindikasikan gejala yang terpisah. Sebagaimana meningitis sudah dikenal sebab fisikalnya yang belum ditemukan juga mengakibatkan kelainan mental seperti bipolar atau schizophrenia saat kelainan mental tersebut muncul dengan meningitis hanya sekedar kebetulan. Secara umum, yang memiliki masalah kesehatan mental kemungkinan terkena media yang menyebabkan meningitis seperti populasi umumnya. Dan juga tidak ada bukti kalau meningitis spinal menyebabkan kelainan mental seperti bipolar atau depresi.


Tetapi, pengalaman memiliki meningitis sudah dikaitkan dengan efek emosional, sikap, dan psikolgikal di sekitar sepertiga pasien yang mana 13 persen laporannya masalahnya jangka panjang. Masalah ini seringnya dilaporkan after-effect dari panyakitnya (Meningitis Research Foundation, 2010). Efek ini ditemukan di anak kecil dan remaja dan juga dewasa (Borg, Coen, Booy, & Viner, 2009). Tambahan, sebanyak 15 persen dari anak kecil dan setengah dari orang tua ditunjukkan kalau mereka memiliki PTSD setelah keluar dari rumah sakit (Garralda, Gledhill, Nadel, Neasham, O’Connor, & Shears, 2009). Penting untung mencatat kalau tipe masalah ini seringnya ditemukan setelah mengalami penyakit mengancam dan tidak spesifik ke meningitis spinal walaupun mereka terjadi sesering efek sesudahnya dari penyakit ini.


Referensi

Borg, J., Christie, D., Coen, P.G., Booy, R., & Viner, R.M. (2009). Outcomes of meningococcal disease in adolescence: prospective, matched-cohort study. Pediatrics, 123: e502-9.

Centers for Disease Control and Prevention, (2014). Meningitis.

Garralda, M.E., Gledhill, J., Nadel, S., Neasham, D., O’Connor, M., Shears, D., (2009). Longer-term psychiatric adjustment of children and parents after meningococcal disease. Pediatric Critical Care Medicine, 10: 675-80.

Khandaker, G. M., Stochl, J., Zammit, S., Lewis, G., & Jones, P. B. (2015). A population-based prospective birth cohort study of childhood neurocognitive and psychological functioning in healthy survivors of early life meningitis. Annals of epidemiology, 25(4), 236-242.

Meningitis Research Foundation, (2010). Impact of Meningitis: Findings and Recommendations from the Member Survey.


Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang