Seumpama jika "Tuhan" meninggal dan "jenazah"nya berada di bumi. Bagaimana hal in bisa berdampak pada filosofi dan agama di seluruh dunia?

Dilihat 2,98 rb • Ditanyakan sekitar 2 tahun lalu
1 Jawaban 1

Kalau hal ini dapat dibuktikan, maka itu akan sangat mempengaruhi mereka, karena beberapa agama modern mempercayai hal ini. Bagi agama Abrahamik, Tuhan itu hidup dalam bentuk dewa yang menciptakan alam semesta dengan kehendaknya dan terus menerus "mencampuri urusan manusia". Tuhan bukan jenazah, tapi menunggu para pengikutnya di surga. 


Apa yang kamu katakan sangat berhubungan dengan agama yang lebih tua. Suku Aborigin memiliki sejumlah mitos yang melibatkan kematian dari makhluk khayangan untuk menciptakan tata surya - misalnya telur emu terlempar ke atas menjadi matahari. Di dalam agama San, bayi Cagn yang baru lahir di bunuh dan darahny terpersik yang kemudia menciptakan hewan seperti ular. Mitologi Norwegia menceritakan bahwa Ymir diangkat dari laut - dagingnya menjadi buni dan tulangnya menjadi gunung. 


Contoh lainnya yang tidak kalah menarik dapat ditemukan pada mitologi Jepang. Deiwi Izanami melahitkan Kagutsuchi, Dewa api, tapi terbakar dalam prosesnya. Kematiannya memberikan kehidupan pada bumi dan dewa - dewa lain. Suaminya yang bernama Izangi membunuh Kagutsuchi yang darahnya menciptakan bimasakti. Mitos Babilonia lama mendeskripsikan penciptaan Tuhan dan alam semester dengan istilah kelahiran yang merupakan cara yang sama yang menyiratkan perubahan dari kehidupan ke dalam tubuh kosmologi. Di Afrika Tengah, Dewa Bumbo memuntahkan dunia. 


Mungkin contoh yang paling menarik dapat dilihat dari tradisi umat Hindu. Brahma merupakan penghancur dan pencipta - dia membelah dirinya menjadi dua untuk menciptakan laki - laki dan perempuan. Beberapa budya percaya bahwa segala hal berasal dari tubuhnya.


Jadi kita bisa melihat betapa darah, rasa sakit dan kematian merupakan elemen - elemen yang penting dari mitos penciptaan awal. Ini bukan hal yang mengejutkan bagi saya karena agama bukan hanya menjelaskan pertanyaan "darimana kita berasal", tapi juga "apa yang terjadi ketika kita meninggal".

Obsesi terhadap darah dan kematian tetap menjadi hal yang penting bahkan bagi agama modern. Dalam hal filosofi dan agama, kita dapat melihat bahwa ini bukan pemikiran baru. Siklus kematian/penciptaan dapat ditemukan dimana - mana - pada cerita Phoenix dan bahkan Harry Potter.

Umat Buddha sangat akrab dengan pemikiran tentang  kebangkitan. Bisa dibilang bahwa umat Hindu akan cukup mudah menyatukan pemikiran tersebut terhadap kepecayaan mereka saat ini. Alam semesta sebagai perwujudan dari Dewa yang sudah mati merupakan hal yang serupa.

Di dunia ini tidak ada sesuatu yang benar - benar baru. Bagi umat Muslim dan Kristen, bayangan yang spesifik mengenai siklus kematian dan penciptaan ini dapat dengan cepat membunuh agama. Bagaimana respon mereka sangat bergantung pada doktri seperti apa yang keluar dari penemuan yang baru dan bagaimana pemimpin agama mengatasi kontradiksi yang ada, tapi mereka tidak akan senang dengan hal itu. Saya rasa akan banyak perpecahan dan kekerasan.

Terjawab sekitar 2 tahun lalu
Kau memiliki jawaban yang lebih baik?
Tulis jawaban sekarang