Sebagai seorang jada/duda, bagaimana rasanya jatuh cinta ke orang lain?

Dilihat 260 • Ditanyakan 7 bulan lalu
1 Jawaban 1

Perasaannya campur aduk dan sangat rumit. Untuk beberapa bulan pertama setelah suamiku meninggal, aku benar-benar dalam kondisi yang suram. Kemudian aku mulai bangun dan memulai hidupku lagi dengan perlahan. Aku melihat teman-temanku hidup bahagia bersama pasangannya dan kuakui cukup susah untuk berkumpul bersama mereka. Jangan disalah artikan, mereka adalah teman-teman yang sangat baik dan suportif, tapi semua ini terasa susah terutama untuk menjadi 'orang kelima'. Dan kadang-kadang bagi mereka juga dirasa susah untuk berkumpul bersamaku yang sekarang sendirian. Mengundangku ke pesta sendirian membuat rasa kehilangan ini semakin buruk. Aku menyadari bahwa aku rindu untuk memiliki pria yang bisa kuajak berkumpul namun aku juga tahu bahwa aku belum siap untuk berkencan lagi. Jadi aku menemui seseorang melalui situs daring. Kami menjadi teman dengan cukup cepat. Kami menyukai hal yang sama dan sering jalan-jalan bersama. Suatu hari kami sedang ngobrol dan minum anggur dan satu hal berujung ke yang lain. Semua ini terasa hebat. Mungkin karena kami adalah teman baik dan semuanya terasa benar dan alami. Aku tidak merasa bersalah maupun sedih, aku cukup bahagia dengan semuanya. Mungkin semuanya terasa susah pada awalnya karena aku merasa takut untuk memberitahu teman-temanku tentang ini tapi di saat yang bersamaan aku juga sangat senang. Aku takut semua orang akan menghakimiku karena bahkan belum setahun semenjak suamiku meninggal. Terlebih lagi, aku juga khawatir akan kemarahan teman dekat dan keluarga suamiku. Aku merasa bahwa semua orang mungkin berpikir aku tidak terlalu mencintai suamiku karena aku berhasil melanjutkan hidup dengan cukup cepat. Dan aku juga berpikir ini adalah standar ganda untuk para janda untuk melanjutkan hidup terlalu cepat. Saat pada akhirnya aku membawanya ke suatu pesta dan mulai memperkenalkannya ke semua orang, ternyata mereka cukup ramah dalam menyambutnya. Kemudian ada seorang teman wanita memberitahuku bahwa saat aku muncul di pesta ini, dia mengira bahwa aku hanya membawa teman biasa. Tapi seiring berjalannya pesta, dia akhirnya menyadari bahwa kami berkencan dan dia akhirnya diselimuti dengan emosi. Dia bilang bahwa secara rasional ia tahu aku memang punya hak untuk mulai berkencan dan menikmati hidupku, tapi ini semua membuatnya sangat kecewa untuk melihatku dengan lelaki lain (dia adalah teman dekat suamiku dan sudah kenal suami jauh lebih lama daripada aku). Dia meminta maaf dan berharap reaksinya tidak menggangguku. Jujur saja bahkan aku tidak menyadarinya. Tapi perbincangan ini menyadarkanku bahwa aku harus juga memperhatikan perasaan orang lain. Semua teman-temanku juga masih bersedih. Jadi meskipun aku tidak akan membiarkan perasaan mereka mempengaruhiku dalam berkencan, tentu aku harus lebih berpikir bagaimana keputuskanku akan juga berdampak pada hidup mereka,. Untungnya pacarku adalah seorang yang sangat hebat dan kuat. Saat kami berkumpul dengan teman-temanku, tentu ada cerita tentang suamiku yang tiba-tiba dibicarakan. Aku bertemu kebanyakan temanku melalui suamiku. Kadang-kadang ada pesta atau event yang kudatangi sendiri karena mungkin akan terasa aneh baik itu bagiku maupun bagi teman-temanku dengan kehadiran pacarku disana. Kami sudah membicarakan ini dan diapun juga mengakui bahwa terkadang dia juga merasa dibandingkan dengan suamiku. Tapi ini semua hanya fase yang harus kita lalui dan belajar untuk mengerti satu sama lain di hubungan baru ini. Seperti halnya orang dewasa lain yang memulai suatu hubungan baru, kami berdua membawa masa lalu dari hubungan sebelumnya dan sama-sama berusaha untuk membuat memori baru bersama. Aku merasa sangat senang dengan hubungan ini dan akhirnya bisa mencintai lagi. Aku tidak mengira akan bertemu seseorang secepat ini dan ternyata semuanya berjalan lancar. Aku tidak tahu apa kita bisa bersama selamanya (siapa yang tahu?) tapi sekarang semuanya terasa cukup indah. Aku cukup yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untukku di masa seperti ini.Beberapa temanku bertanya apa aku merasa bersalah atau aneh  soal berkencan dengan orang lain dan sejujurnya aku tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku tahu suamiku pasti menginginkanku untuk hidup bahagia. Aku tidak inign membuang waktu, satu hal yang kutahu ialah hidup ini pendek dan waktu itu sangat berharga. Dan ini mungkin sudah mempengaruhiku dalam menjalani hubungan ini. Setelah mengalami kehilangan yang luar biasa, aku bisa lebih santai pada akhirnya. Aku tidak panik terhadap hal-hal kecil seperti dulu lagi. 

Terjawab 6 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang