Seperti apa rasanya jadi orang Indonesia yang tumbuh di negara lain?

Dilihat 1,56 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Setengah Indonesia setengah HK. Saya lahir di Jakarta, tapi saya menjalani hidup di Indonesia(Jakarta), Malaysia(Kuching), Hongkong SAR dan Inggris (Brighton, London). Saat saya berumur 18 saya tinggal beberapa bulan untuk bekerjaa di Russia (St. Petersburg), dan sekarang saya tinggal di Spanyol (Madrid). Sampai sekarang saya menganggap Inggris dan Indonesia menjadi bahasa sehari-hari, jadi ya, saya bisa ngomong bahasa Indonesia (Juga dengan Spanyol dan rusia yang lancar).


Saya bilang kalau saya bertumbuh di HK, tapi perlu dicatat kalau saya tidak pernah bersekolah di sana. Saya sekarang di Hong Kong, dan dari kecil kami menghabiskan wakttu libur di HongKong, jadi saya berkunjung kesana cukup lama. Saya tidak, tetapi, berbicara kanton, dan untuk alasan ini saya masih berasa asing di sisi keluarga hongkong. Ini sudah membuat saya dekat dengan sisi keluarga Indonesia dan green passport, dan untuk waktu lama saya menolak sisi HK dari diriku, hanya karena saya tidak mengerti bahasanya.


Sekarang beralih ke pertanyaan:

Yaa, saya masih kenal dengan negara asal. Fakta bahwa saya masih memegang passport hijau dan belum membuangnya adalah bukti ke itu.

Perasaan saya ke Indonesia melanggar logika, karena negara dengan perkembangan yang kurang dan dengan masalah banyak yang pernah kutinggali dan passport hijau adalah kerepotan. Ada saat dimana saya nangis saat mengisi aplikasi visa karena saya tahu kalau saya memperbarui kewarganegaraan Indonesia dan mendapatkan kewarganegaraan HK/Inggris salah satu dari hidup saya akan lebih gampang. Tapi tidak. Dengan mempercayai kalau suatu hari - suatu hari - saya akan senang untuk menjadi bagian dari negara yang akan terus bertumbuh dan berkembang, negara yang akan menjadi satu dari negara penting dan besar di Asia Pasifik. Saya masih berbicara bahasa Indonesia. Di masalah bahasa, Malaysia menyelamatkanku. Di Malaysia saya belajar lingkungan bilingual - kita ikuti sistem edukasi Inggris tapi juga ikut kelas bahasa Melayu, yang penuh dengan Indonesia dan kita harus ngomong dan nulis di bahasa Indonesia setiap saat, banyak dari guru saya yang kecewa. Di rumah kita ngomong bahasa Indonesia, Inggris, dan bangka (bahasa ibu). Saya baca dengan semangat di kedua bahasa dan saya masih melakukannya sekarang. Saya tidak begitu tahu bahasa yang lebih saya kenal (bilingual sempurna tidak ada, sebenernya), tapi kayaknya saya bisa mengekspresikan emosi saya lebih jelas di Indonesia, tapi pemikiran lebih ke Inggris.Saya bias kedua bahasa, tapi merasa kalau bahasa Indonesia lebih kaya emosi dan presisi dan inggris kurang, di mana Inggris lebih tajam di pemikiran intelektual.

Apakah aku mencari orang Indonesia yang lain? Tidak lebih dari saya mencari seseorang teman. Saya tidak suka dengan masalah diplomatik - saya harus lapor diri lebih dari yang bisa dihitung dan saya tidak pernah merasa enak saat gathering kedutaan. Saya juga cenderung lebih malu di antara keramaian dan tidak baik dengan kebudayaan ngumpul di Indonesia. Untuk alasan ini banyak orang Indonesia yang menganggapku tidak tertarik. Asosiasi siswa Indonesia sudah komplen kalau aku tidak memberikan usaha yang cukup untuk ngumpul di Indonesia, yang mana itu benar, karena aku tidak aktif mencari siapapun (ya, saya sangat introver). Dengan itu, saya selalu memiliki teman dekat Indonesia di negara yang aku tinggai … teman dari sekolah, universitas, keluarga, hidup, kesempatan … saya tidak mencarinya dengan aktif, tapi yang datang sangat bagus dan telah memperkaya hidu yang kukira mungkin.

Beberapa hal yang saya pelajari karena hidup multikultural:


Saya sangat, sangat mau Indonesia untuk membuat hukum dua kewarganegaraan. Saya rasa tidak adil untuk orang sepertiku - lebih dari 18 tahun dan lahir dari pernikahan campuraan - untuk tidak bisa mengambil kedua bagian identitas. HK tidak mau memproses aplikasi untuk passport karena basis sanguinis sampai mereka melihat penolakan dari kewarganegaraan Indonesia (HK mengakui dua kewarganegaraan tapi mereka tidak mau mengganggu Indonesia karena hubungan diplomatik yang kuat), yang mana, sebagaimana yang telah ditulis, saya sangat enggan untuk melakukan itu. Dan saya pernah tinggal di Inggris sudah cukup lama untuk merasakan inggris dan saat waktunya tepat saya ingin bisa klaim ini bagian dari identitas juga. Tapi ga bisa, karena Indonesia.

Saya sudah mendapat apresiasi yang dalam untuk bahasa asing. Saya sekarang belajar Armenia, Jepang, Kanton, dan Mandarin. Saya harap suatu saat dapat belajar bahasa Arab, Persia, Hindu, dan Jerman. Saya tidak mau tempat lahir menjadi masa depan saya, dan saya percaya kalau semakin banyak bahasa yang diketahui, semakin banyak pintu yang kamu buka.Satu dari alasan mengapa saya kesusahan untuk berinteraksi dengan yang Indonesia ‘murni’ karena mereka hidup di satu negara dan, memiliki pengalaman hidupnya dikondisikan dengan satu negara. Ini tidak hanya ke orang Indonesia saja, karena saya memiliki kesusahan mendapat waktu untuk berteman dengan siapapun dengan pengalaman yang terbatas pada satu negara saja. Teman baikku termasuk Jawa-Sunda budaya ketiga dan Filipin-Kuwaiti budaya ketiga. Saya rasa anak budaya ketiga cenderung membelok ke arah lain karena memiliki pengetahuan yang terbagi-bagi dari bagaimana rasanya tinggal jauh dari negara asalnya.

Pendeknya, Saya cinta Indonesia, saya menganggap diri saya Indonesia, tapi tidak hanya datang dari sana. Saya datang dari banyak tempat yang telah membuat saya menjadi diri saya.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang