Seberapa berbedanya bahasa nasional Indonesia dan Malaysia?

Dilihat 578 • Ditanyakan 12 bulan lalu
1 Jawaban 1

Sebagai warga Indonesia, saya merasa masih banyak orang Indonesia yang belum begitu cakap dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentunya, faktor bahasa daerah bisa memengaruhi karena bahasa daerah itulah yang biasanya menjadi bahasa ibu setiap orang. Hasilnya, meski Bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa nasional, pada penggunaannya, banyak sekali orang yang tanpa sengaja mencampurnya dengan bahasa daerah, bahkan terkadang rancu dan mengira kosa kata bahasa daerah adalah kosa kata yang diakui sebagai Bahasa Indonesia, begitu pula sebaliknya. Terlebih lagi remaja Indonesia zaman sekarang juga terpengaruh oleh bahasa asing dan juga baha gaul yang menyebabkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar semakin menurun. Melihat dari akarnya, Bahasa Indonesia merupakan turunan dari Bahasa Melayu yang diakui sebagai bahasa nasional di Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia dan Malaysia, yang sama-sama menggunakan turunan Bahasa Melayu, memiliki kemiripan bahasa dalam beberapa aspek.




Berikut saya akan menjelaskan perbedaan bahasa nasional Indonesia dan Malaysia.


Perbedaan Bahasa Indonesia dan Malaysia


Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Malaysia untuk sementara waktu saya akan menyimpulkan kalau bahasa saling dimengerti satu sama lain, selama mereka tidak memakai bahasa gaul mereka. Bahasa nasional dari Indonesia dan Malaysia hari ini sebenarnya berdasarkan bahasa melayu yang dikembangkan di provinsi Johor-Riau di abad ke 18, tetapi di Indonesia, bahasa melayu sudah menjadi bahasa “nasional” belakangan ini. Di 1940 hanya sekitar 4% dari populasi berbicara bahasa ini, dan mayoritas luas bahkan tidak bisa bahasa ini. Tetapi bahasa ini sering digunakan di aktivitas perdagangan, khususnya di bandar perdagangan yang besar di mana yang disebut “bazaar Malay” dikembangkan, tapi setelah itu kolonialisme Belanda di Indonesia menstandarkan penggunaan bahasa melayu seperti dengan melayu di Johor-Riau. Tetapi ini berujung ke beberapa perbedaan dan variasi di kosa kata penggunaan Bahasa Indonesia. Saya akan membandingkan bahasa dengan frase berikut:


Indonesia: Saya tinggal di kota Singapura

Malaysia: Saye duduk dekat bandar Singapura


Menganalisa frasenya, kata “tinggal dan duduk” memiliki arti "hidup" di bahasa mereka, tapi di Indonesia “duduk” artinya meletakkan tubuh atau terletak tubuhnya dengan bertumpu pada pantat dan tinggal bisa berarti “hidup” atau “menetap”, sedangkan di Malaysia tinggal artinya hanya menetap. Dan kata “Di” artinya “di dalam” kebanyakan digunakan di frase formal di bahasa Malaysia, dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Kata “dekat” di Indonesia hanya berarti “jarak pendek”. Untuk menyimpulkan, sementara kedua bahasa ini berbagi kata-kata dan kosakata yang mirip, mungkin maksudnya tidak sama di kedua negara ini. Seperti satu jawaban yang sudah dibicarakan tadi. Tapi etnis melayu di Indonesia mungkin lebih kenal dengan kata-kata Malaysia dibandingkan etnis lain di Indonesia yang hanya kenal bahasa Indonesia.


Saya rasa sangat aneh untuk mendengar beberapa kata di bahasa Malaysia, yang sangat jarang digunakan di Indonesia atau di banyak kasus yang dipakai di seni literatur. Untuk Malaysia yang mendengar bahasa Indonesia mereka pastinya merasa hal yang sama. Mereka juga sangat dipengaruhi bahasa Arab, China, Portugis, dan India. Di kedua bahasa ini, karena Malaysia lebih islam, saya menyadari kalau ada lebih banyak bahasa serapan Arab di sana. Tapi perbedaan utamanya juga ada di penjajah yang ada di tanah mereka dan untuk beratus-ratus tahun sudah merubah budayanya. Bahasa Indonesia lebih memiliki banyak serapan dibandingkan Melayu, dengan sepuluh ribu kata yang dipinjam dari bahasa Belanda dan tambahan beberapa variasi dari tujuh ratus kata. Sebaliknya Malaysia meminjam kata dari Inggris (yang saya akui, membuat saya tertawa terbahak-bahak saat berhadapan untuk pertama kalinya), contoh kata yang artinya sama akan menjadi sesuatu seperti berikut:


Malaysia:

- stesyen

- muzium

- parking

- universiti

- sinki (English: Sink)

- chesnut

- polis (English: police)

- farmasi (English: Pharmacy)


Indonesia

- stasiun

- museum

- parkir (Dutch: parkeer)

- universitas (Dutch universiteit)

- wastafel (Dutch: wastafel)

- kastanye (Dutch: kastanje)

- polisi (Dutch: politie)

- apotek (Dutch: apotheek)


Beberapa nalar juga dipengaruhi oleh penjajahnya. Di beberapa hal juga beberapa kata yang memiliki kata Melayu, di Indonesia diganti oleh Belanda seperti: Kamar (Belanda: kamer, Malaysia: bilik). Tapi semenjak Belanda dan Inggris berbagi latar belakang, Jerman, ada kata yang dirasa mirip tapi tidak selalu bisa dibilang mirip. Saat berbicara Malaysia juga memiliki kecenderungan mencampur bahasa inggris dengan Melayu, seperti mengganti kata “awak” atau “aku” dengan inggris “i”, dan “kau” atau “kamu” dengan “you”, dan sebagainya. Di beberapa bagian sejarah Indonesia, kita dulu memakai ejaan Belanda seperti 'tj' dibaca 'C', atau 'dj' dibaca 'J', dan lain-lain, hal itu diputuskan oleh diktator kita dulu Suharto di 1980 kalau itu tidak baik bagi Indonesia untuk mengingat penjajah. Kesepakatan dibuat oleh kedua negara untuk menstandarkan bahasa dan pemakaiannya, yang berujung beberapa pergantian di kosakata. Tapi belakangan ini saya mendengar lebih banyak orang Indonesia yang berpikir keren untuk mencampur inggris dengan bahasa di Jakarta, sehingga mengurangi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.




Juga pertimbangkan kalau Malaysia memiliki jumlah banyak dari etnis Cina dan India di negaranya, variasi di bahasa Malaysia beralih ke tingkat lain. Malaysia biasanya menggunakan kata “ha” untuk “iya”, di mana di hokkien dan Tamil yang artinya “iya”. Bahkan di Bahasa Inggris Malaysia, kamu akan mengetahui kalau ada banyak bahasa gaul yang dipakai seperti “lah", "loh", "ya meh?", "can ah?”, dan lain-lain, tetapi yang mencampur ini biasanya orang Cina. Indonesia juga memiliki beberapa variasi bahasa gaul seperti “lah", "mah", "loh” (karena komunitas hokkien), tapi mereka biasanya memiliki ekspresi yang berbeda.


Saya juga menemukan kalau di Sabah dan Sawarkian, cara bicara mereka lebih seperti orang Indonesia saat berbahasa Melayu dibandingkan yang hidup di Peninsula. Yang dibicarakan di peninsula lebih mirip dengan yang tinggal di Riau dan kepulauan Riau, mungkin dari hubungan sejarahnya seperti kesultanan Maluku-Johor sebelum akhirnya berpisah di abad 19. Ini kebanyakan termasuk akhiran “e” yang digunakan untuk menggantikan bunyi “A” di akhir kata seperti, “kemana” yang dibaca “kemane”. “R” lebih banyak digunakan di Indonesia dibandingkan di Melayu, dan Bahasa Indonesia biasanya dibaca seperti yang ditulis dibandingkan Bahasa Melayu.




Kedua negara dimiliki oleh budaya yang berbeda dan pengaruh yang berbeda, dan bahasa akan terus berkembang di jalan yang berbeda. Tidak mengejutkan kalau secara umum akan mirip dengan Inggris akan mirip dengan Inggris di Amerika, kedalaman yang sudah dijelajahi sebenarnya lebih memperlihatkan detil yang menarik yang berhubungan dengan sejarah. Namun, sebagai warga Indonesia, ada baiknya kita lebih melestarikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena bagaimana pun, bahasa itu adalah identitas sebuah negara. Jika warga Indonesia sendiri tidak bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik, bagaimana kita bisa menyebut diri kita sebagai warga Indonesia.

Terjawab 11 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang