Seperti apa rasanya tinggal di Aceh?

Dilihat 4,23 rb • Ditanyakan lebih dari 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Tinggal di Aceh, bagi banyak orang memang terdengar menyeramkan. Aceh dikenal sebagai provinsi yang sangat Islami, apalagi ditambah pemberitaan media tentang Aceh jarang sekali tentang hal baik. Biasanya pemberitaan tentang Aceh hanya seputar hukum syariah, pencambukan, pemerkosaan, atau bencana alam.


Namun apakah benar Aceh memang seperti itu?


Kebudayaan Aceh sangatlah unik, terutama budaya ngopi mereka. Lalu suku Aceh juga tak kalah beragamnya dengan suku dari provinsi lain. Agar tidak salah kaprah dan takut yang tidak beralasan, mari simak cerita di bawah ini!



Pengalaman Tinggal di Aceh



Seorang insinyur pernah berbagi beberapa cerita tentang pengalamannya tinggal di Aceh selama sekitar dua bulan pada tahun 2015 dan menjelaskan beberapa pandangan yang salah. 


Simaklah ceritanya di bawah ini:


Dikatakan sebagai provinsi Indonesia yang "paling Islami", ada pemikiran hampir di seluruh wilayah Indonesia bahwa saat ini orang suku Aceh hidup di bawah pemerintahan seperti Taliban. 


Yaa, membandingkan Aceh dengan Taliban itu sangat berbeda jauh. Kotanya bertumbuh dengan baik di sekitar Masjid Baiturrahman dan makam Katolik Belanda yang dikenal oleh lokal sebagai "kherkoff". 


suku aceh


Banda Aceh

Ibukota provinsi Aceh yang kecil dan bersih. Kota ini tumbuh dengan baik di sekitar Masjid Baiturrahman dan satu makam Katolik Belanda yang dikenal lokal sebagai "kherkoff". 


 Ada juga sisa-sisa dari kerajaan Islam dulu dan bangunan tua bernama Gunongan yang telah berusia 4 abad. Bangunan ini dibangun oleh Iskandar Muda untuk putrinya. Biasanya kamu tidak bisa masuk ke Gunongan, tapi kamu bisa 'menyuap' penjaga keamanan untuk membuka gerbangnya. 


Tidak seperti ibukota provinsi lainnya di Indonesia, Banda Aceh tidak banyak mall-nya. Hanya ada Mall Hermes Palace dan Mall Suzuya yang termasuk kecil untuk ibukota provinsi. 


Jadi, apa yang dilakukan oleh para pemuda dan remaja? 


Mereka biasa berkumpul di kedai kopi. Kedai kopi di Banda Aceh ada lumayan banyak, ada di sepanjang sungai Krueng Raya dan selalu ramai. Di sana, "budaya ngopi" itu sudah tertanam sebagai kebiasaan mereka, sudah termasuk dalam kebudayaan Aceh


Banda Aceh berhubungan baik dengan Jakarta, Medan, dan Kuala Lumpur. Di sana ada penerbangan langsung ke kota-kota tersebut dan ada banyak turis, terutama ketika libur panjang. 


Banda Aceh tampak seperti kota kelas tiga lainnya di Indonesia, tapi satu hal yang berbeda adalah banyaknya jumlah papan-papan dan tulisan berbahasa Arab, dan kamu bisa menemukannya di mana-mana.


Jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Sumatera, Aceh dan Bengkulu termasuk sangat tertinggal perkembangannya. Tapi kita harus menghargai upaya dan keberhasilan mereka untuk bangkit dan membangun kota setelah bencana tsunami 2004.


kebudayaan aceh

Sabang

Sabang adalah titik paling Barat Indonesia dan juga sebagai 'penjebak turis' nomor satu di Aceh. Kota ini sangat dikenal oleh turis lokal karena ada "Monumen Nol Kilometer" yang menjadi objek foto yang keren. Setelah kamu mengunjungi monumen ini, kamu akan diberi sertifikat pengakuan. Beneran, deh. 


Kota Sabang ini diduduki hanya oleh sekitar 20.000 penduduk, angka yang sangat kecil untuk sebuah kota. Dan mereka mempunyai komunitas Tionghoa yang besar yang bermukim di pusat kota. Kebanyakan dari mereka menjalankan bisnis seperti hotel dan toko-toko kecil di sekitar Jalan Perdagangan. 


Bagaimana dengan Hukum Syariah? 


Sejauh yang kutahu, Sabang itu lebih kendur pelaksanaannya. Sekitar pantai Iboih, contohnya, orang asing yang meminun bir dan berkeliling telanjang tidak kena masalah apapun.


suku aceh


Bireuen


Kota ini menarik. Dulu dikenal sebagai pusat konflik TNI-GAM pada awal 2000-an. Aku bertemu banyak orang di kota ini dan bertanya bagaimana pengalaman mereka langsung saat era konflik tersebut. Konflik tersebut sangat menakutkan. Mereka mengatakan padaku kalau penembakan terjadi setiap di kota. Bireuen adalah kota kecil, terletak di pantai timur Aceh. 


Kota ini dulunya adalah salah satu dari empat kota yang pernah menjadi ibukota Indonesia (yang lainnya itu Jakarta, Yogyakarta, dan Bukittinggi). Bireuen dinyatakan sebagai ibukota sementara selama satu minggu ditahun 1948. Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu akan ini. 


Pengalamanku di kota ini sedikit gila. Temanku menghabiskan setiap sore menghisap ganja. Itu sudah lumayan umum untuk remaja disini untuk menghisap ganja, bukan rokok. Biasanya mereka menyembunyikan daun ganja di bawah tempat tidur mereka. 


"Cukup pastikan untuk membersihkan semuanya ketika ibuku datang," katanya. 


Tapi untukku, hal terbaik di Bireuen itu gulai itiknya. Itu adalah makanan terenak yang kurasakan dalam kunjunganku ke Aceh. Cobalah.


suku aceh


Jantho

Jantho adalah ibukota kabupaten Aceh Besar. Aku tidak bisa bicara banyak tentang kabupaten ini, tapi mereka memiliki tempat sejarah yang menarik, seperti benteng Iskandar Muda, benteng tua Hinda, dan makam Malahayati.


Malahayati itu dikenal sebagai seorang janda yang memimpin Inong Balee (pasukan wanita) dan membunuh Cornelis de Houtman. Sayangnya, kebanyakan peninggalan ini tidak dirawat dengan baik.


suku aceh

Takengon

Terletak di pedalaman di dataran tinggi Gayo, ini ada kota favoritku di Aceh. Kota ini terletak disebelah Danau Lut Tawar ('lut' artinya laut) dan memiliki iklim yang nyaman sepanjang tahun. 


Takengon dihuni oleh suku Aceh Gayo, yang menyatakan bahwa mereka berbeda dari suku Aceh lainnya. Orang-orang suku Gayo berbicara dengan bahasa yang berbeda dan memiliki beberapa adat yang berbeda pula. 


Ada satu kejadian ketika orang Aceh mencoba melegalisir bendera GAM (Gerakan Aceh Merdeka), orang-orang suku Aceh Gayo mencoba sangat kuat untuk melawan mereka. Kenyataan ini tidak diketahui banyak orang. 


Gayo terkenal akan kopi mereka.  Kebanyakan orang Gayo bekerja sebagai petani penanam kopi. Jangan kaget kalau ada ratusan toko kopi di kota kecil ini. Lebih dari Banda Aceh, Takengon memiliki budaya ngopi yang sangat kuat yang tertanam sebagai kebiasaan mereka. Oh iya, dan Takengon ada acara pacuan kuda juga. Bahkan ada semacam wabah judi dalam musim pacuan kuda, tapi sudah dilarang pemerintah.


suku aceh


Apakah perempuan di Aceh harus menutupi seluruh tubuh mereka? 


Apakah orang Aceh harus menjaga jarak kedekatan dengan jenis kelamin berbeda? 


Apakah orang Aceh menghidupi keseharian mereka dibawah peraturan agama yang sangat ketat? 


Teorinya, iya. Tapi kenyataannya, tidak juga. Sekelompok pria dan wanita bersenang-senang di sore hari bermain tarik tambang. Sama seperti orang Indonesia normalnya, beberapa wanita tidak menutupi kepalanya dan tidak ada yang terganggu tentang jarak kedekatan antar jenis kelamin berbeda. 


Dan di pantai, sekelompok pria iseng dengan temannya dengan menuangkan pasir ke atas kepala perempuan. Tidak ada yang menutupi kepalanya. Lagi, Aceh itu bukan Taliban. Memang ada peraturan edan yang muncul terkadang dan membuatnya menjadi pokok berita. Tapi cukup sampai situ saja.



--


Beberapa penjelasan di atas memang diceritakan pada 2015 dan pasti banyak hal sudah terjadi hingga saat ini, pasti ada perubahan. Namun bisa dipastikan bahwa perubahan tersebut tidak akan terlalu signifikan.


Selain itu, pemberitaan media tentang hal buruk di Aceh mungkin benar, tapi tentu hal itu tidak terjadi di segala penjuru, bukan? Sama seperti kota lainnya, musibah, tindak kejahatan, dan kriminalitas dapat terjadi di mana saja.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang