Seperti apa kehidupan di Indonesia saat era 90an?

Dilihat 1,46 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Seperti apa rasanya hidup di Indonesia saat era 90an? Yah, kami baru saja memiliki stasiun TV pertama milik sendiri (dimiliki oleh salah seorang anak Suharto) yang memulai siaran-berlangganannya di tahun 1989, sebelum akhirnya berubah menjadi siaran umum di tahun 1992. Sebelumnya, kami hanya memiliki stasiun TV yang dimiliki oleh pemerintah yang digunakan sebagai channel propaganda sepanjang waktu.

Oleh karenanya, kemunculan stasiun TV baru merupakan sebuah kejadian yang menggembirakan karena itu pertama kalinya kami dapat memindah ke channel lainnya; terutama saat channel pemerintah menjadi terlalu membosankan dan repetitif. Bahkan sang pembaca beritanya pun terlihat bosan. Sebenarnya segmen "Dunia Dalam Berita" (World in News) pada pukul 21:00 setiap malam itu adalah yang paling tidak membosankan dari semuanya. Meski siaran biasanya berakhir pada pukul 00:00.

Kemudian disusul oleh kemunculan beberapa stasiun TV lainnya pada beberapa tahun kemudian, mengubah ruang tamu para keluarga Indonesia selamanya; ketika seseorang memegang remote kontrol TV secara otomatis memiliki kuasa untuk memindah channel untuk ditonton - seringkali membuat anggota keluarga yang lain tidak setuju.


Golkar memenangkan mayoritas suara di pemilihan legislatif tahun 1992. Sama sekali bukan kejutan. Saat itu saya duduk di bangku SMA tapi belum cukup umur untuk memberikan suara. Namun, saya masih ingat sehari persis sebelum hari pemungutan suara, guru-guru meminta para muridnya yang sudah layak untuk memberikan suaranya untuk memilih partai tertentu karena mereka takut kehilangan pekerjaan mereka, atau yang lebih buruk, bahwa sekolah kami mungkin akan diturunkan tingkatannya dan menerima dana yang lebih sedikit jika Golkar kalah pada wilayah sekolah kami.


Dua tahun kemudian, saya sudah menjadi seorang mahasiswa di Jatinangor, Jawa Barat. Komputer notebook dan telepon seluler merupakan barang mewah yang hanya dimiliki anak-anak orang kaya, jadi kami harus membawa mesin ketik kami sendiri ke kampus. Membawa mesin ketik seberat 5kg dari rumah ke ruang kelas dulu itu tentu saja sangat (tidak!) menyenangkan. Oh, dan alih-alih telepon seluler, kami memiliki barang kecil ini yang disebut "pager". Cukup murah untuk ukuran mahasiswa - banyak yang mempunyai satu. Saya menyewa kamar yang nyaman dan bersih, cukup kecil (2 x 4 m) tapi ada kamar mandi di dalamnya seharga 600.000 Rupiah (sekitar 43 US$) per tahun. Sekarang, kamar yang sama harganya akan 2 hingga 3 kali lipat untuk tiap bulannya.


Internet saat itu adalah "sesuatu yang sedang hot" di tahun 1995. Saya masih ingat kafe internet yang pertama kali saya kunjungi saat itu. Halaman pertama yang ingin saya buka adalah situs perusahaan gitar elektrik yang makan waktu lama sekali untuk loading menggunakan koneksi modem dial-up di kafe tersebut. Dan saat itu harganya juga cukup mahal: 10.000 Rupiah untuk satu jam, sedangkan makan dan sebotol teh saja bisa hanya 2.000 Rupiah. Dan juga, internet merupakan barang mewah lainnya yang luar biasa untuk dimiliki - jika seseorang mampu - tapi saat itu tidak begitu penting.


Tahun 1997, pemilihan umum lagi. Kali ini saya layak untuk memberikan suara dan terdaftar di kota asal saya di Jakarta. Jadi saya pulang ke rumah, dan saya diberitahu hal yang sama seperti lima tahun sebelumnya: Pilih Golkar, atau anda akan terkena masalah. Hasilnya, Golkar memenangkan mayoritas lagi, yadda, yadda, yadda....Dan kemudian krisis finansial Asia menghantam. Keras. Perekonomian hampir tergerus hingga terhenti, harga-harga melambung tinggi hanya dalam beberapa bulan, bisnis-bisnis bangkrut, dan begitu banyak orang keluar dari pekerjaan. Ilusi kemakmuran yang dibangun Suharto telah sirna. Banyak hal buruk yang terjadi bahkan hingga beberapa tahun setelahnya, banyak yang dulunya karyawan harus mengais sampah demi menghidupi dirinya.


Dari arsip pribadi: Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah, Jawa Barat sekitar tahun 1999/2000.

Ada jurang yang dalam antara bagian depan dan belakang serta asap dari sebagian sampah yang terbakar yang membuat atmosfer terlihat berkabut. Sering terjadi kecelakaan dan banyak pemulung harus mati terkubur hidup-hidup di bawah tumpukan sampah. Tempat pembuangan itu sekarang ditutup setelah bencana longsor sampah pada 21 Februari 2005, yang mengubur 71 rumah di desa terdekatnya dan membunuh 143 orang.


Dan kemudian muncul protes mahasiswa. Pemerintah meresponnya dengan keras, mencoba menekan demonstrasinya. Pada tanggal 12 Mei 1998, sekelompok tentara melakukan penembakan terhadap mahasiswa tak bersenjata di Universitas Trisakti, Jakarta, membunuh empat dan melukai lusinan lebih. Kejadian ini memicu satu momen tergelap dalam sejarah Indonesia yang kebanyakan mengincar orang-orang Cina Indonesia.

Saat itu saya sedang berada di kampus ketika saya mendengar beritanya. Kami telah memprotes hampir setiap hari beberapa waktu sebelumnya namun kabar itu menguatkan tekad kami untuk turun ke jalan dan berdemo setiap hari meminta agar Suharto diturunkan. Kami sadar akan risikonya karena sebagian teman mahasiswa kami telah menghilang. Kami memberanikan diri meski ada kemungkinan diluar sana ada beberapa moncong senapan milik para penembak jitu akan diarahkan ke arah kami.


Dari arsip pribadi: Seorang mahasiswa berjalan sendirian ke arah barikade polisi untuk bernegosiasi di depan para pendemo. Ini adalah persiapan untuk sebuah long march ke kota Bandung - sekitar 20 km lagi jauhnya. Foto diambil beberapa hari setelah kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.


Dari arsip pribadi: Tentara militer dan Polisi Indonesia - memakai pakaian anti-kerusuhan memblokir jalan menuju Bandung, Jawa Barat. Massa mahasiswa bisa terlihat di belakang. Foto ini diambil di hari yang sama dengan foto sebelumnya. Meski tidak patut dijadikan berita layaknya pendudukan mahasiswa di Gedung Perwakilan Rakyat di Jakarta, tapi kami masih menjadi bagian dari gerakan reformasi yang menurunkan kepresidenan Suharto.


Dan kemudian, selama mahasiswa berkumpul di Bandung, kami memiliki ikon yang keren untuk melambangkan permintaan kami. Yaitu ikon "Melawan Status Quo". Didesain oleh seorang mahasiswa dari jurusan Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Ada beberapa variasi yang bisa dilihat pada tweet penciptanya. Suharto turun, dan kami gembira sekali. Kami masih tidak yakin akan masa depannya, tapi setidaknya satu permintaan kami telah dilaksanakan. Sayangnya hal ini bukan berarti akhir dari jatuhnya korban karena beberapa bulan kemudian lebih banyak mahasiswa dan warga sipil yang menjadi korban dari peluru tentara yang dikenal dengan "Tragedi Semanggi" (Entri Wikipedia hanya dalam Bahasa Indonesia).

Akhir kepresidenan Suharto memberikan peluang bagi banyak partai politik bermunculan. Pada pemilihan legislatif tahun 1999, ada 48 partai politik - meningkat 16 kali lipat dari era Suharto - yang cukup, kebanyakan diantaranya tak mampu menarik banyak suara meski hanya satu kursi di parlemen.


Pada tanggal 20 Oktober 1999, Abdurrahman Wahid menjadi presiden pertama terpilih Republik Indonesia. Harga-harga komoditi dan tingkat pengangguran masih tinggi. Kroni-kroni Suharto masih berkuasa. Kami mengakhiri dekade 90an dengan optimisme sekaligus kegelisahan secara bersamaan.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang