Seperti apa rasanya menjadi seorang lelaki Sikh yang memotong rambut dan/atau kumisnya?

Dilihat 1,32 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Saya memotong rambut saya ketika berumur tujuh tahun. Saya dan kakak saya memotong rambut kami pada hari yang sama. Kami sangat takut melihat reaksi kakek dan nenek kami ketika kami mengunjunginya pada musim liburan dengan orang tua kami dan setuju untuk membiarkannya selama beberapa minggu untuk melihat reaksi mereka.Kami tidak yakin mereka akan mau berbicara lagi dengan kami, tapi setelah beberapa bulan, kami berhasil menenangkan mereka. 


Untuk menghindari adalah komentar - komentar yang tidak baik, saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang biasa ditanyakan kepada saya mengenai pengalaman saya memotong rambut dan mengubah gaya rambut


T: Bagaimana rasanya punya rambut yang sangat panjang?


J : Sejujurnya, sulit untuk mengurusnya karena rambut saya sepanjang mata kaki dan butuh waktu yang sangat lama untuk mencuci dan mengeringkannya. Masalah selanjutnya adalah ketika ibu saya mengikat sorban saya setiap pagi. Untuk melakukannya, dia harus melipat rambut saya terlebih dahulu, yang kemudian akan diikat ke simpul yang besar dan menutupnya dengan sorban. Mengenakan sorban selama 12 bulan terakhir rasanya aneh, karena saya sedang mengalami pubertas dan menyadari bahwa gaya rambut saya sangat berbeda dengan teman - teman sekelas


T : Kenapa dulu kamu memotong rambutmu?


J : Selama berbulan - bulan, saya mengeluh kepada ibu saya dalam perjalanan pulang dari sekolah mengenai betapa sulitnya pergi ke sekolah di Inggris sambil mengenakan sorban. Saya akui bahwa kadang saya agak melebih - lebihkan kesulitannya karena saya benar - benar ingin memotong rambut saya. Salah satu teman keluarga kami yang merupakan orang pertama di kelompoknya yang memotong rambut dua tahun lalu mengalami peningkatan dalam kepercayaan dirinya setelah dia tidak lagi mengenakan sorban. Saya ingin seperti dia. Saya hampir tidak menyadari bahwa sebagian besar dari rasa tidak percaya diri yang saya alami berasal dari berbagai masalah yang saya hadapi sendiri. Tapi saya ingin meyakinkan diri saya bahwa semua masalah tersebut adalah karena gaya rambut saya. 


T : Bagaimana rasanya ketika kamu pertama kali potong rambut?


J : Kata aneh tidak cukup untuk mengungkapkannya. Saya masih ingat ketika tukat potong rambut memotong seikat rambut saya yangpanjang. Anehnya, ibu saya masih menyimpan potongan rambut tersebut. Selama beberapa tahun, rambut saya yang baru dipotong terlihat seperti sebuah wig yang jelek! 


T : Bagaimana kamu menyakinkan kakek - nenekmu untuk menerikan keputusanmu?


J : Ketakutan tersebut mereka adalah kalau saya dan kakak saya memotong rambut kami, kami akan terputus dari budaya Sikh dan menjadi kebarat - baratan. Untuk menangkal kekhawatiran tersebut, orang tua kami berjanji bahwa kami akan mengunjungi tempat penyembahan lokal setiap minggu. Awalnya kami memang melakukannya tapi lama - kelamaan kami kembali ke kebiasaan lama dan hanya mengunjunginya setiap bulan. Hal yang paling janggal bagi saya adalah ketika mengunjungi tempat penyembahan pada suatu acara besar dengan rambut saya yang baru dipotong. Semua orang memandangi saya dan kakak saya, para orang tua memandangi kami dengan pandangan yang melecehkan, tapi kami berdua saling membantu untuk melewatinya dengan baik. 


T : Apakah kami menyesal memotong rambutmu?


J : Tidak. Sejujurnya, saya berpikir saya seharusnya melakukannya sejak lama. Saya seorang ateis yang agnostik, jadi menuruti perintah yang tidak saya percaya adalah hal yang tidak masuk akal. Saya masih memiliki rasa hormat terhadapt orang - orang dan kebudayaan dari agama saya, tapi saya lebih tertarik untuk melihatnya dari segi kebudayaan dibanding dari segi agama. 


Kalau masih ada pertanyaan yang ingin kamu ajukan,tanyakan saja dan saya akan menjawabnya.


Terjawab lebih dari 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang