Seperti apa rasanya menjadi orang ateis di Indonesia?

Dilihat 1,15 rb • Ditanyakan 9 bulan lalu
2 Jawaban 2

aku sih di jadiin bercandaan seringnya, 


terus juga susah cari sesama ateis buat jadi pasangan, karena setiap pacarku selalu meyakinkan aku buat percaya lagi sama tuhan, jadi lebih banyak mendebatkan ke- ateisan ku dibanding ngejalanin indahnya relationship haha.


lucunya, ada juga temen yang aku cukup bilang "aku atheis" dia langsung menjauhiku tanpa kabar, kayak aku tuh serial killer gitu ya.

Beda sama temanku yang beneran temen, mereka mencoba menguji ke atheisan ku yang katanya takut cuma sesaat aja dan nanti jadinya di laknat tuhan, dan saat aku bisa meyakinkan mereka kalau pilihan aku tuh udah final, mereka nerima aku kok seperti biasa, kecuali ngajak ibadah aja yang engga~ 


jadi ateis di indonesia itu, perlu banyak support dari sesama ateis lainnya.

Terjawab 5 bulan lalu

                            atheis

Atheis adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap theis. Pada zaman Yunani Kuno, kata sifat atheos berasal dari awalan a + (ditambah) theis yang berarti Tuhan, jadi atheis adalah tak bertuhan. Kata ini mulai merujuk pada penolakan tuhan yang disengajakan dan aktif pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa" yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan.


Secara luas pengertian atheis adalah tidak adanya kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan atau dewa-dewa (lack of belief in god(s)). Biasanya secara umum Tuhan yang dimaksud di sini adalah sosok Tuhan berkepribadian (personal god) seperti misalnya yang digambarkan oleh agama-agama samawi/Abrahamik seperti Yahudi, Kristen, Islam, dan lain sebagainya, yang menggambarkan Tuhan sebagai mahluk maha kuasa, tidak terlihat, berkehendak, mengatur takdir, dan lain sebagainya.


Orang yang pertama kali mengaku sebagai atheis muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai atheis, manakala 11,9% mengaku sebagai nontheis. Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai atheis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48% nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia). 


Pada kebudayaan barat, pengertian atheis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama (ireligius). Beberapa aliran agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah 'Tuhan' dalam berbagai upacara ritual, namun dalam agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana. Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik. Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai atheis cenderung kepada filosofi sekuler seperti humanisme, rasionalisme, dan naturalisme, tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua atheis. 


Beberapa ambiguitas dan kontroversi yang terlibat dalam pendefinisian atheis adalah terletak pada sulitnya mencapai konsensus dalam mendefinisikan kata-kata seperti dewa dan tuhan. Pluralitas dalam konsep ketuhanan dan dewa menyebabkan perbedaan pemikiran akan penerapan kata atheisme. Dalam konteks theisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada Tuhan monoteis, orang-orang yang percaya pada dewa-dewi lainnya akan diklasifikasikan sebagai atheis. Sebaliknya pula, orang-orang Romawi kuno juga menuduh umat Kristen sebagai atheis karena tidak menyembah dewa-dewi paganisme. Pada abad ke-20, pandangan ini mulai ditinggalkan seiring dengan dianggapnya theisme meliputi keseluruhan kepercayaan pada dewa/tuhan. Bergantung pada apa yang para atheis tolak, penolakan atheisme dapat berkisar dari penolakan akan keberadaan tuhan/dewa sampai dengan keberadaan konsep-konsep spiritual dan paranormal seperti yang ada pada agama Hindu dan Buddha.


ATHEIS DI INDONESIA


Apa saja hal-hal yang menghalangi faham atheis di Indonesia? Berikut penjelasannya :


Atheis adalah hal yang tidak umum dan sangat jarang terjadi pada penduduk Indonesia, terutama karena besarnya stigma sosial yang melekat dengan menjadi seorang atheis di Indonesia. Tidak ada undang-undang yang secara resmi melarang seseorang menjadi atheis. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan penduduk yang beragama, seorang atheis akan terkendala dalam memenuhi kewajiban administratif, misalnya dalam pengurusan dokumen kependudukan, dan pernikahan. Penyebar atheis juga bisa dikenakan sanksi menurut undang-undang pidana yang berlaku di Indonesia. 

Sejak awal berdirinya bangsa ini, agama dan keyakinan yang hidup di Indonesia menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter bangsa. Agama memainkan peranan penting dalam kehidupan rakyat Indonesia. Atheisme tidak diakui di Indonesia karena tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Di Indonesia, agama berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Seperti dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa "tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya" dan "menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya". Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni : Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu.


  agama di indonesia

Oleh sebab itu, Pancasila sebagai landasan ideologis negara pada sila pertama menyatakan bahwa Indonesia berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya : percaya dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Dengan kata lain, secara ideologi setiap warga negara Indonesia diwajibkan untuk percaya dan takwa kepada Tuhan dan memeluk suatu agama.


Tidak ada hukum ataupun undang-undang Indonesia yang secara tegas melarang ataupun menentukan sanksi bagi seorang atheis. Namun, dengan menjadi atheis di Indonesia akan berdampak terhadap pemenuhan hak-hak dan kewajiban seseorang di mata hukum, misalnya : 


  • Kesulitan dalam pengurusan dokumen-dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk, yang mengharuskan pencantuman agama, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Oleh sebab itu, atheis di Indonesia tetap diwajibkan untuk mencantumkan agama tertentu dalam dokumen kependudukannya untuk memenuhi persyaratan administratif.
  • Juga dalam masalah perkawinan; menurut undang-undang perkawinan di Indonesia, perkawinan hanya sah jika dilakukan menurut hukum dari masing-masing agama yang dianutnya, sehingga seorang ateis kesulitan dalam memperoleh hak yang sama seperti yang dimiliki oleh penduduk yang beragama.
  • Meskipun seseorang tidak dikenakan sanksi atau hukuman karena menjadi seorang ateis, penyebar ateisme di Indonesia dapat dikenakan sanksi pidana, sesuai dengan Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang menyebutkan: "Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun bagi barang siapa yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan yang Maha Esa."

         peta agama di indonesia


Pada akhirnya untuk dapat menikmati semua haknya sebagai warga negara harus menundukkan diri pada suatu agama atau kepercayaan yang diakui di Indonesia. Meskipun, pada praktiknya penundukkan diri tersebut hanyalah sebagai penyelundupan hukum yaitu para penganut ateisme tidak benar-benar menganut agama atau kepercayaan yang dicantumkan dalam identitas kewarganegaraannya (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, dan lain-lain).

Di Indonesia, bukan tentang agama yang paling benar yang menentukan keberadaan kita. Tetapi cara bersatu dengan Tuhan. Bersatulah dengan Tuhan, melalui Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha ataupun Khonghucu: menurut keyakinanmu sama seperti saudara kita yang tidak mengenal Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha ataupu Khonghucu, tapi menurut keyakinan mereka. Betapa dahsyat-Nya Sang Khalik, yang memberi kita keanekaragaman.

Terjawab 8 bulan lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang