Saya ingin belajar kedokteran pada umur 32 tahun. Apakah sudah sangat terlambat ?

Dilihat 401 • Ditanyakan 11 bulan lalu
1 Jawaban 1

              profesi dokter


Sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi dokter bisa dibilang merupakan salah satu profesi yang sangat diidamkan. Yaa memang profesi dokter menjadi salah satu primadona di kalangan kita.

Karena dokter merupakan profesi yang mulia yaitu memyembuhkan orang sakit bahkan bisa menyelamatkan nyawa seseorang, kita akan sangat berterima kasih dan mungkin kagum dengan dokter yang telah membantu mengobati sakit yang diderita pasien. Selain itu, tidak bisa dipungkiri, dokter identik dengan penghasilan besar dan hidup mewah. Maka tidak heran jika banyak yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Meskipun demikian, perjalanan untuk menjadi dokter sangatlah tidak mulus semudah membalik telapak tangan; bisa dikatakan cukup berat. Setelah menjadi dokter pun, belum tentu ekspektasi yang diharapkan bisa terpenuhi. Intinya, menjadi dokter tidaklah seindah yang dibayangkan kebanyakan orang yang tidak memahami profesi tersebut. Lantas bagaimana cara menjadi dokter?

Ada tahapan-tahapan yang harus dijalani seseorang jika ingin menjadi dokter

yang akan saya bagi di sini.


Yang menjadi masalah adalah Anda ingin menjadi dokter dan mendaftar kuliah kedokteran pada umur 32 tahun? Menurut saya sepertinya belum terlambat karena batas maksimum usia saat mendaftar kuliah jurusan kedokteran adalah sebelum mencapai (<35) tahun, kecuali bagi calon peserta yang berasal TNI/POLRI atau staf pengajar yang dikirim oleh lembaga pendidikan perguruan tinggi negeri (PTN) atau swasta (PTS). Bahkan ada pula Perguruan tinggi yang tidak memberi syarat batas maksimum usia bagi calon mahasiswanya.


Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa perjalanan menjadi dokter tidaklah ringan. Di fakultas lain masa studi bisa diselesaikan dalam 4 tahun bahkan ada yang 3,5 tahun bagi mereka yang pintar, namun untuk menjadi dokter waktu yang dibutuhkan minimal adalah 5 tahun. Malah, masih ada beberapa fakultas kedokteran (FK) di beberapa universitas yang masih menerapkan pendidikan 6 tahun.


Tahapan-tahapan Menjadi Dokter


Jika Anda ingin kuliah kedokteran namun masih ragu dengan usia Anda masih bisa mendaftar atau sudah terlambat? mungkin Anda perlu mengetahui tahapan-tahapan untuk menjadi dokter terlebih dahulu untuk menambah wawasan serta menimbang-nimbang sendiri apa yang diperlukan.
Jenjang pendidikan kedokteran secara umum dibagi 2, yaitu jenjang sarjana kedokteran dan jenjang pendidikan profesi yang lebih dikenal sebagai tahapan koas. Jenjang sarjana bisa ditempuh minimal selama 3,5 atau 4 tahun, tergantung kebijakan masing-masing Fakultas Kedokteran. Perlu diketahui, jika di fakultas lain mungkin ada program percepatan, maka di Fakultas Kedokteran tidak ada. Tiga setengah atau empat tahun benar-benar waktu fix yang harus dilalui. Setelah diwisuda menjadi sarjana kedokteran (S.Ked), calon dokter pun langsung menjalani pendidikan profesi di rumah sakit.


                     Tahapan menjadi dokter


Bagi Anda yang ingin mengetahui bagaimana tahapan-tahapan menjadi dokter secara detail berikut pemaparannya:


  1. Seleksi masuk Fakultas Kedokteran
    Dalam proses seleksi masuk fakultas kedokteran tidak jauh berbeda dengan seleksi masuk ke fakultas lainnya biasanya yang berbeda adalah biaya awal/uang pembangunan (ada beragam istilahnya). Prosesnya sendiri juga bermacam-macam ada yang melalui PBUD (penelusuran bibit unggul daerah), SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri), jalur khusus, dll. Nah, yang perlu diketahui bersama, masuk fakultas kedokteran itu tidak selalu harus membayar mahal, karena biaya mahal itu hanya jika kita masuk fakultas kedokteran melalui proses jalur khusus. Jika melalui proses jalur khusus biaya awal yang harus dibayar berkisar 60-200 juta. Namun jika melalui proses PBUD atau SNMPTN biaya awalnya hanya berkisar 10-20 juta.
  2. Kuliah Sarjana
    Sistem perkuliahan di kedokteran saat ini menggunakan sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), saat kuliah nantinya calon2 dokter akan mengikuti kuliah pakar, tutorial, skill lab, praktikum, dan ujian. Tutorial sendiri merupakan suatu metode belajar kelompok (10-15 mahasiswa) yang dibimbing oleh seorang tutor (dosen). Skill lab merupakan simulasi keterampilan medis yang biasanya dipraktekkan dengan bantuan alat peraga (phantom) atau pasien simulasi. Contohnya skill ‘mengambil darah’, disini biasanya antara 2 orang mahasiswa kedokteran akan saling bertukar peran untuk mempelajari keterampilan ini. A mengambil darah B, dan begitu pula sebaliknya. Praktikum merupakan pelaksanaan keterampilan biomedis misalnya histologi, mikrobiologi, dan anatomi. Nah untuk anatomi seorang mahasiswa kedokteran harus mempelajari seorang Kadaver “mayat yang diawetkan” untuk dipelajari bentuk dan letak organ2 tubuhnya. Kuliah sarjana kedokteran ini lamanya bervariasi, paling cepat 3,5 tahun.
  3. Profesi Dan Koas                                                                                       
    Setelah lulus sarjana (mendapat gelar S.Ked “Sarjana Kedokteran”), seorang calon dokter untuk mendapatkan titel dokter (dr.)  harus melaksanakan profesi atau istilahnya menjadi seorang koas (istilah kerennya dokter muda). Proses ini merupakan proses yang tersulit dan paling berkesan bagi seorang dokter. Proses ini dilaksanakan di rumah sakit pendidikan selama minimal 1,5 tahun. Tahap ini merupakan tahap pengaplikasian ilmu kedokteran yg telah dimiliki selama kuliah kepada pasien sebenarnya. Jadi pada tahap ini calon dokter sudah bertindak sebagai dokter namun masih di bawah pengawasan pembimbingnya.
    Nah pada tahap ini, pada beberapa bagian tertentu seorang dokter muda akan melaksanakan jaga malam, misalnya di bagian IGD (Instalasi gawat darurat) sebuah rumah sakit, jika kita mendapat giliran jaga malam, maka artinya kita harus bertugas di rumah sakit selama 32 jam, karena harus masuk shift pagi (Jam 7 – 14.00), ditambah shift jaga (jam 14.00 – 7.00), ditambah lagi kegiatan pagi keesokan harinya (jam 7 – 14.00). Duh...kebayangkan gimana capeknya ? Belum lagi saat menghadapi karakter keluarga pasien yang bermacam-macam ada yang cerewet, jutek, dan sebagainya kemudian kondisi pasien yg bermacam-macam pula yang memiliki sakit menular, serta pasien yang sakratul maut. Ternyata nggak selalu enak jadi dokter itu :(

  4. Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI)
    Setelah menyelesaikan profesi, seorang dokter muda tersebut akan diyudisium sebagai tanda sah mengenakan titel dokter (dr.), namun tidak sampai disitu saja, dokter tadi tidak bisa langsung bebas melaksanakan praktek kedokterannya, melainkan terlebih dahulu dokter tersebut harus mengikuti UKDI atau ujian kompetensi dokter Indonesia.                            Ujian ini dilaksakan 4x setahun, dan serentak di seluruh Indonesia, jadi sebagai standarisasi bahwa semua dokter dari fakultas kedokteran manapun memiliki kompetensi minimal yang sama. Jadi UKDI ini ibarat UN (Ujian Nasional) bagi siswa SMP-SMA. UKDI ini terdiri dari ujian teori (disebut CBT) yang berjumlah 200 soal dan ujian praktek (disebut OSCE) yang terdiri dari 12 station. Biaya mengikuti UKDI ini juga cukup besar yakni Rp 1 juta/ujian per orang.
    Jika lulus UKDI, dokter tersebut akan diperbolehkan mengurus STR “surat tanda registrasi”, sebagai tanda dia sudah legal berpraktek di Indonesia. Nah jika belum lulus UKDI, dokter yg bersangkutan harus mengikuti lagi UKDI ini 3 bulan kemudian, dan tentunya harus membayar lagi biaya administrasinya. Berita terbaru UKDI akan berganti dengan EXIT EXAM, dimana pelaksanaan dan pembiayaannya ditanggung oleh pihak kampus dan dilaksanakan pada tingkat akhir setelah selesai koas dan sebelum yudisium dokter. Sehingga tidak ada lagi dokter yang nasibnya tidak jelas (sudah dokter tapi tidak boleh praktek karena tidak lulus ujian kompetensi).

              ujian dokter


Nah, itulah cara menjadi dokter tahapan-tahapan menjadi dokter. Jika saat ini Anda berusia 32 tahun itu berarti jika Anda mendaftar kuliah kedokteran akan selesai paling cepat kira-kira saat Anda berusia 37 tahun. Semua tergantung kondisi dan hasil belajar di perkuliahan. Silahkan ditimbang-timbang lagi dan anda akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan Anda sendiri. Salam sukses :)




Terjawab 11 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang