Sebagai seorang janda, bagaimana rasanya jatuh cinta dengan orang lain?

Dilihat 2,97 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Hal itu melibatkan berbagai macam emosi. Beberapa bulan pertama setelah suami saua meninggal, saya masih merasa bahwa semuanya kabur. Lalu saya mulai bangun dan perlahan menjalani hidup lagi. Saya menyadari bahwa hampir semua teman - teman saya sudah memiliki pasangan dan cukup sulit untuk jalan - jalan bersama mereka.


Jangan salah, mereka sangat mendukung dan luar biasa, tapi sulit untuk menjadi ban ke lima Dan saya rasa kadang sulit bagi mereka untuk berjalan - jalan dengan saya sendirian. Menghadiri pesta sendirian menbuat ketiadaannya menjadi lebih jelas. Saya sadar saya ingin memiliki seorang pria yang bisa saya ajak jalan keluar, tapi saya tahu saya belum siap untuk mulai berkencan. Jadi saya bertemu dengan seseorang online melalui situs persahabatan. Kami cepat menjadi teman. Kami menyukai hal yang sama dan sering berjalan - jalan.


Suatu ketika kami berbincang - bincang dan minum wine dan sesuatu terjadi. Itu merupakan hal yang hebat. Mungkin karena kami adalah teman baik  jadi semuanya terasa alami. Saya tidak merasa bersalah atau sedih, saya hanya merasa senang. Pada awalnya sulit karena saya takut untuk mengatakan kepada teman - teman saya mengenai hal itu, tapi saya juga sangat senang.


Saya taku bahwa orang - orang yang menilai saya dengan keras karena belum setahun sejak suami saya meninggal. Saya takut teman - teman dan keluarg suami saya akan marah kepada saya. Saya merasa orang - orang akan berpikir bahwa saya tidak benar - benar mencintai suami saya kalau saya terlalu cepat melanjutkan hidup. Dan saya pikir bahwa para duda tidak dinilai dengan cara yang sama adalah standar ganda.

Ketika akhirnya saya mulai membawa dia ke pesta dan mengenalkannya kepada orang - orang, semua orang sangat baik. Belakangan salah seorang teman saya mengatakan bahwa ketika saya muncul di pesta dengannya, dia berpikir bahwa pria itu hanyalah seorang teman. Belakangan dia sadar bahwa kami sedang berkencan dan dia menjadi emosi. 


Dia mengatakan bahwa dalam pikiran rasionalnya, dia tahu bahwa saya berhak untuk berkencan dan melanjutkan hidup saya tapi dia merasa kecewa melihat saya bersama orang lain (dia adalah teman dekat dari suami saya dan mengenal suami saya lebih lama dari saya). Dia minta maaf dan berharap bahwa reaksinya tidak menggangu saya.


Sejujurnya, sebelumnya daya tidak menyadarinya, tapi percakapan itu membuat saya saya bahwa saya harus mempertimbangkan perasaan orang lain juga. Teman - teman saya juga merasa sedih. Jadi sekalipun saya tidak akan membiarkan perasaan mereka mempengaruhi keputusan saya untuk berkencan, saya harus berhati - hati mengenai bagaimana pilihan saya mempengaruhi mereka. Dan terkadang hal ini mempengaruhi hubungan yang baru saya bangun.

Untungnya pacara saya adalah pria yang sangat baik. Ketika kami melaukan hal - hal bersama dengan teman - teman kami, kadang ada cerita - cerita tentang suami saya. Kebanyakan dari teman - teman saya adalah orang - orang yang saya temui melalui suami saya. Kadang saya pergi ke suatu pesta atau acara sendirian karena akan tidak nyaman bagi saya atau teman - teman saya kalau pacar saya ada di sana.


Kami membicarakan hal itu dan dia mengakui bahwa dia memang sering merasa dibanding - bandingkan dengan suami saya. Tapi kamu berusaha untuk mencari tahu bagaimana kami bisa menjalani hubungan ini dengan baik. Seperti pasanagan - pasangan lain yang memulai hubungan di usia yang sangat dewasa, kami berdua membawa kenangan - kenangan dari hubungan yang kami jalani sebelumnya dan berusaha untuk menciptakan kenangan kami sendiri dengan baik.


Rasanya luar biasa untuk ada lagi dalam hubungan yang bahagia dan jatuh cinta lagi. Saya tidak pernah berharap bahwa saya akan bertemu dengan seseorang secepat ini dan bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. Saya tidak tahu apakah kami akan bersama selamanya (siapa yang bisa tahu?) tapi saat ini semuanya luar biasa. Saya yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk saya.


Teman - teman saya bertanya apakah saya merasa bersalah atau aneh bersama dengan seseorang lainnya dan saya bisa bilang dengan jujur bahwa saya tidak pernah merasa bersalah. Saya tahu suami saya menginginkan saya bahagia. Saya tidak ingin buang - buang waktu. Jika ada satu hal yang saya tahu pasti saat ini, itu adalah bahwa hidup itu singkat dan waktu sangat berharga. Dan hal itu mungkin mempengaruhi hubungan yang baru saya bangun

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang